Drama di Bandara Hong Kong: Ketinggalan Pesawat & Keajaiban Korea Air
Perjalanan kami ke Seoul hampir berakhir sebelum dimulai! Kesalahan membaca jadwal penerbangan nyaris membuat mimpi winter trip kami pupus.Setelah antri di counter check-in, petugas memberitahu: “Maaf, penerbangan Anda sudah berangkat jam tadi malam, bukan siang hari!”
Kami salah membaca format 24 jam – AM adalah “PM” siang hari.
Petugas Korea Air dengan ramah menjelaskan: Kami punya penerbangan ke Seoul jam 12:35 siang ini. Karena ini penerbangan DL7886 codeshare dengan Delta dan masih ada kursi, kami bisa pindahkan Anda tanpa penalty.”

“Kesalahan terbaik kami? Salah baca jadwal pesawat. Hasilnya? Dapat cerita seru dan keyakinan bahwa kemurahan hati itu nyata!”
Hari Pertama: First Snow & COEX Mall Exploration
Pesawat mendarat di Incheon saat matahari sudah mulai terbenam. Langit kelabu dan hawa dingin Februari langsung menyergap begitu kami keluar dari bandara. Dari Bandara kami langsung menuju hotel dengan airport bus yang berhenti langsung di depan hotel kami Seoul Riviera Hotel, 737, Yeongdong-daero, Gangnam-gu, Gangnam-Gu, 06071 Seoul, South Korea.

Setelah check-in, kami langsung pergi ke COEX Mall, yang tidak jauh dari hotel kami, untuk mulai explorasi kota Seoul. Tempat ini seperti labirin raksasa bawah tanah! Kami menghabiskan waktu menjelajahi toko-toko unik, dan terpesona melihat ikan-ikan tropis di COEX Aquarium.

Malam harinya, petualangan subway pertama kami berakhir di Dongdaemun. Dinginnya malam Februari sama sekali tidak menyurutkan semangat tempat ini. Begitu keluar dari stasiun subway, kami langsung disergap oleh energi urban yang tak pernah tidur – sebuah dunia paralel yang baru benar-benar hidup saat kota lain mulai terlelap.

Sensasi Jalanan yang Menggoda
- Aroma bawang putih dari stan tteokbokki bertabrakan dengan wangi manis hotteok di gerobak sebelahnya.
- Tukang odeng (fish cake) dengan kaldunya yang menggelegak terus mengaduk tusuk sate ikan, asapnya mengepul dalam udara 2°C.
Hari Kedua: Snow Play, Board Sliding & Bibimbap Hangat di Yangji Pine Ski Resort
Pukul 6 pagi, alarm berbunyi. Hari ini kami menuju Yangji Pine Ski Resort (용인 양지파인리조트) di Yongin! Perjalanan dengan bus grup kami warnai dengan foto-foto pemandangan pegunungan bersalju melalui jendela.

Begitu tiba, pemandangan langsung memukau: lereng-lereng putih dengan pemain ski yang meluncur anggun, pepohonan pinus yang tertutup salju, dan udara segar yang menusuk hidung. Karena kami pemula, kami memilih board sliding dulu sebelum berani mencoba ski.

Pengalaman Board Sliding Seru:
- Awalnya grogi saat berdiri di papan plastik besar itu
- Instruktur mengajarkan teknik duduk dan mengarahkan papan
- Sensasi meluncur turun sambil berteriak campur tertawa – ADRENALIN MAX!

Makan Siang Hangat dengan Bibimbab Autentik
Setelah bermain salju sejak pagi, perut kami sudah keroncongan. Kami pesan makanan lokal pastinya, dan mencoba bibimbab cumi pedas di kafetaria resort.

Jalan-Jalan Menikmati Salju Pertama
Dengan perut kenyang, kami melanjutkan eksplorasi:
- Berfoto dengan salju tebal pertama kami (ternyata teksturnya seperti gula halus!)
- Mencoba Churros dan makanan kecil lainnya, sambil menonton orang yang bermain ski.

Momen Tak Terlupakan:
Saat menemukan area hutan kecil di belakang resort. Sunyi, hanya ada suara salju yang remuk diinjak dan gemerisik angin di antara pepohonan pinus. Kami berdiam sejenak, menikmati ketenangan musim dingin Korea yang begitu berbeda dengan kota Jakarta.

Hari Ketiga: Menjelajahi Seoul – Istana, Hanbok, & Belanja Seru!
Pagi di Gyeongbokgung Palace
Kami memulai hari ketiga dengan mengunjungi Gyeongbokgung Palace, istana terbesar dan termegah di Seoul. Begitu tiba, kami langsung disambut oleh pemandangan gerbang Gwanghwamun yang gagah, dengan latar belakang pegunungan yang masih diselimuti salju tipis.

Momen Lucu Bertemu Anak-Anak Berhanbok
- Di tengah jalan, kami melihat anak-anak kecil mengenakan hanbok warna-warni yang sedang berjalan dengan orang tua mereka.
- Mereka terlihat menggemaskan seperti boneka kecil, dengan pipi merah karena udara dingin.
- Kami memberanikan diri untuk minta foto bersama, dan mereka dengan polosnya mengangguk sambil tersenyum.
- Hasil foto pun jadi kenangan terbaik dengan latar belakang istana yang klasik!

“Seoul bukan hanya tentang modernitas, tapi juga keindahan tradisi yang hidup.”
Setelah matahari terbenam, kami melanjutkan petualangan (lagi) ke Dongdaemun Market—kami belum puas dengan malam sebelumnya, karena kawasan yang benar-benar hidup di malam hari! Naik Subway Line 2 dari World Cup Stadium, kami tiba di Dongdaemun History & Culture Park Station saat lampu-lampu kota sudah mulai berpendar.

Berfoto di Heunginjimun Gate (Dongdaemun Gate)
Sebelum masuk ke keramaian pasar, kami menyempatkan diri berhenti di Heunginjimun Gate, gerbang kota tua Seoul yang berdiri megah sejak 1398.
Momen Foto Spesial:
- Gerbang bersejarah ini diterangi lampu kuning keemasan, kontras dengan langit malam yang gelap—sangat fotogenik!

Menyelami Dongdaemun Market yang Tak Pernah Tidur
Begitu masuk ke area pasar, kami disergap oleh:
Sensasi Visual:
- Lampu neon toko tekstil berkelap-kelip di gedung-gedung pasar modern yang namanya kami sudah lupa.
- Tumpukan kain dan baju warna-warni di toko grosiran yang tetap buka hingga malam hari.
Kuliner Tengah Malam
Lelah berbelanja, kami mampir ke restoran buka 24 jam di lantai dasar pasar dan pastinya yang kami pilih adalah makanan-makanan yang hangat-hangat dikala saat udara hari itu sangat dingin.

Di tengah hiruk-pikuk Jongno, jantung kota Seoul, berdiri sebuah bangunan sederhana namun sarat makna: Bosingak Bell Pavilion. Kami menyempatkan singgah di sini usai menjelajahi Dongdaemun, menyusuri jejak tradisi yang masih hidup di antara gedung-gedung pencakar langit.

Nama “Bosingak” berarti “Paviliun yang Menghormati Suara Ilahi”.
Hari Keempat: Jejak Urban Seoul dari Itaewon Hingga World Cup Stadium
Pagi: Sarapan & Persiapan
Kami memulai hari dengan sarapan hangat di hotel. Cuaca Februari pagi itu cerah, tapi udara masih menusuk tulang.

Perjalanan ke Itaewon:
Naik Subway Line 6, kami turun di Itaewon Station dan langsung disambut suasana multicultural.
Momen Spesial: Gerbang Biru Melengkung
- Di tengah jalan utama, kami menemukan gerbang biru futuristik yang menjadi landmark tak resmi Itaewon.
- Sambil menyusuri jalan sekitarnya, kami melintasi:
- Toko vintage dengan jaket kulit retro di etalase.
- Kafe-kafe kecil berdesain industrial, baumis kopi menggoda dari dalam.
Siang: Menyambangi Seoul World Cup Stadium (Area Luar)
Naik Subway Line 6 lagi menuju World Cup Stadium Station, perjalanan kali ini lebih singkat (~20 menit).

Setelah puas menjelajahi Itaewon dan World Cup Stadium, kami memutuskan untuk kembali ke COEX Mall sambil mencoba explore daerah sekitar Gangnam ini, kawasan Gangnam menjadi simbol kemewahan dan modernitas Seoul saat itu. COEX Mall, masih fokus sebagai pusat konvensi, ada Megabox Cinema dan kimchi museum.

Dari COEX, kami berjalan kaki 10 menit menuju Bongeunsa Temple, sebuah kuil Buddha yang tersembunyi di antara gedung-gedung pencakar langit Gangnam.

Patung Buddha Raksasa: Berdiri setinggi 23 meter, patung ini menjadi pusat perhatian. Kami sempat berfoto dengan latar belakangnya sambil melihat beberapa orang berdoa.

Puas dan kaki mulai capek mengeksplorasi kota Seoul hari ini, kami mendengar kabar bahwa sedang ada pameran LEGO World berskala besar di COEX Mall. Tanpa berpikir panjang, kami pun kembali ke COEX untuk menyambangi pameran temporer yang penuh warna ini!

“Pameran LEGO World ini jadi bonus tak terduga yang membuat trip kami makin berwarna—bukti bahwa Seoul selalu punya kejutan menyenangkan!”
Kami check-out dari hotel dan menuju bandara dengan airport bus yang lewat di depan hotel kami.
Pesawat Korean Air lepas landas hampir tengah malam. Dari jendela, kami melihat lampu kota Seoul seperti permata yang berserakan—pemandangan yang sempurna untuk mengakhiri perjalanan.
“Seoul, terima kasih untuk salju, tawa, dan semua cerita tak terduga. Kami akan kembali—mungkin di musim semi, saat bunga cherry bermekaran…”
Sampai jumpa lagi, Korea! ❤️🇰🇷