Jalan-Jalan ke Zhujiajiao: Cerita Nyasar Seru Kami di Kota Air Shanghai
Hai guys! Jadi, ini cerita tentang salah satu day trip paling random tapi berkesan pas kita lagi bingung mau ngapain saat weekend di Shanghai tahun 2009—kunjungan kita ke Zhujiajiao, si ancient water town Venice-nya Shanghai.

Waktu itu kita stay di area Pudong, Shanghai. Pagi-pagi, entah kenapa, kita kepikiran: “Yuk, cari suasana beda, ke kota air!”. Masalahnya? Kita nggak riset naik apa—akhirnya nekat naik taxi aja.
Jujur aja, alasan kita spontan memutuskan pergi ke Zhujiajiao waktu itu 100% gara-gara baru nonton Mission Impossible 3 (yang rilis 2006, tapi ya kita kan late bloomers). Waktu itu, kita masih euphoria liat adegan Tom Cruise lari-lari di atap rumah tua di kota air China, terus kepikiran: “Wah, itu lokasinya kayaknya enak buat explore!”.

Awalnya kita ngira adegan MI3 syuting di Zhujiajiao—soalnya waktu googling, muncul foto-foto kanal dan jembatan batu yang mirip. Ternyata… salah alamat! Lokasi aslinya di Xitang, kota air lain deket Shanghai.

Tapi ya sudahlah, namanya juga backpacker dadakan. Akhirnya kita gas aja ke Zhujiajiao.
Perjalanan: Antara Was-was dan Pemandangan Sawah Random
Sepanjang jalan, kita melewati pemandangan urban Shanghai yang pelan-pelan berubah jadi suburban… terus tiba-tiba ada sawah. Kita saling pandang: “Ini beneran jalan ke ancient city atau malah dibawa ke desa sebelah?”. Tapi ya sudahlah, trust the process.

Akhirnya, setelah 1.5 jam, kita nyampe! Begitu masuk, langsung disambut pemandangan kanal-kanal kecil dengan perahu tradisional. Jembatan batu, rumah tua, sama aroma street food yang mix antara manis dan asin—khas xiaolongbao sama stinky tofu!

Pas kita explore gang-gang kecil Zhujiajiao, mata kita langsung nyangkut di toko penduduk lokal yang jual makanan dibungkus daun. Bentuknya kayak paket kecil diikat tali, ada yang dikukus, ada yang dibakar. Aromanya? Wangi sedap campur earthy—kayak gabungan beras, daging, dan rempah, semua terkunci rapi dalam daun bambu atau daun lotus.

Ternyata, makanan itu namanya Zongzi—sticky rice dicampur daging, kacang, atau bahkan red bean paste, dibungkus daun bambu, lalu dikukus atau direbus. Versi Zhujiajiao punya ciri khas: lebih kecil dan padat dibanding yang biasa kita liat di resto Shanghai.
Zongzi Jadi Camilan Pinggir Kanal
Kita makan sambil duduk di tepi kanal, liat perahu-perahu lewat. Suasananya chill banget—angin sepoi-sepoi, air yang slow motion, ditambah gigitan Zongzi yang anget. Perfect combo! Sampe sekarang, kalo liat makanan dibungkus daun, langsung flashback ke Zhujiajiao.
Kita explore jalanan sempit. Highlight-nya? Pas nyebrang jembatan Fangsheng Bridge. Fangsheng Bridge itu jembatan batu lengkung terbesar di Zhujiajiao, dibangun zaman Ming. Pas kita dateng, suasana sekitar rame banget: ada turis foto-foto, pedagang asongan jajakan snack, dan pemandu perahu teriak-teriak nawarin tumpangan.
Filosofi Unik: Jembatan “Melepaskan Kehidupan”
Nggak cuma jadi spot selfie, Fangsheng Bridge ternyata punya makna spiritual. Namanya artinya “Jembatan Melepaskan Kehidupan”, karena dulu orang suka release kura-kura atau ikan ke kanal sambil berdoa di sini.

Masalah muncul pas mau balik: taxi nggak ada yang kosong! Kita muter-muter nyari pick-up point, hampir nyerah mau naik public bus .
Untungnya, dapat juga sopir taxi dan akhirnya kita selamat sampai home base.

Verdict: Worth It atau Nyesel?
100% worth it! Zhujiajiao waktu itu masih less touristy . Meskipun logistik berantakan, justru itu yang bikin ceritanya seru. Kalo lo ke Shanghai dan mau escape dari gedung-gedung pencakar langit, water town kayak gini wajib dicoba—tapi siapin map, biar nggak nyasar.
Jadi, meskipun mission awal kita gagal total, ujung-ujungnya malah jadi salah satu trip paling berkesan. Thanks, Tom Cruise, for the (misleading) inspiration!
#MI3Fail #ZhujiajiaoWins #ZongziSavesTheDay