Jelajahi Keajaiban Emei Shan dan Leshan

Hari Pertama

Perjalanan dari Chengdu ke Emei Shan: Kami memulai perjalanan dengan naik bus pagi dari Stasiun Bus Xinnanmen, Chengdu menuju Emei Shan. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 3 jam, memberikan kami kesempatan untuk menikmati pemandangan indah sepanjang jalan.

Harga Tiket: Harga tiket bus sekitar CN¥42 per orang

Check-in di Hotel: Emei Shan Grand Hotel

No.10 of Hot Spring Hotels in Mount Emei

No.322 Section 2 of Jingqu Road, Emeishan, Sichuan, 614201, China

Setelah tiba di Emei Shan, kami langsung check-in di hotel untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk pendakian esok hari. Kami bisa menikmati suasana tenang dan udara dingin di sekitar hotel dimana sangat dekat dengan pintu masuk Emei Shan.

Hari Kedua

Mulai Mendaki Emei Shan: Pagi-pagi sekali, Kami memulai pendakian ke Emei Shan. Gunung ini terkenal dengan keindahan alamnya dan merupakan salah satu dari Empat Gunung Suci Buddha di China.

Jalan Setapak dan Pemandangan: Selama pendakian, kami melewati berbagai jalan setapak yang indah, kuil-kuil kuno, dan pemandangan alam yang menakjubkan. Kami juga bisa melihat monyet-monyet yang berkeliaran di sekitar.

Mengunjungi Kuil-kuil: Di sepanjang jalan, kami berhenti di beberapa kuil terkenal sambil istirahat seperti Kuil Baoguo dan Kuil Wannian sambil menikmati arsitektur yang indah.

Emei Shan, atau Gunung Emei, adalah salah satu situs Buddha paling suci di China dengan sejarah yang kaya dan panjang.

Sejarah Awal

Asal Usul: Emei Shan telah dihuni selama sekitar 10.000 tahun. Pada abad ke-1 Masehi, seorang petani tanaman obat membangun kuil Buddha pertama di dekat puncak Jinding.

Perkembangan Buddha: Pada abad ke-3, bentuk Buddha Puxian yang didedikasikan untuk Bodhisattva menjadi dominan di gunung ini. Seorang biksu China bernama Huichi membangun kuil di kaki Teras Guanxinpo.

Periode Dinasti

Dinasti Tang: Pada masa Dinasti Tang (sekitar tahun 800 M), Emei Shan menjadi salah satu dari Empat Gunung Suci Buddha di China. Banyak kuil dibangun di sini, dan gunung ini menjadi pusat penting bagi praktik Buddha.

Dinasti Song: Pada abad ke-9, Kaisar Song Zhao Kuangyin mengirim biksu Buddha ke India yang kemudian diizinkan untuk membangun kuil di Gunung Emei.

Masa Modern

UNESCO: Pada tahun 1996, Emei Shan diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO karena nilai sejarah dan budayanya yang luar biasa.

Saat ini, Emei Shan memiliki sekitar 30 kuil, termasuk Kuil Wannian yang dibangun pada tahun 1611 dan Kuil Baoguo dengan lonceng besar dari Dinasti Ming.

Keanekaragaman Hayati

Flora dan Fauna: Emei Shan juga dikenal karena keanekaragaman hayatinya yang kaya. Gunung ini memiliki lebih dari 3.000 spesies tanaman dan berbagai hewan, termasuk monyet yang terkenal karena perilaku agresifnya.

Emei Shan adalah tempat yang tidak hanya penting secara spiritual tetapi juga menawarkan keindahan alam yang luar biasa dan warisan budaya yang kaya.

Mencapai Puncak: Setelah beberapa jam mendaki, kami akhirnya mencapai puncak Emei Shan, yang dikenal sebagai Jinding (Golden Summit).

Dari sini, kami bisa menikmati pemandangan spektakuler dan, sangat beruntung, bisa melihat lautan awan yang terkenal.

Gunung Emei (峨眉山, Éméi Shān), salah satu dari Empat Gunung Suci Buddha di Tiongkok, bukan hanya destinasi alam yang memesona, tetapi juga pusat sejarah dan mitos yang memikat. Terletak di Provinsi Sichuan, gunung ini telah menjadi tempat ziarah, meditasi, dan legenda selama lebih dari 2.000 tahun.

Mitos & Legenda yang Hidup

Gunung Emei dipenuhi cerita mistis yang dipercaya turun-temurun:

Cahaya Suci & Awan Laut (佛光, Fóguāng & 云海, Yúnhǎi)

Salah satu fenomena paling terkenal adalah “Cahaya Buddha”, di mana bayangan pengunjung muncul dalam lingkaran cahaya pelangi di awan. Legenda mengatakan bahwa ini adalah penampakan Samantabhadra, dan siapa pun yang melihatnya akan mendapat berkah.

Puncak Spiritual: Golden Summit

Puncak tertinggi Gunung Emei, Jinding (Golden Summit), adalah tempat paling sakral. Di sini, pengunjung bisa melihat:

  • Patung Emas Samantabhadra – Berdiri megah di ketinggian 3.077 mdpl. Gunung Emei diyakini sebagai tempat suci bagi Samantabhadra, Bodhisattva kebajikan universal. Patung emasnya setinggi 48 meter di puncak Golden Summit menjadi ikon gunung ini.
  • Awan Laut – Lautan awan yang seolah tak berujung.

“Di Emei, angin berbisik mantra kuno, kabut menyembunyikan rahasia para dewa, dan setiap langkah mengajak kita lebih dekat pada pencerahan.”

Monyet Suci Emei

Monyet-monyet liar di gunung ini dianggap sebagai penjaga spiritual. Konon, mereka adalah reinkarnasi prajurit kuno yang dikutuk karena berbuat jahat, tetapi sekarang melayani para peziarah. Namun, hati-hati—mereka terkenal suka mencuri makanan dan barang pengunjung!

Turun dari Gunung: Setelah menikmati pemandangan di puncak, kami mulai turun dari gunung di sore harinya, kembali ke hotel untuk beristirahat.

Hari Ketiga

Check Out dari Hotel: Setelah sarapan dan check out dari hotel, Anda bersiap untuk melanjutkan perjalanan.

Perjalanan daytrip ke Leshan:

Kami melanjutkan perjalanan dengan bus ke Leshan.

Perjalanan ini memakan waktu sekitar 2 jam termasuk naik taxi ke pintu masuk Leshan dari stasiun bus.

Mengunjungi Patung Buddha Raksasa Leshan: Setibanya di Leshan, kami mengunjungi Patung Buddha Raksasa Leshan, patung Buddha terbesar di dunia yang diukir di tebing, kami bisa menjelajahi area sekitar dan menikmati keindahan patung yang megah.

Patung Raksasa Buddha Leshan: Mahakarya Kuno yang Menjaga Sungai

Di Provinsi Sichuan, Tiongkok, tepatnya di kota Leshan, terdapat sebuah mahakarya kuno yang memukau: Patung Giant Buddha Leshan. Dengan tinggi 71 meter, patung Buddha berbatu terbesar di dunia ini telah berdiri kokoh selama lebih dari 1.300 tahun, menyimpan sejarah panjang dan pesan spiritual yang dalam.

Asal Usul: Sebuah Doa untuk Kedamaian

Patung raksasa ini dibangun pada masa Dinasti Tang (tahun 713 M) oleh seorang biksu bernama Hai Tong. Saat itu, sungai-sungai di Leshan sering bergelombang ganas, menyebabkan banyak kapal karam dan merenggut nyawa. Hai Tong percaya bahwa dengan membangun patung Buddha di tebing batu, sang Buddha akan menenangkan arus sungai dan melindungi para pelayar.

Yang menakjubkan, sejak patung ini berdiri, jumlah kecelakaan di sungai berkurang drastis. Rupanya, batu-batu yang diambil selama pembangunan dibuang ke sungai, secara tidak sengaja meratakan dasar sungai dan membuat arus menjadi lebih tenang.

Tips Wisata:

  • Pakai sepatu nyaman—tangganya curam!

Siap menyaksikan keagungan Buddha terbesar di dunia? Leshan menanti!

Tinggalkan komentar