Judul: “Desember di Bangkok, Awal Cerita Kita”
Bangkok diselimuti udara sejuk yang jarang dirasakan di kota tropis ini. Kami baru saja tiba di Mandarin Hotel Bangkok, sebuah hotel nyaman di tengah keramaian Rama IV Road.

Setelah check-in dan meletakkan barang-barang, kami memutuskan untuk menjelajahi sekitar. Wat Hua Lamphong, sebuah kuil kecil yang tenang, hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki dari hotel. Suasana di sana jauh dari hiruk-pikuk kota. Dupa menguar, patung Buddha tersenyum lembut.

Di depan kuil, ada beberapa orang berjualan makanan, dan seorang street vendor tengah sibuk mengiris daging babi dan menyusun rice noodles ke dalam mangkuk. “Kway Jab!”, mengingat rekomendasi teman tentang hidangan berkuah pekat dengan rasa lada hitam yang khas. Kami memesan dua mangkuk dan duduk di bangku kecil di tepi jalan. Kuahnya panas, gurih, dan sedikit pedas—sempurna untuk udara Desember yang berhembus pelan.

Perut sudah kenyang setelah melahap semangkuk Kway Jab yang gurih, kami memutuskan untuk melanjutkan petualangan ke Wat Arun, kuil yang terkenal dengan menara menjulangnya yang dipenuhi mozaik keramik mengilap.
Sore itu, langit Bangkok mulai berubah warna—jingga lembut bercampur ungu, perlahan ditelan kegelapan. Kami membeli tiket kapal dari seorang penjual yang ramai, lalu menjejakkan kaki ke perahu kayu yang bergoyang-goyang. Mesin diesel menderu, dan angin sepoi-sepoi menerpa wajah kami saat kapal mulai bergerak menyusuri Sungai Chao Phraya.

Di kejauhan, Wat Arun mulai terlihat, siluetnya megah di tepi sungai. Lampu-lampu kecil mulai dinyalakan, memantulkan cahaya keemasan di permukaan air yang gelap.

Saat kapal merapat ke dermaga, suasana sudah benar-benar gelap. Tapi justru di saat itulah Wat Arun tampak paling memesona—diterangi lampu sorot, setiap detail porselen dan kaca berkilauan seperti dihiasi berlian. Kami berjalan pelan, menapaki tangga curam sambil sesekali berhenti untuk menikmati pemandangan kota dari ketinggian. Dari atas, lampu-lampu Bangkok berkelap-kelip, dan suara riuh rendah kehidupan malam mulai terdengar.

Setelah puas, kami balik ke seberang sungai, menara Wat Arun tampak seperti lukisan hidup. Lampu-lampu kuning menyorotinya, membuat mozaik keramiknya berkilauan lembut di kegelapan.
Udara makin mendingin ketika kami menyeberang dari Wat Arun menuju Wat Pho. Jalanan sudah sepi, dan derap langkah kami di trotoar terdengar jelas dalam kesunyian. “Kok sepi banget ya?” bisik kami, sambil mencuri pandang ke sekeliling. Ternyata, kami datang terlalu sore—gerbang utama sudah tertutup, tak ada lagi turis atau biksu yang terlihat. Tapi justru di saat seperti inilah Wat Pho menunjukkan pesonanya yang lain.

Kami berkeliling pelan, mengitari kompleks kuil yang sepi. Beberapa lentera kertas bergoyang tertiup angin malam, bayangan pohon bodhi menari-nari di dinding tua. Di sebuah sudut, kami menemukan patung singa penjaga yang terlihat lebih angker dalam kegelapan.
Mungkin itulah keindahan traveling—kadang momen tak terduga justru jadi yang paling diingat. Wat Pho yang biasanya ramai, malam itu hanya milik kami berdua, bahkan jika cuma untuk beberapa menit saja.

Keluar dari kesunyian Wat Pho, kami kembali disambut gemerlap lampu kota di sepanjang tepian Chao Phraya. Di seberang sungai, Wat Arun masih berdiri megah—kini tampak seperti istana kertas yang diterangi dari dalam, pantulannya bergetar di air yang menghitam.
Tapi perut keroncongan segera menginterupsi. Sementara di daerah itu karena sudah malam, jadi taxi sudah tidak banyak yang lewat, sampai akhirnya sebuah Toyota Corolla tua berwarna merah jambu—khas Bangkok—berhenti.
Kami segera menyebut nama restoran tom yam terkenal yang kami tandai di layar hape. “Ahh, Tom Yum Goong!” dia memacu mobil, menerobos jalanan malam yang mulai ramai dengan neon sign dan motor yang meliuk-liuk.

Hari Kedua: Jejak Raja-Raja di Ayutthaya
Pagi itu, Bangkok masih diselimuti kabut tipis ketika sopir sewaan kami sudah menunggu di lobi hotel.
Naik Gajah Keliling Kota Kuno
Sesampainya di Ayutthaya, aroma jerami dan tanah basah menyambut kami di kampung gajah dekat Kuil Chao Phrom. Gajah-gajah berhias kain bordir warna-warni mengangguk-angguk, matanya teduh seperti tahu semua rahasia zaman dulu.

Dari atas punggung gajah, Ayutthaya terlihat seperti lukisan yang rusak tapi cantik—reruntuhan candi yang hancur oleh perang dan benteng-benteng tua yang jadi saksi kejayaan kerajaan Siam, sementara guide pawang gajah kami bercerita tentang bagaimana Burma membakar kota ini sampai habis 1767 silam.

Jam 12 siang, restoran lokal tidak jauh dari kuil menjadi tempat kami menyantap pad thai.
Menelusuri Kuil-Kuni yang Bisu
Wat Mahathat: Di sinilah kepala Buddha dalam akar beringin tersenyum misterius. Seorang guide berbisik, “Jangan foto sambil berdiri lebih tinggi dari Buddha ya,” sambil menunjuk tanda peringatan.

Wat Phra Si Sanphet: Tiga chedi raksasa berjejak seperti istana pasir raksasa. Kuil ini menjadi Simbol Kejayaan & Kehancuran Ayutthaya. UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Dunia tahun 1991. Reruntuhannya jadi saksi bisu: sebesar apa pun kejayaan, semua bisa runtuh dalam semalam.
Fun Fact: Adegan penyelamatan harta karun di film “Mortdecai” (2015) Johnny Depp syuting di sini!

Wat Lokayasutha: Di ujung hari, kami mengunjungi Wat Lokayasutha (วัดโลกยสุธา), dimana ini adalah situs kuno di Ayutthaya, Thailand, yang diperkirakan dibangun pada abad ke-14–16 bersamaan dengan kejayaan Kerajaan Ayutthaya. Tidak seperti kuil lain, situs ini hanya menyisakan satu struktur utama: sebuah patung Buddha tidur (Reclining Buddha) raksasa sepanjang 42 meter dan setinggi 8 meter, terbaring di ruang terbuka tanpa atap.

“Lokayasutha” berasal dari bahasa Pali (Lokayasutha) yang berarti “Tempat Peristirahatan Dunia”, merujuk pada posisi Buddha yang sedang memasuki parinirvana (meninggalkan dunia fana).
Kekuatan Penyembuhan: Penduduk setempat percaya menyentuh telapak kaki Buddha (yang masih utuh) bisa membawa keberuntungan.

Wat Lokayasutha mungkin hanya reruntuhan, tapi justru di situlah kekuatannya: sebuah mahakarya yang bertahan, meski sejarah mencoba menghapusnya.
Perjalanan Pulang yang Sunyi
Mobil meluncur kembali ke Bangkok saat senja.
Dan seperti itu, hari kedua kami berakhir—dengan debu sejarah di sepatu, rasa pad thai di lidah, dan Buddha-Buddha yang masih tersenyum dalam mimpi mereka.
Hari Ketiga: Menyusuri Dunia Magis di Erawan Museum
Pagi itu, kami sarapan cepat di restoran hotel, dengan rencana hari ini ke Erawan Museum, dimana lokasinya cukup jauh di daerah Samut Prakan, selatan Bangkok.
Perjalanan dengan BTS & Taksi
Kami berangkat pagi untuk mengalahkan panas terik:
- Naik BTS Sukhumvit Line (arah Bearing) sampai stasiun terakhir Samrong.
- Lanjut taksi (30 menit) melewati pemandangan pinggiran Bangkok yang sibuk—pabrik, pasar lokal, dan kanal-kanal kecil.

Memasuki Dunia Fantasi
Begitu tiba, kami terpana. Erawan Museum adalah gabungan antara kuil, museum, dan istana dongeng:
Patung Gajah Airavata: Gajah mitologis tiga kepala setinggi 29 meter (simbol langit dalam kepercayaan Hindu) berdiri megah di atas bangunan merah muda.

Interior 3 Lapisan:
Dunia Bawah (Underworld): Gua gelap dengan patung dewa-dewa dan fosil purba.
Dunia Manusia (Earth): Ruangan utama dengan tangga spiral indah berhiasa kaca patri, kolam lotus, dan patung Dewi Kwan Im.

Dunia Surga (Heaven): Lantai atas berbentuk kubah biru dengan lukisan langit dan konstelasi bintang.

Kami menghabiskan 2 jam hanya untuk mengagumi detailnya—dari mozaik keramik Tiongkok, ukiran kayu tradisional Thai, sampai jendela kaca yang memantulkan cahaya pelangi ke lantai marmer.

- Doa di Ruang Suci: Kami terpesona oleh lukisan langit-langit yang bercerita tentang reinkarnasi.
Setelah seharian terpesona di Erawan Museum, kami masih belum puas menjelajahi Bangkok. Dengan energi yang tersisa, kami memutuskan untuk melanjutkan petualangan malam ini—dimulai dengan hentian gourmet dan diakhiri dengan panorama kota dari ketinggian.
Pemberhentian Pertama: Dean & DeLuca Pertama di Bangkok
Perjalanan kami lanjut ke Dean & DeLuca pertama di Bangkok, yang terletak di Sukhumvit Road. Suasana modern dan chic kafe ini langsung menyegarkan mata setelah seharian di dunia magis Erawan.
Suasana: Interior industrial dengan rak-rak tinggi dipenuhi produk gourmet impor, membuat kami seperti berada di New York atau Tokyo—kontras sekali dengan nuansa tradisional tempat-tempat sebelumnya.

Transportasi: Dari Dean & DeLuca ke Cloud 47, kami naik BTS Silom Line turun di Saladaeng, lalu jalan kaki 10 menit.
Malam semakin larut, dan Bangkok bersinar gemerlap. Kami menuju Cloud 47, sebuah rooftop bar di United Center Building, dekat stasiun BTS Silom.

Pemandangan 360°: Dari ketinggian 47 lantai, seluruh Bangkok terhampar—dari lumuran lampu jalanan Silom hingga gemerlap Sungai Chao Phraya di kejauhan.

Hari ini, kami telah melihat Bangkok dari kedalaman mitos Erawan, kemewahan Dean & DeLuca, hingga puncak gemerlapnya di Cloud 47—seperti tiga sisi kota yang berbeda, tapi sama-sama memikat.
Lanjut Besok ke Museum MOCA