Hari Terakhir di Bangkok: Mengunjungi Museum Seni Kontemporer

Hari Ke-4 : Eksplorasi Terakhir di Bangkok Sebelum ke Pattaya

Setelah 3 hari seru dan kenyang explore kota Bangkok & Ayuthaya, kami akhirnya mau santai dengan mengexplore tempat yang berbeda dan lebih santai sambil menikmati udara AC, sebelum perjalanan esok hari ke Pattaya. Hari terakhir ini kami isi dengan eksplorasi intensif ke beberapa tempat ikonik.

Pengalaman Tak Terlupakan di MOCA Bangkok

Hari itu, udara Desember di Bangkok terasa sejuk dan cerah—sempurna untuk menjelajahi Museum of Contemporary Art (MOCA), salah satu museum seni terbesar di Thailand. Dengan tiket masuk 180 Baht, kami siap menyelami dunia seni kontemporer yang memukau.


Tiba di MOCA: Bangunan Megah Penuh Misteri

📍 Lokasi: 499 Kamphaeng Phet 6 Road, Chatuchak
⏰ Waktu: Pukul 10.00 pagi (museum baru saja buka)

Begitu tiba, kami langsung terpana oleh gedung putih bergaya modern dengan patung-patung besar di depannya. Desainnya minimalis, tapi terlihat sangat elegan.

“Ini kayak istana seni!”


Memasuki Dunia Seni Kontemporer Thailand

Tiket Masuk: 180 Baht/orang (Desember 2013)
Durasi: 2,5 jam (kami hampir tidak menyadari waktu berlalu!)

Lantai 1: Karya Monumental

Tema“Roots of Thai Contemporary Art”

Lukisan dinding raksasa yang menggambarkan sejarah seni Thailand.

LLantai 2: Realisme & Kehidupan Lokal

Tema“Soul of the Land”

“Mirror No. 5” – oil painting by Amarin Buppasiri

Toys In 2008″ – mixed media by Suradej Wattanapraditchai (2008)

“Lady” Acrylic painting by Veerasak Sassadee (2010)

Lantai 3: Kontroversi & Eksperimen (Lantai Paling ‘Vulgar’)

Tema“Taboo and Transformation”

Nude” – bronze statue by Nonthivathn Chandhanaphalin.

Ekshibisi temporer : Pameran khusus tentang seni erotis tradisional vs modern (termasuk lukisan wanita telanjang gaya Barat yang dipadukan dengan ikonografi Buddha).

Terdapat satu area dengan satu kesatuan koleksi lukisan berisi satu cerita legenda Thailand : Nang Pimpilalai (นางพิมพิลาไลย)

Di Thailand, kisah Nang Pimpilalai (นางพิมพิลาไลย) adalah salah satu cerita cinta tragis paling terkenal yang berasal dari puisi klasik “Khun Chang – Khun Paen” (ขุนช้างขุนแผน), sebuah mahakarya sastra Thailand abad ke-17. 

Tokoh Utama dalam Legenda

  1. Nang Pimpilalai (นางพิมพิลาไลย):
    • Seorang gadis cantik dari keluarga bangsawan rendah.
    • Digambarkan memiliki kecantikan luar biasa, tapi juga naas (sial) dalam percintaan.
  2. Khun Paen (ขุนแผน):
    • Pahlawan utama, prajurit sakti yang ahli ilmu gaib.
    • Suami pertama Pimpilalai, tapi sering pergi berperang.
  3. Khun Chang (ขุนช้าง):
    • Pria kaya dan berkuasa yang terobsesi pada Pimpilalai.
    • Sering memanipulasi situasi untuk memisahkan Pimpilalai dan Khun Paen.

Alur Tragedi Cinta Nang Pimpilalai

  1. Pernikahan Pertama:
    • Pimpilalai menikah dengan Khun Paen, tetapi hubungan mereka sering retak karena Khun Paen sering tidak setia dan pergi berperang.
  2. Tipu Daya Khun Chang:
    • Khun Chang memanfaatkan ketidakhadiran Khun Paen untuk mendekati Pimpilalai.
    • Dengan bantuan ilmu sihir dan kekuasaannya, ia memaksa Pimpilalai menikahinya.
  3. Kematian Tragis:
    • Saat Khun Paen kembali dan mengetahui Pimpilalai telah menjadi istri Khun Chang, ia murka.
    • Dalam sebuah konflik, Pimpilalai terbunuh 

Makna Simbolis dalam Legenda

  1. Kritik Sosial:
    • Menggambarkan ketidakadilan terhadap perempuan yang terjebak dalam konflik laki-laki.
    • Pimpilalai menjadi korban nafsu, kekuasaan, dan pengkhianatan.
  2. Karma & Nasib:
    • Pimpilalai dianggap terkutuk karena kecantikannya sendiri.
    • Kisah ini sering dikaitkan dengan kepercayaan Thai tentang “Nang Nai” (hantu perempuan cantik yang mati karena cinta).
  3. Kekuatan Ilmu Gaib:
    • Khun Paen dan Khun Chang menggunakan sihir dan jimat untuk saling menghancurkan.
    • Ini mencerminkan kepercayaan tradisional Thailand tentang “Khong Khu” (ilmu kekebalan).

Nama “Pimpilalai” sering dipakai untuk karakter drama Thailand yang tragis.

Kisahnya sering kali dibandingkan dengan “Romeo & Juliet” versi Thailand.

“ความรักของนางพิมพิลาไลยคือดอกไม้ที่บานในนรก”
“Cinta Pimpilalai adalah bunga yang mekar di neraka.”

Lantai 4: Spiritualitas & Filsafat

Kami menemukan seksi lukisan kontroversial yang menggambarkan wanita telanjang dalam pose yang sangat ekspresif, karya-karya yang sempat kontroversial karena menampilkan figur telanjang atau simbol politik sensitif.

“Chao Praya River 2” – oil painting by Sompop Budtarad (2009)

“Solid Earth” – oil painting by Prateep Khotchabua (2011)

Tema“Heaven, Hell and Beyond”

  • “Heaven & Hell” – instalasi seni yang menggambarkan surga dan neraka ala Buddhisme.
  • Patung dewa-dewi dengan sentuhan kontemporer.

The Three Kingdoms – The Human Realm, The Celestial Realm (Heaven), and The Unfortunate Realm (Hell)

Bagian ini bikin merinding… tapi sangat memukau.

Lantai 5 : Seni Global & Lokal dalam Satu Ruang

Di lantai terakhir MOCA Bangkok, kami menemukan perpaduan menarik antara seniman internasional dan maestro Thailand, menciptakan dialog budaya melalui kanvas dan instalasi.

Tema“Beyond Boundaries”

Untitled – oil painting by Guan Zeju (2001)

  • Lukisan abstrak warna-warni yang penuh makna filosofis.
  • Ruangan khusus seni multimedia – ada video art tentang urbanisasi Bangkok.

“Nineteen Years Old” – oil painting by Chinese Yang Feiyun (1988)

Suasana Museum di Desember 2013

  • Pengunjung Sedikit – mungkin karena bukan musim turis tinggi.
  • Hawa Sejuk – AC di museum sangat nyaman setelah jalan-jalan di panasnya Bangkok.
  • Pencahayaan Sempurna – setiap karya seni terlihat hidup karena tata cahaya yang apik.

Tips Berkunjung ke MOCA

✔️ Waktu Terbaik: Datang pagi hari (10.00-12.00) untuk hindari keramaian.
✔️ Fotografi: Boleh foto tanpa flash (tripod perlu izin).
✔️ Transportasi: Naik taksi dari pusat kota (30 menit) atau MRT Kamphaeng Phet + jalan kaki 10 menit.
✔️ Bawa Jaket: AC di museum cukup dingin!


Kenapa MOCA Jadi Favorit Kami?

“Di sini, seni bukan hanya dilihat, tapi dirasakan. Setiap lukisan dan patung bercerita tentang jiwa Thailand yang sesungguhnya.”

Sebelum pulang, kami duduk sebentar di kafe museum, menyeruput es teh Thai sambil mengobrol tentang lokasi selanjutnya dimana lokasi ini tidak jauh dari Chatuchak market.

#MOCABangkok #SeniYangHidup #KenanganDesember2013

“Besok kita cari museum seni lagi, ya?”
“Harus! Tapi sekarang… ayo lanjut ke Chatuchak!” 😊

Tinggalkan komentar