Pendakian Extreme ke Huashan & Exploring Longmen Grottoes

Hari 1: Pendakian Dingin di Huashan


Pukul 6 pagi di Stasiun Kereta Cepat Xi’an North, udara Desember yang menusuk membuat saya menggigil saat menunggu kereta ke Huashan. Dengan jaket tebal dan ransel berisi bekal sederhana, saya naik kereta G-series (kecepatan 300 km/jam!) yang meluncur tepat pukul 06:30. Dalam kabin yang hangat, saya memandangi jendela sambil melihat pemandangan pedesaan Shaanxi yang diselimuti embun beku.

Pukul 07:25 – Kereta tiba di Huashan North Station. Begitu turun, hembusan angin dingin -5°C langsung menyambut.

Saya langsung mencari Bus Hijau No.1 yang gratis. Bus tua tanpa pemanas itu penuh dengan turis lokal berjaket tebal—bau bawang putih dan aroma minyak goreng memenuhi udara.

Pukul 08:15 – Turun di Lotus Square, saya terpana melihat puncak Huashan yang sudah tertutup salju tipis.

Setelah beli tiket cable car seharga 140 RMB (naik 50% karena musim sepi), petugas memberi peringatan: “Jalur Plank Path ditutup karena es, hati-hati di tangga!”

Pendakian Dimulai:

  • West Peak:
    Kaki saya masih gemetar saat keluar dari West Peak Cable Car Station. Udara dingin menusuk tulang (-8°C) membuat napas saya mengeluarkan kabut putih. Di depan mata, West Peak (2038m) menjulang seperti kepala naga raksasa yang tertidur – bentuk unik yang membuatnya dijuluki Lianhua Feng” (Puncak Lotus). Pendakian Menuju Puncak
    Jalur dari stasiun cable car ke puncak hanya 700 meter.
  • Kuil Terkutuk, Kuil kecil di puncak konon dibangun untuk menahan roh jenderal pemberontak abad ke-9  
  • South Peak: Di ketinggian 2154m, angin berembus kencang. Selfie dengan latar tebing terjal harus dilakukan sambil berpegangan pada rantai besi yang dinginnya seperti es.
    Setelah 3 jam mendaki dari West Peak, kaki saya mulai gemetar saat melihat papan penunjuk akhir: South Peak – 2154.9m – Puncak Tertinggi Huashan. Udara tipis yang membuat napas tersengal, ditambah angin dingin -10°C yang menerpa wajah, seakan menguji tekad saya sebelum mencapai mahkota gunung suci ini.  
  • Tradisi Unik Pendaki di puncak tertinggi Huashan:
    1. Mengikat Pita Merah- Ribuan pita doa terikat di pagar besi, tertulis harapan dalam 8 bahasa  
    2. Melempar Koin Logam- Ada kolam alami kecil dimana koin yang masuk celah batu dianggap terkabul 
  • Setelah 20 menit beristirahat di puncak tertinggi Huashan, saya melihat papan petunjuk ke arah timur bertuliskan: Plank Walk – 1.2km – EXTREME DANGER. Saya harus melewati jalur Fairy’s Neck: Jalur sempit 40cm dengan jurang di kedua sisi dan Jembatan Rantai Berdarah: Rantai besi yang warnanya sudah mengkilap oleh genggaman ribuan tangan ketakutan 😂

Catatan Kaki:

“Plank Walk bukan sekadar atraksi turis – ini adalah tarian di tepi kematian, dimana setiap langkah mengajarkan arti kehidupan yang sebenarnya…”

Setelah seharian menaklukkan Huashan, kaki saya gemetar saat menuruni North Peak Trail. Kabin cable car terakhir ke bawah hampir tertutup.

Transportasi ke Luoyang

Bus Umum Huashan-Luoyang, sekitar 3 jam perjalanan.

Sesampai di Luoyang Long-Distance Bus Station sudah lumayan malam. Kota ini ternyata lebih dingin dari perkiraan!Setelah panggil taksi, sopir mengantar ke penginapan di pusat kota.

Mencari Night Market Legendaris

Setelah check in hotel, dan atas rekomendasi staf hotel, saya menuju Old Town Night Market di dekat Lijing Gate, untuk isi perut dan mencicipi kuliner lokal.

Lai lai lai! Chang sha chou doufu!

Keesokan paginya, setelah check out dari hotel, saya naik bus nomor 60 menuju Longmen Grottoes.

Sudah tidak sabar untuk explore 1.400 gua dan 100.000 patung Buddha di area komplek warisan dunia UNESCO yang membentang dua sisi sungai Yi, dengan total area 50 hektar.

Saya berdiri terpana di depan Fengxian Temple (奉先寺), mahakarya Dinasti Tang yang memahat wajah kebijaksanaan dalam batu kapur. Angin musim dingin berdesir di antara patung-patung kolosal ini, membawa bisikan sejarah dari abad ke-7.  

Fakta unik: Seluruh kompleks dikerjakan selama 21 tahun (672-693 M) atas perintah Kaisar Gaozong dan Permaisuri Wu Zetian, sang ratu konon menyumbang 20.000 keping perak dari kosmetik pribadinya!  

Perjalanan Pulang:
Taksi ke train station menuju Xi’an ditemani cerita sopir tentang sejarah Luoyang dan rekomendasi kuil Shaolin untuk next trip.

Refleksi:
Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa petualangan terbaik sering datang dari hal-hal tak terduga: kedinginan yang bikin gigi gemeretuk, pertemuan dengan orang-orang lokal yang hangat, dan keindahan sejarah yang bertahan ribuan tahun.

Dalam 36 jam, saya menjelajahi dua Situs Warisan Dunia UNESCO—sebuah rekor personal yang mungkin tak akan terulang…

(Catatan: Semua harga dan kondisi berdasarkan pengalaman Desember 2014. Situasi mungkin berbeda sekarang.)

Tinggalkan komentar