Lijiang → First Bend of Yangtze River → Stone Drum Town → Tiger Leaping Gorge → Shangri-La
Selasa, 29 Desember 2015
Sejak muncul di novel Lost Horizon karya James Hilton (1933), Shangri-La selalu digambarkan sebagai tempat mistis—surga tersembunyi yang seperti tidak mungkin ada di dunia nyata. Dalam bahasa Tibet, “Shangri-La” (香格里拉, Xianggelila) berarti “matahari dan bulan di dalam hati,” semacam surga yang cuma ada di khayalan.
Perjalanan dari Lijiang ke Shangri-La
Kami berangkat dari Lijiang jam 8 pagi, menyewa mobil dengan supir untuk perjalanan 2 hari ke Shangri-La. Kebetulan supirnya cewek, ramah banget, dan sangat membantu! (Rekomendasi banget buat yang mau ke sini.)

Jaraknya sekitar 175 km dari Lijiang ke Shangri-La, dengan ketinggian rata-rata 3.000 meter di atas permukaan laut. Karena belum ada kereta, satu-satunya transportasi ya mobil atau bus. Di tengah perjalanan, kami berhenti di kebun apel milik penduduk lokal.

Apelnya segar banget, manis, dan bebas bahan kimia—beda banget sama yang dijual di supermarket kota besar!
Tikungan Pertama Sungai Yangtze & Kota Batu Drum
Setelah 1,5 jam perjalanan, kami sampai di Tikungan Pertama Sungai Yangtze, tempat sungai terpanjang ketiga di dunia ini berbelok tajam membentuk huruf “V”.

Dekat situ ada Kota Batu Drum, namanya berasal dari monumen batu berbentuk drum yang ada di sana.

Kota ini punya sejarah panjang—dulu jadi tempat penyeberangan pasukan Zhuge Liang (Zaman Tiga Kerajaan) dan Kublai Khan (Dinasti Yuan). Tahun 1936, Pasukan Merah pimpinan Jenderal He Long juga lewat sini waktu Long March. Ada juga jembatan rantai besi (Tiehong Bridge) peninggalan Dinasti Qing. Jalannya goyang-goyang waktu dilewati, tapi seru banget, kayak balik ke masa lalu!

Ngarai Harimau Terbang (虎跳峡, Hǔtiào Xiá)

Sekitar 1 jam perjalanan lagi, kami tiba di Ngarai Harimau Terbang, salah satu ngarai terdalam di dunia (3.790 meter dari sungai ke puncak gunung). Tiket masuknya ¥65/orang.

Dari tempat parkir, ada tangga turun ke sungai—total 440 anak tangga (turun gampang, naiknya ngos-ngosan!). Konon, namanya berasal dari legenda harimau yang kabur dari pemburu dengan lompatin sungai di titik tersempit ngarai ini. Pemandangannya epic banget—tebing curam, air sungai yang deras, dan kabut yang ngehiasi langit.

Tips: Kalau bawa orang tua, pertimbangkan waktu ekstra buat naik tangga lagi.

Perjalanan ke Shangri-La
Dua jam berikutnya, kami melewati pemandangan padang rumput, desa-desa Tibet, serta kuda dan yak yang lagi merumput. Karena udaranya semakin tipis, lebih baik bawa tabung oksigen (bisa dibeli di toko atau hotel sekitar).

Kami menginap di Kota Tua Dukezong, wilayah tradisional dengan jalanan batu dan arsitektur khas Tibet. Sayangnya, separuh kota ini sempat terbakar hebat di Januari 2014, jadi masih banyak renovasi waktu kami ke sana.

Malam Budaya Tibet
Karena malemnya sepi, kami ikut acara makan malam ala Tibet dengan pertunjukan musik dan tarian.

Makanannya dihidangkan dalam hot pot, lengkap dengan sayuran, daging, susu mentega, dan anggur lokal yang kuat banget!

Kami belajar satu kata: “Zha-xi-de-le!” (扎西德勒, artinya “semoga beruntung”). Sebelum minum, harus celupin jari ke anggur, lalu percikkan tiga kali, baru minum tiga teguk (dan gelasnya diisi ulang tiga kali). Kalau nggak kuat minum alkohol, boleh kok nolak sopan—tapi seru juga ikut minum!

Lanjut besok: Hari 5 – Jelajah Shangri-La: Biara Songzanlin, Danau Napa, & Budaya Tibet