Jalan-Jalan di Islandia: Sebuah Petualangan 7 Hari
Hari 1: Tiba di Reykjavik
Setelah menempuh penerbangan panjang, kami berdua akhirnya tiba di Bandara Keflavik, Reykjavik. Dengan antusiasme, kami melangkah keluar dari pesawat, disambut oleh hawa dingin khas Islandia. Di area kedatangan setelah mengambil bagasi, kami membeli tiket bus Reykjavik Excursions yang akan membawa langsung ke depan Hotel tempat kami menginap.

Pemandangan indah dari jendela bus membuat perjalanan terasa cepat; lanskap vulkanik yang menakjubkan dan hamparan tanah hijau dengan pepohonan yang jarang.

Dan semua ini hanya pembuka untuk petualangan yang lebih besar di “Tanah Api dan Es”.

Setelah perjalanan sekitar 45 menit, bus akhirnya berhenti di Hotel tempat kami menginap, FossHotel Baron yang berlokasi strategis. Tak jauh dari hotel, berdiri megah patung Sun Voyager, karya seni ikonik yang mewakili perjalanan dan penjelajahan. Setelah check-in, kami meletakkan barang-barang dan segera bergegas keluar untuk mengagumi patung itu, yang tampak sangat menawan ketika kami kembali saat diterangi sinar matahari senja.

Walau menempuh perjalanan panjang, kami tak sabar menjelajahi ibukota yang penuh warna ini. Tujuan pertama kami adalah ke Hallgrímskirkja, gereja megah yang menjulang tinggi, mengundang kami untuk menaiki menaranya.

Dirancang oleh Gudjon Samuel pada tahun 1937, Gereja Hallgrimskirkja menjadi salah satu tempat ibadah sekaligus ikon kota yang tidak boleh dilewatkan di Reykjavik. Dalam pembuatannya, Gudjon terinspirasi dari lahar panas yang membeku menjadi batuan basal.

Dari ketinggian, pemandangan kota yang dipenuhi rumah-rumah berwarna cerah dan gunung yang mengelilingi adalah panorama yang menakjubkan. .

Setelah memasuki gereja, kami berhenti sejenak untuk menghormati patung Leifur Eiríksson (Leifur the Lucky), yang berdiri tegak di seberang. Patung ini mengingatkan kami pada semangat penjelajahan bangsa Viking yang telah membawa mereka hingga ke Amerika Utara, jauh sebelum Columbus. Sebuah pengingat yang sempurna bahwa jiwa petualang telah mengalir dalam darah orang Islandia selama berabad-abad.

Dan inilah puncak dari hari pertama: kunjungan ke The Icelandic Phallological Museum. Letaknya memang hanya sepelemparan batu dari Hotel Baron, sesuai janji peta kami.
Begitu masuk, dunia seakan berhenti sejenak. Di sini, dalam ruangan yang terang dan teratur dengan rapi, tersimpan koleksi yang mungkin paling tidak biasa di seluruh dunia: spesimen penis dari hampir setiap mamalia darat dan laut yang menghuni Islandia. Kami berjalan dari satu display ke display lainnya, dari penis berukuran kecil seperti dari hamster hingga yang… sangat besar dan perkasa milik paus. Ada yang diawetkan dalam formalin, ada yang dikeringkan, dan ada pula yang diformat menjadi pajangan seni.
Malam pun hampir tiba, kami menikmati hidangan Vietnam Pho Noodle yang hangat dan lumayan cocok di lidah kami di satu restoran lokal, Pho Vietnam Restaurant (Noodle Station), benar-benar kami merasakan kehangatan di suhu Islandia yang dingin saat itu. Rasa beef pho yang pertama itu tepat seperti yang dibutuhkan. Dan restoran ini menjadi tempat favorit kami selama di Reykjavik, karena kami memutuskan untuk kembali beberapa kali makan disini.

Dengan masih bersemangat, kami kembali ke hotel, siap untuk petualangan yang menunggu di hari esok.
Hari 2: Golden Circle Tour

Keesokan harinya, kami bergabung dengan tur sehari Golden Circle. Kami melewati beberapa tempat yang menarik dan dapat melihat peternakan kuda Islandia. Pemberhentian pertama di perjalanan ini di awali saat tiba di Geysir, menyaksikan geyser Strokkur yang menembakkan air panas ke langit.

Setelah itu, kami melanjutkan ke Gullfoss, air terjun megah yang mengalir dengan suara menggelegar. Salah satu legenda seputar air terjun ini berasal dari namanya.

Dikatakan bahwa seorang Viking membuang kekayaannya ke dalam kolam berendam di dasar Gullfoss untuk mencegah orang lain mendapatkan emasnya, sehingga air terjun tersebut diberi nama “Golden”.
Akhirnya, Thingvellir National Park, di mana batas antara dua lempeng tektonik terlihat dengan jelas. Momen itu sangat mengesankan dalam sejarah geologi, dimana di tempat ini kami dapat berjalan di antara dua benua, Amerika dan Eropa.

Taman Nasional Thingvellir adalah juga situs yang penuh dengan sejarah, budaya, dan keindahan alam. Di wilayah ini adalah sebagai tempat dari gedung parlemen Islandia selama hampir 900 tahun.

Thingvellir, dieja Þingvellir dalam bahasa Islandia, adalah taman nasional pertama yang dibuat di Islandia. Hal ini dilakukan dalam rangka merayakan 1.000 tahun berdirinya parlemen Islandia, Althing. Althing pertama dianggap sebagai fondasi negara dan Persemakmuran Islandia, dan merupakan salah satu parlemen tertua di dunia.
Tur di lanjukan menuju Laugarvatn Fontana Geothermal Baths untuk berendam dan melihat pembuatan Geothermal bakery.
Hverabrauð, atau roti air panas, adalah roti tradisional Islandia yang dimasak dengan cara menguburnya di mata air panas bumi selama 24 jam.

Sejak tahun 1929, penduduk setempat telah menikmati kekuatan penyembuhan dari pemandian uap alami di tepi Danau Laugarvatn ini.

Tur hari itu ditutup dengan kembali ke Reykjavik, belum ada rasa lelah dan masih sangat amazed dengan keindahan alam di negara ini.
Hari 3: Memulai Petualangan Jalur Selatan
Setelah sarapan pagi, hari ke tiga tiba saatnya untuk berpetualang dengan mobil rental. Kami menyewa mobil tidak jauh dari lokasi hotel dan memulai perjalanan menyusuri di jalur selatan.
Agak canggung di awal saat mengendarai mobil sewaan kami, Suzuki Jimny 4×4, dengan setir di sebelah kanan dan kemudi manual, semua refleks menyetir saya yang terbentuk puluhan tahun di Indonesia langsung jungkir balik. Tetapi dalam waktu yang tidak lama dapat langsung beradaptasi dan rasa canggung itu berubah menjadi kekaguman melihat alam islandia di sepanjang jalan.
Suzuki Jimny benar-benar mobil yang sempurna untuk Islandia. Ukurannya yang compact memudahkan untuk melalui jalan sempit, namun kemampuan 4×4-nya memberi rasa percaya diri untuk menjelajahi jalan gravel atau mendekati area berpasir.

Tujuan pertama adalah Seljalandsfoss, di mana kami dapat menyusuri di belakang tirai air terjun yang megah ini.

Keajaiban alam ini tak kalah menakjubkan saat kami melanjutkan ke Skógafoss.

Sebuah legenda dari bangsa Viking, konon ada seeorang yang bernama Þrasi Þórólfsson sekitar tahun 900, menyembunyikan peti harta karun di balik air terjung tersebut.

Setelah menikmati hembusan kabut dan gemuruh Skógafoss, kami masuk ke mobil dengan semangat petualangan. Keluar dari Ring Road, pemandangan segera berubah. Rumput-rumput hijau, bukit-bukit, dan aliran sungai kecil akan menyambut kami.Perjalanan di lanjutkan lagi, ke tempat permandian “rahasia”, Seljavallalaug yang lumayan di pelosok di antara bukit dan lembah, dimana kami harus jalan kaki seperti hiking dari tempat parkir mobil sekitar 2.5 km.

Jalur pendakiannya relatif datar dan mudah, mengikuti aliran sungai. Kami berjalan di antara gunung-gunung hijau yang menjulang di kedua sisi. Pemandangannya sangat dramatis dan terasa seperti kembali ke masa lalu. Di kejauhan, kami melihat sungai kecil yang mengalir di sisi tebing yang harus kami lewati, untuk menuju kolam hot spring tersebut.

Saat kami membelok, kolam renang kuno itu sudah dapat terlihat. Kolam berwarna hijau kebiruan yang sederhana, dibingkai oleh dinding batu dan gunung yang megah. Pemandangannya sangat fotogenik dan membuat perjalanan kami terbayar lunas.

Seljavallalaug adalah salah satu kolam renang tertua di Islandia, dibangun pada tahun 1923. Strukturnya sangat sederhana dan rustic. Airnya tidak sepanas Blue Lagoon, lebih hangat seperti air mandi yang suam-suam kuku. Sumber airnya adalah mata air panas alami yang dialirkan ke kolam.
Setelah sekitar 1 jam berkendara lagi, kami sampai di Pantai Black Sand Beach di Reynisfjara, tempat yang luar biasa dengan pasir hitam dan formasi batuan yang unik. Perjalanan ke Pantai Hitam ini bukan sekadar mengunjungi sebuah pantai, melainkan seperti memasuki sebuah dunia yang dramatis dan penuh kekuatan alam.
Begitu kaki menginjak Reynisfjara, yang terlihat adalah hamparan luas pasir hitam pekat yang kontras dengan buih putih ombak Samudra Atlantik. Pasirnya bukan seperti tanah, tetapi seperti butiran halus batu apung dan basal yang lembut. Suasana langsung terasa berbeda, sedikit menegangkan karena ombak yang sangat besar. Ombak dapat datang tiba-tiba, jauh lebih besar dan kuat dari ombak biasa. Angin kencang yang biasa bertiup di sini seolah-olah membisikkan kisah-kisah kuno tentang kekuatan vulkanik yang membentuk tempat ini.

Di tengah hamparan pasir hitam, pemandangan diarahkan pada formasi batuan basal yang spektakuler. Kolom basal raksasa yang terbentuk secara alami ini tersusun rapi seperti pipa organ raksasa, seolah-olah adalah karya arsitektur dari peradaban kuno yang hilang.

Di kejauhan, kami juga dapat melihat tiga batu karang Reynisdrangar yang menjulang di laut. Legenda setempat mengatakan bahwa batu-batu ini adalah troll yang dikutuk menjadi batu karena tidak sempat kembali ke persembunyian sebelum matahari terbit.

Tidak lupa untuk mengunjungi gua laut alami di ujung pantai. Bagian dalam gua ini dihiasi dengan kolom basal yang menggantung, menciptakan pemandangan yang sangat fotogenik.

Mengendarai mobil melewati kota Vik dan Black Sand Beach di Islandia tentu sebuah petualangan yang luar biasa. Kota Vik, dengan gereja merahnya yang terkenal, memberikan pemandangan dramatis yang tiada duanya. Saat kami menyusuri jalanan kota yang tenang, kami dapat merasakan atmosfer unik yang tidak ditemukan di tempat lain.

Meski cuaca di Islandia bisa sangat berubah-ubah, setiap momen di tempat-tempat tersebut pasti memberikan pengalaman yang tidak terlupakan. Mungkin bisa merasakan desiran angin dingin, aroma laut yang segar, dan suara ombak yang menenangkan—semua menjadi bagian dari perjalanan yang penuh kenangan.

Lanjut perjalan menuju Jökulsárlón, laguna glasial yang memukau setelah nyetir mobil selama hampir 8 jam dari Reyjavik. Pertama kali melihat gunung es yang mengapung di permukaan dan merasakan ketenangan saat berada di atas perahu. Jökulsárlón, dengan laguna glasialnya yang ikonik, adalah salah satu pemandangan paling spektakuler di Islandia. Saat kamu mengemudi menuju laguna tersebut, lanskap yang semakin berubah dengan pemandangan pegunungan es yang menjulang di kejauhan, memberikan rasa petualangan yang tak ada habisnya.

Ketika tiba di Jökulsárlón, kami disuguhi dengan pemandangan menakjubkan dari bongkahan es besar yang mengapung di atas air yang biru kehijauan di tambah pelangi yang menghiasi langit di sore itu.

Cahaya sore yang lembut memantulkan kilauan dari es, menciptakan suasana yang hampir seperti mimpi. Suara lembut dari es yang bergerak dan gemuruh air yang tenang membuat tempat ini terasa sangat damai dan memikat.

Setelah itu, kami melanjutkan ke Diamond Beach, di mana serpihan es bercerai di atas pasir hitam, menciptakan pemandangan yang menakjubkan menjadikannya destinasi yang wajib dikunjungi.

Sebuah malam di sekitar kawasan ini mengakhiri hari yang sempurna, malam ini kami menginap di hotel terdekat dengan daerah ini, Hali Country Hotel & Restaurant.

Menginap di Hali Country Hotel menawarkan pengalaman yang nyaman dan memuaskan dengan lokasi yang strategis untuk mengeksplorasi keajaiban alam sekitarnya, termasuk Diamond Beach.

Hotel ini menjadi pangkalan kami untuk menjelajahi Jökulsárlón Glacier Lagoon dan Diamond Beach yang terkenal, karena hanya berjarak sekitar 15 menit berkendara, dan juga tidak ada pilihan rumah makan lain di sekitarnya.

Hari 4: Bangkai pesawat dan camping di Tenda Bubble
Hari keempat adalah hari untuk menjelajah lebih jauh dan kembali menuju Reyjavik. Dengan rencana untuk mengunjungi lokasi jatuhnya pesawat Sólheimasandur.

Pada tahun 1973 sebuah pesawat DC Angkatan Laut Amerika Serikat kehabisan bahan bakar dan jatuh di pantai hitam di Sólheimasandur, di Pantai Selatan Islandia. Untungnya, semua orang di pesawat itu selamat.

Kami berjalan kaki dari tempat parkir mobil ke pesawat memakan waktu sekitar satu jam, sekali jalan.
Untuk menuju lokasi pesaat ini sebenarna tidak ada tanda di jalan yang menunjukkan ke mana harus berbelok dan pesawat tidak terlihat dari jalan raya. Namun terdapat tempat parkir di pinggir jalan, karena bangkai kapal ini menjadi sangat populer sehingga orang-orang hanya memarkir mobilnya di pinggir jalan raya.

Menuju ke tempat penginapan camping Bubble
Tempat ini sangat baru saat kami pergi, belum ada di titik google map, and lumayan challenging untuk mengendarai mobil ke tempat ini saat hari sudah mulai gelap, namun setelah bertanya ke orang hotelnya (yang tenyata owner), akhirnya kami sampai di area bubble camping ini sekitar jam 8 malam.

Menginap di bubble tent di Islandia untuk mengejar aurora terdengar seperti pengalaman yang luar biasa, ya! Meski aurora tak muncul di malam itu, suasananya pasti sangat magis dan memberikan kenangan tak terlupakan. Dari pemandangan langit malam yang jernih hingga suara alam yang menenangkan, pastinya momen tersebut menjadi petualangan seru dan unik.

Bayangkan bisa berbaring di dalam tenda transparan, memandang bulan dan bintang tanpa hambatan, sambil kedinginan di suhu menjelang musim dingin ini.

Meski tanpa aurora, pengalaman unik ini tetap membawa kebahagiaan tersendiri. Betapa indahnya dunia, dengan berbagai keajaiban yang bisa kita alami!

Video liputan lengkap camping unik dan seru di Bubble ada di link video YouTube:
Hari 5: Myvatn Nature Baths & Goðafoss Waterfall Akureyri Shore Excursion
Perjalan ini di awali dengan penerbangan 45 menit dari Reyjavik ke Akureyri dengan pesawat pertama di pagi hari, penerbangan jam 7 pagi. Akureyri ini adalah kota terbesar ke dua di Islandia yang berada utara. Kami langsung join tour lokal dari pusat kota, yang waktu nya cocok saat itu dimana kami harus balik ke Reyjavik di malam hari.
Perjalanan tour di awali dengan berhenti di air terjun Góðafoss, yang terkenal karena keindahannya serta sejarahnya. Dikenal sebagai air terjun para dewa, ini adalah simbol saat orang Islandia mengadopsi agama Kristen pada abad ke-9.

Skútustaðagígar.
Kawah Skútustaðagígar telah diakui sebagai permata Islandia. Saat memasuki kawasan Mývatn, daya tarik pertama adalah kawah-kawahnya. Mereka sering dikenal sebagai kerucut tanpa akar atau kawah tanpa akar karena tidak ada habisnya, seperti yang biasanya terjadi pada kawah biasa. Kawah-kawah ini bukan disebabkan oleh ledakan gunung berapi yang sebenarnya, namun merupakan bekas dari aliran lava.

Tidak jauh dari Skútustaðagígar, kami menuju ke formasi batu-batu lava, Dimmuborgir.
Dimmuborgir (yang dalam bahasa Islandia berarti “Kastel-Kastel Gelap”) adalah sebuah bidang lava yang luas dengan formasi batuan yang unik, menyerupai menara, lengkungan, dan reruntuhan kastel yang kokoh. Terletak di dekat Danau Mývatn di Islandia utara, daerah ini bukan hanya daya tarik geologis yang menakjubkan, tetapi juga tempat yang kaya akan cerita rakyat dan legenda.
Dimmuborgir, yang berarti “dark cities” dalam cerita rakyat Islandia dianggap sebagai wilayah yang menghubungkan bumi dengan neraka, dan juga dianggap sebagai lokasi di mana Setan mendarat ketika dilemparkan dari Surga.

Legenda yang paling terkenal menghubungkan Dimmuborgir dengan Grýla dan Leppalúði, serta Yule Lads.
Dimmuborgir dipercaya sebagai rumah Grýla, troll perempuan yang mengerikan dan rakus yang suka memasak dan memakan anak-anak nakal. Suaminya, Leppalúði, juga tinggal bersamanya di “kastel-kastel gelap” ini. Grýla adalah figur yang sangat tua dalam cerita rakyat Islandia, jauh lebih tua dari tradisi Sinterklas modern. Legenda yang paling populer adalah bahwa Dimmuborgir adalah rumah bagi 13 Yule Lads (dalam bahasa Islandia: Jólasveinarnir). Mereka adalah anak-anak Grýla dan Leppalúði. Setiap tahun, menjelang Natal, ketiga belas “saudara” ini akan turun satu per satu dari pegunungan ke pemukiman penduduk untuk melakukan kenakalan mereka, seperti mencuri makanan atau mengganggu orang yang malas.
Karena legenda ini, Dimmuborgir memiliki atmosfer yang sangat kuat selama musim Natal di Islandia dan menjadi simbol langsung dari sisi folkloristik dan sedikit “gelap” dari perayaan Natal di negara tersebut.

Penampakan Dimmuborgir yang “di luar dunia ini” membuatnya menjadi lokasi syuting yang sempurna. Tempat ini digunakan sebagai salah satu lokasi dalam serial TV populer Game of Thrones, mewakili wilayah di utara Tembok, di mana Mance Rayder dan para “Wildling”-nya berkemah.
Grjotagja Cave.
Grjótagjá adalah gua lava yang terletak tidak jauh dari Dimmuborgir, di wilayah Danau Mývatn, Islandia. Gua ini terkenal karena di dalamnya terdapat sumber air panas alami yang jernih dan berwarna biru kehijauan, menciptakan pemandangan yang sangat atmosferik. Seperti Dimmuborgir, sejarah Grjótagjá juga terbagi menjadi tiga bagian: sejarah geologis, sejarah manusia, dan ketenarannya dalam budaya saat ini.
Selama berabad-abad, gua ini berfungsi sebagai pemandian alami yang tersembunyi. Lokasinya yang terlindung memberikan privasi, dan air hangatnya menjadi surga bagi penduduk lokal untuk bersantai, terutama selama musim dingin yang keras. Gua ini adalah semacam rahasia lokal yang berharga.
Di dalam gua terdapat kolam air berwarna biru. Masuknya tidak mudah kena pintu masuknya berbatu dan sempit, sehingga tidak bisa menampung banyak orang. Tapi Gua Grjótagjá digunakan sebagai lokasi syuting dalam Musim 3, Episode 5 (“Kissed by Fire”). Jadi ini adalah tempat yang wajib dikunjungi sebagai penggemar Game of Thrones yang bepergian di Islandia.

Krafla Crater.
Dengan diameter 10 kilometer, kawah Krafla terletak di sepanjang zona celah sepanjang 90 km di utara Mývatn. Kaldera Krafla adalah bagian dari sistem vulkanik dalam yang dikenal sebagai salah satu gunung berapi paling eksplosif di Islandia. Karena sangat eksplosif, kawah gunung berapi ini meletus 29 kali sejak Islandia dihuni.

Námafjall Hverir.
Námafjall Hverir (sering hanya disebut “Hverir”) adalah sebuah bidang solfatara dan fumarole yang sangat aktif, terletak di dekat Gunung Námafjall di wilayah Mývatn. Tempat ini terkenal dengan lumpur mendidih (mud pots), lubang uap (fumaroles) yang mendesis, dan tanah yang berwarna-warni karena mineral belerang. Suasana yang panas, berbau belerang, dan berasap ini menciptakan pemandangan yang sangat primitif, seolah-olah kami kembali ke zaman purba atau berdiri di planet lain.
Dalam kepercayaan Islandia, alam semesta terbagi menjadi dunia manusia dan dunia “tersembunyi” yang dihuni oleh huldufólk (orang-orang tersembunyi/elves) serta roh-roh lainnya. Daerah dengan aktivitas geotermal yang ekstrem seperti Hverir sering dianggap sebagai tempat di mana batas antara dua dunia ini sangat tipis. Uap yang mengepul dan tanah yang mendidih diyakini sebagai napas dan aktivitas dari makhluk-makhluk yang tinggal di bawah tanah.

Area Geothermal Námafjall adalah area yang sangat menakjubkan dan indah untuk berhenti dan berjalan-jalan serta mengagumi alam. Terdiri dari beberapa fumarol, pot lumpur, dan banyak uap yang berbau seperti telur busuk, kami agak terkejut karena pengunjung bisa mendekat sedekat mungkin. Informasi mengenai tempat ini sebelum kami tiba sangat terbatas, jadi pastikan untuk membaca sebelumnya atau membawa buku panduan untuk menjelaskan semua yang terjadi.

Di lanjutkan di akhir acara tur ini adalah berendam air panas ke Danau Myvatn, yang konon dibuka pada tahun 2004, yang dapat dianggap “lumayan” setara dengan Blue Lagoon-nya untuk wilayah utara Islandia.

Setelah selesai tour, kami berjalan-jalan sejenak di pusat kota Akyureri dan sambil menunggu untuk kembali ke Reykjavik dengan pesawat terakhir.

Karena kami pikir masih banyak waktu, kami putuskan untuk berjalan kaki sambil menikmati pemandangan pinggir harbour dari city center ke airport, yang berjarak sekitar 45 menit jalan santai, yang menbuat kami hampir ketinggalan pesawat, karena banyak stop untuk photo-photo.

Hari 6: Bersepeda di Reykjavik dan Blue Lagoon
Hari kesembilan adalah waktu untuk menjelajahi Reykjavik tanpa terburu-buru. Kami menyewa sepeda dari hotel tempat kami menginap untuk menjelajahi kota Reyjavik.

Menyusuri pinggir laut, kami menjumpai gedung modern yang sangan unik, Gedung Harpa, sebuah gedung konser dan pusat konferensi di Reykjavík, Islandia. Bangunan ini menampilkan fasad kaca berwarna khas yang terinspirasi oleh lanskap basal Islandia.

Kami berjalan-jalan di sepanjang pelabuhan, mencicipi hidangan lokal lainnya di kafe-kafe kecil, dan tidak lupa mencicipi Hot Dog yang populer ini.
Bæjarins Beztu Pylsur (English: The Town’s Best Hot Dogs)
Luasnya tidak lebih dari 5 meter persegi dan belum bergerak satu inci pun sejak tahun 1937.
Gerai hot dog Islandia yang terkenal terus beroperasi sejak hari pertama dan konon katanya selalu buka dalam segala cuaca dan badai hebat setiap hari sepanjang tahun selama hampir 80 tahun!
Meskipun kebanyakan hot dog di dunia terbuat dari daging babi atau sapi, hot dog di sini terbuat dari daging domba.

Dan di sore harinya, kami menghabiskan waktu di Blue Lagoon, tempat pemandian air panas yang terkenal. Berendam dalam air biru yang kaya mineral dengan latar belakang pemandangan lava adalah pengalaman surga. Blue Lagoon, pemandian air panas terbesar di Islandia telah menjadi salah satu destinasi wisata yang cukup popular dalam beberapa tahun terakhir. Lokasinya yang hanya berjarak sekitar 20 menit dari Bandara Internasional Keflavik, menjadikannya sebagai pusat perhatian wisatawan setelah mendarat di Islandia

Malam kembali ke Reykjavik memberikan ruang untuk refleksi akan keindahan yang telah kami lihat.
Hari 7: Check out
Waktunya siap-siap untuk pulang dan siangnya kami check out dari hotel menuju Bandara Keflavik, dan mengakhiri trip “Icelandic Saga” kami.