Hari Pertama: Perjalanan Menuju Surga
Tanggal 28 Juni 2018, pagi yang cerah di Bandara Soekarno-Hatta Terminal 3. Kami, bersembilan bersama sepupu-sepupu, dengan semangat menggebu, berkumpul untuk memulai petualangan ke Pulau Maratua. Pesawat Garuda Indonesia GA668 departure pada pukul 04:20 pagi, membawa kami terbang menuju Tarakan.
Sesampainya di Tarakan jam 08:05, kami di jemput oleh mobil yang kami sewa dan langsung menuju pelabuhan untuk naik perahu kecil yang cukup untuk kami semua.

Perjalanan laut dimulai dengan pemandangan biru yang memukau. Setelah kurang lebih 3 jam kami mampir sebentar di Pulau Derawan untuk makan siang dengan hidangan laut segar, lalu melanjutkan perjalanan 1.5 jam lagi menuju ke Maratua.
Begitu perahu kami merapat ke dermaga Maratua Paradise Resort, pandangan kami langsung tertuju pada deretan bungalow kayu berwarna coklat muda yang menjorok di atas laut biru kehijauan. Inilah kamar kami untuk 4 hari 3 malam – rumah kecil di tengah surga.

Sore hari, pemandangan dari kamar resort kami yang langsung menghadap laut jernih ini membuat kami tak sabar menjelajah esok harinya. Malam pertama diakhiri dengan makan malam lezat sambil mendengar deburan ombak.

Hari Kedua: Menari Bersama Ubur-Ubur dan Keindahan Bawah Laut
Bangun pagi dengan semangat, kami sarapan lengkap dengan nasi goreng dan kopi hangat, dan kadang kami melihat penyu besar berenang di sekitar area resort.
Selanjutnya, petualangan seru dimulai! Kami berlayar ke Danau Kakaban.
Rute: Maratua → Berlayar melewati Pulau Sangalaki (sempat lihat penyu!) → Selat menuju Kakaban.

Jadi pemberhentian pertama kami adalah: Pulau Sangalaki, sebuah pulau kecil yang jadi pusat konservasi penyu hijau (Chelonia mydas) di Kepulauan Derawan. Pulau ini juga mempunyai pantai pasir putih dengan air biru kristal, dikelilingi pohon kelapa. Kami beruntung karena sedang ada batch telur yang menetas pagi itu!

Penampakan bayi penyu: Sekecil telapak tangan, cangkangnya masih lunak, dan warnanya hitam keabu-abuan.
Sampai di Pulau Kakaban: “Danau di Tengah Lautan”
Setelah perjalanan 1,5 jam dengan speedboat dari Maratua Paradise Resort, kami akhirnya tiba di salah satu keajaiban alam paling langka di dunia—Danau Kakaban, danau prasejarah yang terisolasi di tengah lautan, menyimpan ekosistem unik yang tak ada duanya.
Dermaga Kecil: Kami merapat ke dermaga kayu sederhana, di mana beberapa perahu nelayan sudah terparkir.

Trekking Menuju Danau: Jalan setapak dari papan kayu membawa kami melewati hutan bakau yang rimbun. Udara lembap dan suara jangkrik hutan mengiringi langkah kami.
Pemandangan Pertama: Tiba-tiba, dari balik pepohonan, danau itu muncul—airnya hijau pirus, tenang, dan dikelilingi dinding karang vertikal yang ditumbuhi akar-akar pohon purba. Rasanya seperti menemukan dunia yang hilang!

Pertama kali lihat Danau Kakaban: Luarrr biasa!
Spot pertama: Area dangkal dekat pintu masuk. Ubur-ubur Mastigias papua berkerumun seperti “awan hidup”

Spot favorit: Tengah danau (±5 meter dalam). Di sini, kami menemukan ubur-ubur bulan (Aurelia aurita) sebesar piring, melayang-layang dengan lembut.

Fakta Unik: Karena tak ada predator, ubur-ubur di sini kehilangan kemampuan menyengat sama sekali! Rasanya ajaib berenang bersama ubur-ubur tak menyengat yang lembut seperti jelly.
Eksplorasi Tambahan: Gua & Snorkeling
Hari masih pagi ketika kami meninggalkan Danau Kakaban, sebelumnya kami santai bersama dengan menikmati cemilan yang kami bawa dari resort. “Kita lanjut ke spot snorkeling terbaik lalu ke pulau dengan gua ajaib!”

Hari itu, setelah puas mengeksplorasi Danau Kakaban, kami bersiap untuk petualangan snorkeling —sebuah spot bawah laut yang disebut-sebut sebagai “taman surga” oleh para guide. Perjalanan menuju lokasi hanya memakan waktu 20 menit dari Kakaban, tetapi sensasinya seperti memasuki dunia lain. Ada yang bilang, kalau beruntung, bisa melihat ikan pari manta lewat di sini. Kami tidak melihatnya hari itu—tapi itu alasan untuk kembali lagi!


Setelah puas snorkeling, perjalanan kami berlanjut ke daratan di sebuah pulau kecil yang tersembunyi. “Di sini ada gua dengan bintang laut sebesar piring dan kolam biru ajaib!” kata guide kami, sambil menunjuk tebing karang yang menjulang.

Tidak ada perahu lain di hari itu, hanya group kami saja yang berlabuh di pulau ini, —hanya pasir putih, karang hitam, dan langit rendah yang seolah menyentuh permukaan laut.

Tiba di resort: Matahari terbenam dengan warna jingga-merah muda dan kami meneruskan berendam di depan Maratua Paradise Resort—perfect ending!

Hari Ketiga: Menyusuri Gua dan Bermain Kayak
Setelah sarapan pagi, kami menuju Gua Haji Mangku, sekitar 15 menit naik perahu dari Maratua Paradise Resort, lalu trekking 10 menit melewati hutan bakau.

Hal yang wajib di lakukan di sini adalah….Terjun dari tebing ke air yang jernih, dengan kedalaman yang tidak di ketahui….hahaha, ketinggian tebing: Sekitar 5 meter (level medium, tapi cukup bikin deg-degan!).
Gua ini seperti kolam renang alam versi extreme!
Gua Haji Mangku jadi spot favorit kami karena gabungan adrenalin dan keindahan alam. Rasanya seperti jadi tokoh utama di film petualangan!

Guide kami bilang, kalau berani menyelam sampai dasar, bisa lihat terowongan kecil yang konstan menghubungkan ke laut…tapi belum ada yang berani coba!

Kemudian, kami harus cepat-cepat keluar ari area Gua Haji Mangku ini kareana air sudah mulai surut, lalu kami putuskan untuk mampir ke resort yang tidak jauh dari resort kami, Green Nirvana Maratua Resort untuk mencoba kayak dan menikmati pantainya juga.

Meski beberapa dari kami belum pernah mengayuh sebelumnya justru jadi kenangan lucu! Saat mulai mendayung, air laut begitu jernih sehingga kami bisa melihat terumbu karang dan ikan-ikan kecil di bawah kayak. Pantai di area pulau Maratua ini dikelilingi oleh pasir putih dan hutan bakau di beberapa bagian. Kami mendayung perlahan menyusuri garis pantai, menikmati angin sepoi-sepoi dan suara ombak kecil.

Saat beristirahat di sebuah spot tenang, kami bisa menghentikan kayak dan hanya duduk diam, menikmati panorama. Langit biru, air laut yang berkilau, dan suara alam yang damai—semua terasa sempurna!

Kami juga bermain di pantai berpasir putihnya sampai sore, sambil sesekali berenang atau sekadar berjemur yang membuat badan kami kena sunburn.

Hari Keempat: Pulau Pasir dan Perpisahan dengan Maratua

Hari terakhir tiba. Setelah sarapan, kami check-out dengan perasaan campur aduk—senang tapi sedih harus pergi. Perahu membawa kami menyusuri Pulau Pasir, sebuah hamparan pasir putih di tengah laut yang muncul saat air surut. Kami berfoto-foto sepuasnya sebelum mampir lagi ke Pulau Derawan untuk makan siang terakhir sambil cari-cari souvenir.

Setelah empat hari menjelajahi keindahan Maratua, Kakaban, dan pulau-pulau eksotis lainnya, kami akhirnya harus kembali ke realitas. Perjalanan pulang dari Derawan ke Tarakan ditempuh dengan kapal speedboat yang memakan waktu ±3 jam. Begitu merapat, suasana pelabuhan langsung menyambut kami dengan hiruk pikuk aktivitas.

Surga di timur Indonesia ini bikin kami ingin balik lagi!
Dari berenang di antara ubur-ubur, menyaksikan anak penyu menetas, snorkeling di surga karang, gua misterius, adrenalin terjun dari tebing, hingga kayak yang lucu, semuanya menjadi kenangan manis kami. Sampai jumpa lagi, Maratua.

Empat hari bersama di Maratua bukan sekadar petualangan, tapi lembaran kenangan keluarga kami. Di antara deburan ombak dan tawa yang menggema, kami menemukan lebih dari sekadar keindahan alam—kami menemukan ikatan yang semakin erat antara sepupu.
Maratua mengajarkan kami bahwa jarak usia dan kesibukan sehari-hari tak berarti apa-apa ketika ada laut biru yang menyatukan, ubur-ubur yang menghibur, dan langit senja yang menyaksikan kebersamaan kami.
Kini pulang dengan kulit yang lebih gelap dan hati yang lebih terang. Terima kasih, Maratua, telah menjadi kanvas tempat keluarga kami melukis kebersamaan yang lebih indah.
P.S. Untuk sepupu-sepupuku: ‘Laut ini mungkin asin, tapi kenangan kita manis. Sampai bertualang lagi, ya!’