Hari 1: Kereta Cepat & Makanan Khas Yan’an
Kami berempat—kami berdua dan di tambah dua orang teman—akhirnya mewujudkan rencana liburan singkat ke Ganquan Yucha, spot mirip Antelope Canyon di Provinsi Shaanxi, Tiongkok.

Pagi-pagi sekali kami sudah berkumpul di Stasiun Xi’an North, excited naik high-speed train ke Yan’an. Perjalanan 2 jam 20 menit rasanya cepet banget! Kami ngemil jajanan khas Shaanxi sambil memandangi pemandangan luar yang berubah dari perkotaan ke perbukitan.

Tiba di Yan’an Station jam 10.48, sopir sudah menunggu. Ternyata Yan’an lebih sejuk dari Xi’an!
Karena makan pagi kami kurang, jadi sebelum ke Ganquan Yucha, mampir dulu ke restoran terdekat buat mencoba mie lokal.

Hari 1 Sore: Eksplorasi Ganquan Yucha
Setelah 1,5 jam naik mobil, akhirnya sampai! Tiket masuk RMB 70/orang (sekitar Rp150 ribuan), termasuk shuttle bus ke dalam canyon. Karena sedang low season, pengunjungnya sepi—pas buat foto-foto tanpa gangguan!

Ganquan Yucha: “Antelope Canyon” ala Tiongkok yang Memukau
Awalnya Tidak Dikenal: Area ini hanya dikenal oleh penduduk lokal sebagai lembah terpencil hingga sekitar tahun 2017, ketika fotografer Tiongkok mempublikasikan keindahannya.
Viral di Media Sosial: Foto-foto canyon yang mirip Antelope Canyon menyebar cepat, menarik perhatian traveler dan geolog.

Dikembangkan sebagai Destinasi Wisata: Pemerintah setempat mulai membangun jalur trekking, shuttle bus, dan fasilitas dasar pada 2018–2019.

📍 Lokasi & Akses
- Provinsi Shaanxi, Tiongkok, sekitar 80 km dari Kota Yan’an.
- Dari Xi’an: Naik high-speed train ke Yan’an (2 jam 20 menit), lalu lanjut mobil/sewaan ±1.5–2 jam.
- Dari Yan’an High sped train station: kami sewa mobil pribadi (±RMB 500/hari).

🎟️ Tiket & Jam Operasional
- Tiket masuk: RMB 70 (termasuk shuttle bus antar canyon).
- Jam buka: 08.00–17.00 (musim panas), tutup lebih awal di musim dingin.
- Best time to visit: April–Oktober (cuaca stabil, fotografi optimal).

Ganquan Yucha (甘泉雨岔) memang tidak memiliki catatan sejarah panjang seperti situs budaya Tiongkok lainnya, tetapi proses geologisnya yang unik menjadikannya destinasi yang memesona. Ganquan Yucha adalah labirin batu pasir yang terbentuk dari erosi angin dan air selama jutaan tahun. Mirip Antelope Canyon (AS), tapi dengan nuansa lebih “lembut” dan warna dominan oranye, merah, dan ungu.
Nama “Yucha” berarti “celah hujan” (rain chasm), merujuk pada bentuk canyon yang seperti terbelah oleh air hujan.

Area yang Bisa Dijelajahi:
- Canyon No. 1 (Flower Valley):
- Lebih kecil, tapi dinding batu bergelombang seperti lukisan alam.
- Spot foto favorit: “Light Beam Corridor” (sinar matahari masuk lewat celah tebing).
- Butuh waktu: 30–45 menit.
- Canyon No. 2 (Dragon Gorge):
- Lebih panjang dan dalam, dengan tekstur batu lebih dramatis.
- Ada bagian sempit seperti “Narrow Sky Path” (harus berjalan sideways!).
- Butuh waktu: 1.5–2 jam.
- Canyon No. 3–5:
- Kadang ditutup tergantung cuaca.
- No. 3 disebut “Rainbow Wall” karena gradasi warnanya yang tajam.

Dari 5 canyon, hanya 2 yang terbuka. Canyon pertama kecil tapi instagenik, kami selesai jelajah dalam 30 menit. Canyon kedua jauh lebih epik! Tebing batu pasirnya berkelok-kelok, dengan sinar matahari yang memantul lembut menciptakan gradien oranye-ungu. “Ini mirip banget sama foto-foto Antelope Canyon di AS, cuma kita gak perlu jauh-jauh!”

Tips dari kami:
- Bawa lensa wide-angle biar bisa menangkap keseluruhan tebing.
- Pakai sepatu anti-slip karena beberapa area agak licin.
- Air minum & snack penting, di dalam canyon gak ada penjual makanan.

Ganquan Yucha adalah mahakarya alam yang “muda” dalam peta wisata Tiongkok, tetapi nilai geologisnya setara dengan Antelope Canyon. Keindahannya yang viral membuatnya cepat populer, tapi tetap butuh perlindungan agar tidak rusak.
Malam Setelah Ganquan Yucha: Perjalanan ke Jingbian
Setelah puas menjelajahi Ganquan Yucha sampai sore, kami berempat langsung packing dan meluncur ke Jingbian dengan sopir mobil sewaan. Perjalanan malam itu lumayan gelap dan sepi, tapi pemandangan bintang-bintang di langit Shaanxi bikin kami terpana.
Di perjalanan ke Jingbian, perut kami berempat sudah keroncongan setengah mati, sambil menunjuk restoran kecil di pinggir jalan, langsung deh kami memutuskan: Ini tempat makan malam kita!
Begitu duduk, pemilik warung langsung merekomendasikan ikan bakar dengan kuah pedas spesial. “Ini favorit turis, pedas tapi nagih!”

Sampai di Jingbian sekitar jam 9 malam, kami langsung check-in ke homestay lokal yang udah kami booking sebelumnya. Harganya cuma RMB 150/kamar—sederhana tapi bersih, dan yang bikin seneng, pemiliknya super ramah!

Pagi-pagi bangun, ternyata ada beberapa pohon sakura lagi mekar sempurna tidak jauh dari homestay tempat kami menginap.

Kami sama sekali nggak menyangka—di tengah landscape Jingbian yang didominasi tebing merah dan gurun kering, ternyata ada sakura bermekaran tepat di belakang homestay kami! “Wah, dapat bonus sakura gratis nih!”
Sakura gunung Tiongkok (Prunus serrulata var. spontanea) yang kelopaknya lebih kecil dan warnanya agak merah muda pucat.
Waktu Mekar: Pertengahan April (kami dapat timing pas banget!), bunganya cuma bertahan 1-2 minggu.

Kami sarapan mantou (roti kukus) dan telur rebus sambil dikelilingi kelopak sakura yang berterbangan—suasana kayak di Jepang, tapi versi Tiongkok pedesaannya.

Sebelum sopir jemput jam 10 pagi, kami sempat jalan-jalan kecil ke lembah kecil dekat homestay. Nggak se-spectacular Wave Valley, tapi tebing-tebing merahnya udah kasih preview buat hari ini. “Ini kayak miniatur Zhangye Danxia!”

Perjalanan ke Jingbian Wave Valley
Sopir kami datang tepat waktu, dan perjalanan ke Wave Valley cuma makan waktu 40 menit. Sepanjang jalan, pemandangan bukit-bukit loess (tanah kuning khas Shaanxi) bikin kami makin penasaran.

Next Stop: Wave Valley
“Ini beneran mirip The Wave di Arizona!”
Tebingnya bergelombang seperti ombak yang membeku. Kami menghabiskan waktu hampir 3 jam di sini, puas memotret dari setiap angle.

Tips dari Kami:
- Pakai sepatu yang nyaman—medannya berpasir dan agak licin.
- Bawa air & snack—di dalem nggak ada warung.
- Jangan lupa sunscreen—panasnya nggak main-main!

Jingbian Wave Valley (靖边波浪谷): “The Wave” ala Tiongkok

🌄 Apa Itu Jingbian Wave Valley?
Sebuah formasi batuan pasir berlapis yang terbentuk dari sedimentasi dan erosi selama jutaan tahun, menciptakan pola bergelombang mirip The Wave di Arizona, AS. Warna dominannya merah, oranye, dan kuning akibat kandungan besi (iron oxide).

Area Utama yang Bisa Dijelajahi:
- Main Wave Valley (核心区):
- Spot paling ikonik dengan pola seperti ombak membeku.
- Golden Time: Saat matahari terbit/sore, warna batuan lebih kontras.
- Waterfront Danxia (水上丹霞):
- Batuan merah yang berpadu dengan kolam air alami, mirip Zhangye Danxia.
- Camel Canyon (骆驼峡谷):
- Tebing sempit dengan tekstur unik, cocok untuk fotografi.

Jingbian Wave Valley adalah hidden gem geologi yang masih alami dan murah dibandingkan versi AS-nya. Cocok dikombinasikan dengan trip ke Ganquan Yucha atau Yan’an!

Pulang dengan Kenangan Ombak Batu
Habis puas muter-muter Wave Valley sampai sore, kami balik ke homestay buat ambil barang.
Highlight Trip Ini:
- Antelope Canyon-nya Tiongkok (Ganquan Yucha) ✅
- Sakura unexpected di homestay Jingbian ✅
- Wave Valley yang instagenik ✅

Hari 3: Pulang dengan Kenangan Indah
Sebelum balik naik pesawat ke Shenzhen, kami mampir beli oleh-oleh: kacang walnut panggang dan kue bijan (mochi khas Shaanxi). Kami mendarat di Shenzhen siang hari dengan memori seru berempat.
Kesimpulan:
- Ganquan Yucha & Jingbian worth it buat yang suka alam eksotis tapi gak mau ribet visa AS.
- 3D2N cukup buat eksplorasi, apalagi pakai transportasi high-speed train.
