Petualangan Sepeda di Jogja: Dari Kraton ke Pantai Parang Tritis

Sepeda Santai Jogja di Masa Pandemi: Dari Kraton Hingga Pantai, 78.32 km Penuh Cerita

Di pagi yang sepi saat PPKM 2021, road bike-ku mulai berderak dari Apartemen Mataram City (Palagan KM7). Rute hari ini akan menyusuri jantung budaya Jogja sebelum menuju pantai selatan yang legendaris.

1. Start Awal: Palagan – Monjali – Malioboro

Pukul 06.30 WIB, roda mulai berputar. Monjali yang biasanya ramai, pagi itu hanya dijaga kesunyian. Aku memperlambat laju di sepanjang jalan dari kawasan Tugu Jogja ke Jalan Malioboro yang sepi, toko-toko masih tertutup rapat, hanya suara roda sepeda yang bergema di jalanan.

2. Mampir di Halaman Kraton Jogja: Menyapa Pusaka Budaya

Sebelum belok ke selatan, aku menyempatkan diri mampir ke halaman Kraton Jogja. Di pagi buta ini, kompleks keraton terasa sangat mistis. Beberapa abdi dalem sudah beraktivitas, sementara bangunan-bangunan tua berdiri kokoh menyimpan ribuan cerita.

Aku berhenti sejenak di Pagelaran, memarkirkan sepeda sebentar untuk menikmati arsitektur keraton yang megah tanpa gangguan turis. Suasana yang jarang bisa dinikmati di masa normal.

3. Alun-Alun Kidul: Misteri Pohon Beringin yang Legendaris

Dari keraton, aku meluncur ke Alun-Alun Kidul. Dua pohon beringin kembar (Kyai Dewandaru dan Kyai Janadaru) masih tegak berdiri dengan mitos masangin-nya yang terkenal.

4. Menuju Selatan: Bantul & Jalan Pantai

Dari alun-alun, perjalanan dilanjutkan melalui Jalan Bantul. Sawah-sawah mulai terlihat menghijau, kontras dengan jalan aspal yang masih basah oleh embun pagi.


3. GUMUK PASIR Parangtritis KM 0

Perjalanan kemudian membawaku ke tempat yang tak terduga – plang KM0 Parangtritis yang ternyata berada di kawasan gumuk pasir.! Aku berhenti sejenak, mengabadikan momen dengan foto sepeda di depan plang itu—wajib buat koleksi dokumentasi gowes.

Area itu terlihat sepi, hanya ada beberapa kios penjual kelapa yang sudah buka tapi tanpa hiruk-pikuk turis. Aku terpana melihat padang pasir kecil itu, kontras dengan birunya langit di hari itu. Gumuk Pasir Parangkusumo seperti padang pasir mini—anginnya kencang, butiran pasir beterbangan. Aku parkirkan sepeda dan berjalan sedikit ke atas bukit pasir. Pemandangannya epik banget: hamparan pasir kuning keemasan kontras dengan birunya langit hari itu. Worth it untuk difoto!

Tak jauh dari sana, konservasi penyu Pantai Elang menjadi tempat persinggahan berikutnya. Melihat penyu-penyu yang dilindungi dan belajar tentang proses konservasinya membuatku sadar betapa berharganya ekosistem ini. Menurut salah satu petugas di sana, tempat ini sudah ada sejak tahun 1980-an.

“Awalnya, ini adalah inisiatif nelayan lokal,” ujarnya sambil menunjukkan koleksi telur penyu yang sedang diinkubasi. “Mereka sadar populasi penyu terus menurun karena perburuan dan rusaknya habitat.”

4. PANTAI Parangkusumo & Parangtritis

Pantai Parangkusumo menjadi tujuan selanjutnya. Ombaknya yang tenang dan tebing karangnya yang unik memberiku spot foto sempurna untuk road bike kesayanganku.

Sebelum pulang, aku kembali ke Parangtritis untuk menikmati pantainya. Nelayan-nelayan sedang membersihkan hasil tangkapan dan kusir delman yang sedang menunggu kedatangan turis, sementara ombak terus bergulung dengan ritme yang menenangkan.

Aku juga tak lupa mengabadikan momen foto sepeda di pinggir pantai, dengan ombak sebagai latar belakang. Road bike terlihat keren di antara pasir dan deburan ombak—meski agak deg-degan takut kena air asin!


6. Pulang: Panas Terik & Kenangan Manis

Perjalanan pulang lebih menantang karena matahari sudah tinggi (sekitar 11.00 WIB). Aku memacu sepeda pelan-pelan, menikmati sisa perjalanan sambil sesekali berhenti minum dan cari-cari warung sate klatak di daerah Bantul lagi.

Perjalanan sejauh 78.32 km ini bukan sekadar angka di odometer. Mulai dari kesunyian Malioboro, kemegahan Kraton di pagi buta, misteri Alun-Alun Kidul, keunikan gumuk pasir, hingga kehidupan penyu di konservasi – semuanya membentuk mozaik pengalaman yang tak terlupakan. Jogja memang selalu punya cara untuk membuat kita jatuh cinta, bahkan di masa pandemi sekalipun. Kaki pegal, kulit terbakar matahari, tapi hati penuh dengan cerita-cerita baru yang siap dibagikan.


Kesimpulan: Gowes Seru Meski Sepi

  • Rute favorit: Jalur Bantul ke Parangtritis (aspal mulus & pemandangan sawah).
  • Spot foto wajib: Plang KM0, Gumuk Pasir, & pinggir pantai Parangkusumo.
  • Tips:
  • Bawa cukup air & sunscreen (panas Pantai Selatan gak main-main!).
  • Hati-hati di jalur berpasir kalau pakai road bike.
  • Jangan lupa foto aesthetic biar ada kenang-kenangan!

Ada yang pernah nyoba rute ini? Atau punya spot seru lain di Jogja?

Tinggalkan komentar