Ziarah Yubileum 2025: Menjelajahi 9 Gereja di Macau

Cerita Macau Pilgrimage kami

Walaupun sengatan sinar matahari sangat terik, keringat bercucuran sekujur tubuh, langkah kaki kami tidak sedikitpun terhenti menyusuri tiap sudut kota Macau.

Delapan peziarah, delapan jam, delapan belas ribu langkah, kami menyambangi sembilan Rumah Tuhan sambil mendaraskan doa Rosario.

Suka cita menyelimuti hati, ketika perjalanan ini diakhiri dengan Ekaristi Kudus menyambut Tubuh dan Darah Kristus.

Terima kasih Tuhan Yesus, Terima kasih Bunda Maria untuk pengalaman iman ini…✝️⛪️🕊️🤍

#17052025

Perjalanan Awal: Hong Kong ke Macau via HZMB

Kami berdelapan berangkat pagi dari Hong Kong menggunakan bus lintas batas melalui Hong Kong-Zhuhai-Macao Bridge (HZMB). Perjalanan 55 menit ini menawarkan pemandangan laut spektakuler, dengan tiket bus reguler seharga HK$65. Setelah proses imigrasi yang lancar di Macau, kami langsung naik bus 101X menuju gereja pertama.


Tahun Yubileum 2025 yang bertema “Peziarah Harapan” mengundang umat beriman untuk merenungkan pentingnya harapan dalam kehidupan iman. Tema ini menjadi panggilan bagi dunia yang dilanda berbagai tantangan global, seperti konflik, ketidakadilan, dan krisis lingkungan

⛪ Rute Ziarah 9 Gereja di Macau Peninsula

  • St. Lawrence’s Church 聖老楞佐堂 , R. de São Lourenço, Macao; Gereja kuning bergaya neoklasik (dibangun 1560) ini menjadi awal ziarah. Kami menyaksikan interiornya yang megah dengan pilar marmer dan lampu gantung kristal. Kami membuka ziarah dengan Doa Jubilee resmi tahun 2025 di depan altar utama, dilanjutkan doa Rosario misteri gembira.
  • St. Joseph Seminary Church 聖若瑟修院藏珍館 (Igreja e Seminário de São José) adalah salah satu bangunan sakral tertua di Macau, berdiri megah di Rua do Seminário. Di dalam bangunan gereja ini juga disimpan tulang (relikui) St. Francis Xavier (1506–1552) sebagai penghormatan terhadap perannya sebagai “Rasul Asia” dan hubungan historisnya dengan misi Yesuit di Macau. Gereja ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi bisu semangat misionaris yang gigih. Ketika kami berdiri di bawah kubahnya, kami merasakan getaran doa yang telah dipanjatkan selama 300 tahun—sebuah warisan iman yang masih hidup hingga hari ini.
  • St. Augustine’s Church 聖奧斯定堂: Gereja bergaya Barok ini, Gereja St. Augustine’s (Igreja de Santo Agostinho) adalah salah satu gereja tertua di Macau yang masih aktif, dengan sejarah unik yang memadukan misi Yesuit, warisan Augustinian, dan tradisi lokal. Altar utama bergaya Baroque-Rococo dengan patung St. Augustine memegang hati bernyala. Lantai ubin Portugis abad 19 bermotif geometris.

Makan Siang :

Setelah selesai dari St. Augustine’s Church, kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju Macau Cathedral (Igreja da Sé) sambil menyusuri jalanan berbatu khas Macau. Di tengah perjalanan, kami mampir untuk makan siang di Macao Galo Portuguese Restaurant (公鷄葡國餐廳) – sebuah restoran Portugis otentik yang direkomendasikan google saat di daerah itu.

“Makan siang ini bukan sekadar mengisi energi, tapi juga merasakan warisan kuliner Macau yang kaya.”

Setelah makan siang yang mengenyangkan, kami melanjutkan perjalanan 10 menit ke Macau Cathedral sambil melewati toko dan bangunan masa kolonial Portugis Senado Square, air mancur dan gereja St. Dominic’s yang sangat ramai hari itu.

  • Cathedral 主教座堂(大堂)(Igreja da Sé): Katedral utama Macau dengan altar marmer putih, tempat kami berdoa singkat sebelum lanjut ke destinasi padat berikutnya.
  • St. Dominic’s Church 玫瑰聖母堂(板樟堂): Sangat ramai dengan turis saat itu dimana gereja ini juga menjadi salah satu spot turis di Macau! dengan penjagaan yang lumayan ketat dari tim security, jadi kami hanya berdoa dan menyelesaikan ziarah kami…tapi lupa untuk berfoto-foto. Konon, gereja kuning terang di Senado Square ini memiliki Museum Harta Suci dengan 300 artefak religius.
  • St. Lazarus Church 望德聖母堂 : Sayangnya ditutup saat kami tiba. Gereja abad ke-16 ini biasanya populer untuk foto arsitektur pastelnya, jadi kami hanya berdoa di area depan gereja nya saja saat itu.
  • St. Anthony’s Church 聖安多尼堂 : Salah satu gereja tertua Macau (1587), lokasinya teduh dengan taman rindang. Gereja St. Anthony, salah satu dari tiga gereja tertua di Macau, memegang peran penting sebagai pusat penyebaran iman Katolik sejak abad ke-16. Sebagai tempat ibadah para misionaris Yesuit sebelum berangkat ke Jepang dan Tiongkok daratan, termasuk St. Francis Xavier yang sering berdoa di sini.
  • Chapel of Our Lady of Penha 主教山聖堂: Setelah mengunjungi tujuh gereja dalam perjalanan ziarah Jubilee 2025, dengan memesan taxi kami tiba di Chapel of Our Lady of Penha di puncak Penha Hill. Gereja ini, biasanya hanya dibuka untuk ziarah dan misa khusus. Dibangun tahun 1622 oleh pelaut Portugis sebagai ucapan syukur setelah selamat dari serangan bajak laut Belanda. Nama “Penha”: Berasal dari Nossa Senhora da Penha (Bunda Maria dari Batu Karang), pelindung pelaut dalam tradisi Portugis. Dalam ziarah Jubilee, menjadi salah satu gereja utama untuk Doa Tahun Suci.

Gereja kecil yang anggun ini, terletak di Penha Hill (Colina da Penha), adalah salah satu situs ziarah tertua di Macau. Berlokasi puncak bukit (tinggi 62 meter) sebagai mercusuar doa bagi kapal yang masuk ke pelabuhan Macau. Pemandangan Macau Tower dan teluk Macau dari sini memukau!


✨ Akhir Ziarah: Misa & Perayaan di Taipa

  • Our Lady of Mount Carmel Church 嘉模聖母教堂: Kami tiba tepat waktu untuk misa sore pukul 18:30 dalam Bahasa Inggris. Gereja di Taipa ini bernuansa tenang, cocok untuk refleksi setelah ziarah panjang. Gereja Our Lady of Mount Carmel (Igreja de Nossa Senhora do Carmo) adalah satu-satunya gereja Katolik bersejarah di Pulau Taipa, Macau. Dibangun pada era keemasan misi Portugis, gereja ini menjadi saksi perkembangan komunitas Katolik di luar Semenanjung Macau.

“Dari pelaut hingga peziarah, gereja ini tetap menjadi mercusuar iman di tengah perubahan Taipa.”
Our Lady of Mount Carmel menggabungkan kesederhanaan arsitektur dengan kedalaman spiritualitas, mencerminkan warisan Katolik Macau yang unik.

Perayaan Ulang Tahun di Rua de Cunha: Lanjut ke Desa Taipa Tua yang warna-warni yang berlokasi tidak jauh dari Our Lady of Mount Carmel Church , kami makan malam di Restoran Seng Cheong yang legendaris. 

Bubur kepitingnya yang gurih jadi hidangan utama, disusul belut yang di steam dengan bawang putih dan makanan lain yang kami pesan. Restoran ini selalu ramai, tapi kami beruntung mendapat meja besar untuk group kami.

Di sini, istri dan salah satu teman kami dikejutkan dengan kue ulang tahun—happy moment!

Perjalanan kami berdelapan dari Hong Kong ke Macau—menjelajahi 9 gereja bersejarah, merasakan kekhusyukan doa, hingga berbagi tawa di meja makan—telah menjadi kisah yang mengukir kenangan abadi dalam hati.

“Selamat tinggal, Macau—sampai jumpa di ziarah berikutnya! 🙏

“Deus escreve direito por linhas tortas”
(Tuhan menulis yang lurus di atas garis yang berliku).


Tinggalkan komentar