Hari Pertama: Kedatangan & Midnight Adventure di Bukit Bintang
Mendarat di Bandara Sultan Abdul Aziz Shah (SAAS), atau yang lebih akrab disapa Bandara Subang, pada pukul 9 malam, terasa seperti memasuki dimensi waktu yang berbeda. Saat pesawat kami menyentuh landasan, hal pertama yang terasa adalah betapa dekatnya posisi pesawat dengan terminal. Tidak ada taxiway yang berbelit dan lama. Hanya beberapa saat setelah mendarat, kami sudah berjalan menuju pintu keluar pesawat. Bandara ini lebih kecil, lebih intim. Langit-langitnya tidak setinggi bandara internasional modern, suasannya mengingatkan pada era 80-an atau 90-an, namun terawat dengan sangat baik. Kesan retro dan vintage ini justru memberi daya tariknya sendiri; sebuah keautentikan yang sudah jarang ditemui.

Jarak dari pesawat ke konter imigrasi sangat singkat, mungkin hanya berjalan 5 menit. Ini adalah kemewahan yang tidak terduga, terutama setelah penerbangan yang melelahkan. Antrian di imigrasi tidak panjang. Petugasnya terlihat efisien dan prosesnya berjalan cepat tanpa hambatan. Suasana di ruang kedatangan terasa tenang dan tidak ramai. Hanya ada beberapa penerbangan yang datang bersamaan, sehingga tidak ada kesan berdesak-desakan.
Area pengambilan bagasi juga mencerminkan keseluruhan atmosfer bandara: kompak dan efisien. Kami hampir tidak punya waktu untuk berdiri lama-lama menunggu, karena tak lama setelah kami tiba di carousel kami langsung bisa ambil bagasi kami. Kecepatan proses dari turun pesawat hingga mendapatkan koper kami mungkin tidak lebih dari 30 menit. Sebuah rekor yang membuat kami tercengang.
Begitu keluar dari area kedatangan, kami disambut oleh pemandangan ruang tunggu yang sederhana. Dan di sanalah, seperti oase di tengah keheningan malam, Tea Garden Restaurant berdiri dengan lampu terangnya, masih ramai dengan para pelancong yang sedang bersantai.
Langkah kami langsung tertuju ke sana. Aroma rempah-rempah yang hangat dan menggugah sudah tercium dari kejauhan. Kami menemukan meja dan langsung memesan Curry Laksa Mee andalan mereka.

Dalam kondisi lelah dan sedikit kedinginan karena AC, semangkuk laksa yang datang terasa seperti pelukan hangat. Kuahnya yang kental, gurih, dengan rasa rempah yang kompleks dan sentuhan santan, langsung menghangatkan tubuh dan jiwa. Mie-nya kenyal, dan setiap suapan yang berisi udang dan tahu terasa seperti penyegaran bagi indera perasa. Ini bukan sekadar makan; ini adalah ritual penyambutan yang paling sempurna ke Malaysia.
Setelah perut kenyang dan hati senang, baru kami membuka aplikasi Grab. Lokasi bandara yang terintegrasi dengan baik membuat driver Grab dengan mudah menemui kami. Perjalanan keluar dari bandara juga lancar, tanpa kompleksitas jalan yang berbelit.
Bandara Subang terasa seperti bandara pribadi yang memberikan transisi yang mulus dan tanpa stres dari pesawat menuju ke hotel kami.
Kami menginap di Novotel City Center, berlokasi di jantung kota Kuala Lumpur, terletak strategis di area Bukit Bintang, tepat di seberang Pavilion Mall yang megah.
Setelah check-in cepat di hotel yang nyaman, rasa penasaran mengajak kami keluar untuk menyerap energi malam Kuala Lumpur.

Udara malam di Bukit Bintang terasa berdenyut. Lampu neon, suara lalu lintas, dan kerumunan orang menciptakan atmosfer yang hidup. Tujuan kami adalah Jalan Alor yang legendaris. Meski hampir tengah malam, suasana di sini masih sangat ramai. Kami memulai “pesta kuliner tengah malam” dengan membeli Shawarma Mix Ayam dan Beef yang viral. Rotinya lembut dan isiannya berempah, cukup untuk membangkitkan selera.

Belum puas, kami menyambangi gerai Kunafa Crisps yang biasanya selalu ramai. Kami membeli satu porsi take-out dengan beragam topping. Teksturnya yang renyah di luar dan lumer di dalam, manisnya pas, sungguh memanjakan.

Di perjalanan menuju Jalan Alor, kami melihat gerai Mon Chinese Beef Roti. Penasaran dengan antriannya yang terkenal di siang hari, kami membeli satu untuk cicip. Rasanya familiar, mirip dengan roti daging khas Tiongkok yang pernah kami coba dalam perjalanan sebelumnya ke China. Enak, tapi tidak terlalu mengejutkan.
Sampai di Jalan Alor, pemandangan deretan stand makanan dengan lampu terang dan teriakan para penjual menyambut kami.

Kami bisa merasakan ini adalah surga makanan, tapi dengan “harga turis” yang memang sedikit lebih mahal. Kami memutuskan untuk hanya membeli Jus Delima yang segar sebelum berjalan santai menikmati suasana, sambil berusaha “membakar” kalori dari makan malam kami yang beruntun. Semakin larut, nuansa kawasan “red district” di beberapa sudut Bukit Bintang pun semakin terlihat jelas, dengan kedai-kedai makan yang masih ramai. Kami memutuskan untuk kembali ke hotel, perut kenyang dan hati puas.

Hari Kedua: Dari Sarapan Legenda Hingga Kuliner Bintang Michelin
Setelah menikmati fasilitas gym hotel di pagi hari dan beristirahat sejenak, kami berjalan kaki menuju Kopi Tiam Capitol Cafe yang legendaris di kawasan Bukit Bintang. Suasana retronya langsung membawa kami kembali ke masa lalu. Bangku kayu, lantai ubin khas peranakan, dinding yang dipenuhi menu lama, dan aroma kopi yang menggoda menyambut kami.


Kami memesan:
- Morning Roti Bakar Set: Sepotong roti panggang yang sempurna—renyah di luar, lembut di dalam—diolesi mentega dan kaya (selai santan dan telur) yang wangi. Set ini dilengkapi dengan dua butir Half Boiled Egg yang masih hangat dalam mangkuk kecil. Kami menambahkan kecap asin dan lada putih, lalu mengaduknya menjadi sutra krem yang nikmat sebelum dituang ke atas roti.
- Hogasai Ping: Minuman unik yang merupakan perpaduan Milo dan Kopi. Rasa coklat malt dari Milo dan pahit kopi berpadu dalam harmoni yang sempurna, disajikan dingin dan sangat menyegarkan.
- Curry Chicken Cheong Fan: Sesuai rekomendasi utama, hidangan ini luar biasa. Cheong Fan (rolade beras) yang lembut dan halus direndam dalam kuah kari ayam yang gurih dan hangat. Potongan ayam yang empuk di dalamnya membuat setiap suapan terasa memuaskan. Benar-benar hidangan yang comforting.

Setelah perut kenyang, kami melanjutkan jalan-jalan santai di sekitar Bukit Bintang. Saat itulah, muncul ide spontan: “Bagaimana kalau mencoba kuliner yang masuk Michelin Guide?” Kami pun membuka ponsel dan memutuskan untuk menuju LimaPulo: Baba Can Cook Restaurant yang tercantum dalam Michelin Guide 2024 dan 2025.

Kami menuju sana dan tiba tepat sebelum pukul 12.00. Restoran yang tidak terlalu besar itu sudah banyak meja yang di “reserved”, tetapi kami berhasil mendapatkan meja. Suasana di dalamnya hangat dan homey, dengan dekorasi yang mencerminkan budaya Peranakan.
Tanpa ragu, kami memesan dua hidangan andalan mereka:
- Curry Laksa: Jika curry laksa di bandara adalah sambutan yang hangat, maka curry laksa di sini adalah sebuah simfoni rasa. Kuahnya sangat kompleks—kaya rempah, gurih dari santan, dan memiliki depth of flavor yang luar biasa. Isiannya segar dan melimpah, membuat setiap sendok menjadi petualangan sendiri.
- Cucur Udang Goreng: Ini adalah penemuan terbaik! Jajanan tradisional yang mirip gorengan ini ternyata luar biasa. Bagian luarnya renyah, sementara bagian dalamnya lembut dan sedikit kenyal, dipadukan dengan potongan udang dan rempah yang gurih. Saus yang manis dan pedas melengkapinya dengan sempurna.

Makan siang di LimaPulo bukan sekadar mengisi perut, tapi sebuah pengalaman kuliner yang mengangkat cita rasa tradisional ke level yang sangat tinggi. Benar-benar layak mendapat acungan jempol dari Michelin.
Setelah puas menikmati hidangan bintang Michelin di LimaPulo: Baba Can Cook, kami kembali ke Novotel untuk check-out. Suasana di pusat kota terasa sedikit berbeda dari biasanya.

Ternyata, Kuala Lumpur sedang menggelar ASEAN Summit, dan kami sempat merasakan dampaknya dengan beberapa kali penutupan jalan yang membuat perjalanan menjadi lebih hati-hati. Pemandangan iring-iringan mobil dinas dan polisi berseragam menjadi pemandangan singkat yang mengingatkan betapa kami sedang berada di ibu kota yang sedang menjalankan peran penting.
Kami lalu menuju basecamp baru kami, Komune Living di area Bangsar. Berbeda dengan kemewahan dan keramaian Bukit Bintang, Bangsar menawarkan suasana yang lebih santai, sedikit trendy, dan lebih lokal. Setelah check-in, kami memanfaatkan waktu dengan bersantai mengeksplorasi area sekitar hotel. Suasanya yang lebih tenang terasa seperti pelengkap yang pas setelah dua hari penuh aktivitas.

Sore itu diwarnai dengan antisipasi yang menyenangkan: menunggu kedatangan keluarga dari Jakarta yang akan bergabung dengan kami. Akhirnya, mereka tiba! Pelukan dan canda mewarnai reuni sederhana di lobi hotel. Malam itu dihabiskan dengan bercengkerama santai, berbagi cerita perjalanan, dan tentu saja, merencanakan hari istimewa esok: sebuah wedding ceremony untuk keponakan kami yang akan menjadi puncak kebahagiaan dari seluruh perjalanan ini.
Perjalanan city-exploration kami berubah menjadi perjalanan keluarga, dan kami tidak sabar menantikan kebahagiaan yang akan datang esok hari.
Hari ke-3: Sebuah Hari Penuh Sukacita di Klang
Hari ini adalah hari yang istimewa. Kami bangun pagi sekali, pukul 06.00 lebih, untuk bersiap menyambut hari spesial keponakan. Sementara menunggu makeup artist (MUA) yang janjinya ketemu di lobi hotel, saya menyempatkan diri untuk ke gym di lantai 29. Melakukan olahraga ringan sambil menikmati pemandangan kota Kuala Lumpur dari ketinggian di pagi buta yang masih sepi, menjadi awal hari yang sempurna dan menenangkan.
Setelah proses rias selesai dan semua keluarga berhias rapi, fokus hari ini sepenuhnya adalah untuk merayakan cinta. Kami berangkat dari hotel sekitar pukul 11.00 menggunakan bus yang telah disediakan. Perjalanan kali ini membawa kami keluar dari pusat kota menuju G-Glasshouse at Klang.
Sesampainya di sana, suasana sudah sangat meriah dan penuh kebahagiaan. G-Glasshouse sebagai venue-nya sungguh memukau dengan desainnya yang modern, elegan, dan dipenuhi cahaya alami.

Acara wedding ceremony pun berlangsung. Setiap momennya terasa magis dan mengharukan, dari prosesi adat yang khidmat, sesi foto bersama keluarga yang riang, hingga jamuan makan malam yang meriah. Kami menghabiskan seluruh siang hingga malam hari di sana, tenggelam dalam gelombang sukacita dan ucapan selamat untuk mempelai yang berbahagia.

Baru sekitar lewat pukul 22.00, bus menjemput kami untuk kembali ke Komune Living, Bangsar South. Rasa lelah yang menyenangkan memenuhi tubuh, tetapi hati dipenuhi dengan kenangan manis yang akan abadi. Perjalanan city-exploration kami selama dua hari sebelumnya telah bertransformasi sempurna menjadi sebuah perayaan keluarga yang penuh makna, dan hari ini adalah puncaknya yang begitu indah.
Hari ke-4: Perpisahan, Nasi Kandar, dan Pesta Durian
Setelah hari kemarin yang begitu melelahkan sekaligus membahagiakan, kami pun bangun agak siang. Untuk sarapan, kami memilih cara yang praktis dengan memesan Grab Food langsung ke kamar hotel. Suasana pagi itu sudah diwarnai sedikit rasa perpisahan, karena beberapa anggota keluarga harus check-out lebih awal dan bergegas menuju bandara KLIA.
Kami yang masih punya waktu luang hingga penerbangan malam, memutuskan untuk memanfaatkannya dengan melanjutkan petualangan kuliner. Tujuan makan siang kami adalah Restoran Sri Nirwana Maju, sebuah tempat yang sangat populer dan bahkan tercatat dalam Michelin Guide.

Pengalaman makan di sini benar-benar otentik. Kami memesan Nasi Kandar dan disajikan di atas daun pisang. Sensasi makan dengan alas daun pisang ini langsung menambah dimensi rasa yang lebih tradisional dan aromatik. Kami menyantap nasi putih pulen yang dilumuri berbagai kuah kari—dari kari daging, ayam, hingga ikan—dengan lauk-pauk seperti fried chicken, lamb, dan sotong. Rasanya begitu kaya rempah dan menggugah selera, sebuah kuliner yang benar-benar mewakili cita rasa Malaysia.

Setelah kenyang, kami berjalan sebentar ke mall di seberang restoran untuk mencerna makanan, sebelum menuju destinasi wajib lainnya: Durian BB World! Tidak sah datang ke Kuala Lumpur tanpa menikmati rajanya buah ini. Kami duduk dan menikmati Musang King yang dagingnya lembut, manis, dan pahitnya khas. Sungguh sebuah pesta rasa yang memuaskan bagi para pecinta durian.

Walau perut sudah sesak, tekad kami untuk mencoba hidangan terkenal lainnya belum pudar. Kami menuju Restoran Lai Fong Lala Noodle untuk mencicipi Noodle Udang andalannya. Bihun Mi-nya yang kenyal disajikan dengan kuah udang yang pekat, gurih, dan amis yang sedap. Meski sudah kenyang, kami tidak menyesal mencobanya karena rasanya yang memang istimewa.

Setelah memuaskan hasrat kuliner di Lai Fong Lala Noodle, kami memutuskan untuk menjelajah area pusat kota dengan berjalan kaki. Cuaca saat itu cukup terik, namun semangat kami tidak surut. Kami menyusuri Petaling Street Market yang dipadati toko-toko dan tempat perbelanjaan, hingga akhirnya tiba di Central Market. Suasana di dalamnya yang teduh dan penuh dengan warna-warni cenderamata tradisional menjadi tempat yang sempurna untuk berbelanja ole-ole terakhir.

Karena panasnya hari mulai terasa, kami pun mencari tempat untuk beristirahat. Kami menemukan sebuah coffee shop jalanan yang nyaman di kawasan The River of Life, tepatnya di area BUZZ. Duduk-duduk santai di sana sambil menyeruput kopi dingin dan menikmati semilir angin sore, sambil memandangi pemandangan sungai yang mulai diterangi lampu-lampu sore hari, menjadi momen tenang yang sangat tepat sebelum keberangkatan.

Dengan perut yang sangat kenyang dan hati yang bahagia, kami akhirnya kembali ke hotel untuk mengambil barang dan bersiap menuju bandara. Perjalanan 3 malam 4 hari ini ditutup dengan sempurna: sebuah pernikahan yang mengharukan, reuni keluarga yang hangat, dan petualangan kuliner yang tak terlupakan dari gerai kaki lima hingga restoran bintang Michelin.

Kuala Lumpur, sampai jumpa lagi!