Perjalanan kami dimulai pada hari Natal dari Hong Kong airport dengan pesawat Hong Kong Express UO244 pada pukul 06:00 pagi. Tujuan utama trip kali ini adalah menyelami cita rasa Guizhou.
Kedatangan Pagi ke Pusat Kota
Setelah pesawat mendarat pada pukul 8:05 pagi di Bandara Longdongbao. Dengan 5 anggota rombongan dan koper-koper penuh dengan baju musim dingin, kemudahan transportasi adalah prioritas. Melalui aplikasi Didi (platform ride-hailing terbesar di Tiongkok), kami memesan opsi Didi XL—pilihan yang tepat untuk kelompok dan bagasi. Mobil MPV yang nyaman membawa kami meluncur dari bandara menuju jantung kota. Pengalaman ini menunjukkan efisiensi Guiyang modern, sebuah kontras yang menarik dengan warisan budayanya yang akan segera kami jelajahi.

Nototel Guiyang Downtown: Pangkalan Strategis di Jantung Kota
Tujuan transit kami adalah Nototel Guiyang Downtown, sebuah pilihan yang strategis yang terletak di distrik pusat selama 3 malam di kota Guiyang. Kebijakan hotel yang memahami kebutuhan traveler memungkinkan kami melakukan early check-in untuk satu kamar terlebih dahulu. Ini adalah solusi praktis yang sangat berarti: meletakkan seluruh koper di satu kamar, berganti pakaian setelah perjalanan, dan langsung memulai petualangan.

Makanan Pertama: Dari Jajanan Jalanan ke Hidangan Legendaris
Dengan beban yang sudah dititipkan, petualangan kuliner segera dimulai. Di jalanan dekat hotel, kami disambut oleh aroma khas Yangyu Pian (洋芋片)—keripik kentang iris tipis ala Guizhou yang digoreng renyah dan dibalut bumbu bubuk pedas, asam, dan gurih. Camilan ini adalah pengantar yang sempurna.

Alamatnya:
猫耳朵现炸洋芋片(蔡家街店)
No. 6 Caijia Street, Yunyan District, Guiyang City

Prosesnya sederhana, tetapi keistimewaannya terletak pada:
- Bumbu Bercampur (干拌, Ganban): Setelah digoreng, keripik yang masih panas segera dibumbui dengan campuran rempah bubuk kering. Metode “tumis kering” ini membuat bumbu melekat sempurna.
- Komposisi Bumbu Khas: Campuran bumbunya biasanya terdiri dari:
- Cabe bubuk Guizhou (辣椒面): Dasar kepedasan yang khas.
- Ziran (孜然, jinten bubuk): Memberikan aroma “barbekyu” yang hangat.
- Asam Bubuk atau Cuka Kering: Sentuhan asam yang membangkitkan selera, ciri khas rasa Guizhou.
- Bubuk Wuxiang (五香粉, lima rempah) atau Bubuk Bintang Adas (八角粉) : Kedalaman rasa umami.
- MSG (味精): Penambah rasa gurih yang umum digunakan.
Hasilnya adalah snack yang super renyah, gurih, pedas, dan asam — sebuah ledakan rasa yang langsung membangunkan indra perasa dan menjadi pengantar sempurna bagi petualangan kuliner kami.
Nuòmǐfàn (Nasi Ketan Kepal): Penghangat Tradisional yang Mengenyangkan
Sebelum menuju rumah makan, kami membeli Nuòmǐfàn, sebuah “bantal” penghangat yang praktis dan mengenyangkan. Hidangan tradisional Miao dan Dong ini terbuat dari beras ketan berkualitas tinggi yang dikukus dalam tabung bambu atau dibungkus daun. Proses pengukusan dengan bambu atau daun ini memberikan aroma yang khas.

Nasi ketan yang pulen dan hangat ini biasanya diisi dengan berbagai isian gurih, seperti:
- Là Ròu (腊肉): Daging asap khas Guizhou yang memberikan rasa asin dan umami.
- Yā Ròu (鸭肉) atau Jī Ròu (鸡肉): Suwiran daging bebek atau ayam berbumbu.
- Huāshēng (花生): Kacang tanah sangrai untuk kerenyahan.
- Sayuran acar dan sedikit gula pasir.
Rasanya yang sederhana, gurih, dan mengenyangkan berfungsi sebagai “alas perut” yang sempurna sebelum menyantap hidangan utama yang lebih kuat. Makanan ini mencerminkan kebijaksanaan lokal untuk membuat perjalanan atau kerja di cuaca dingin tetap berenergi.

Changwangmian (肠旺面): Mie Ikonik Guiyang
Akhirnya, kami tiba di tujuan utama: menikmati semangkuk Changwangmian yang autentik, kuliner Guiyang yang melegenda, yang namanya merupakan permainan kata dari bahan utamanya:
- Cháng (肠): Usus babi yang dibersihkan dengan sempurna, direbus hingga empuk, dan memiliki tekstur kenyal yang unik.
- Wàng (旺): Darah babi yang dikukus (biasanya darah bebek atau babi) yang dipotong dadu, dengan tekstur sehalus tahu yang sangat lembut namun tidak hancur.
- Miàn (面): Mi telur kuning segar yang kenyal, biasanya dibuat secara handmade, dengan warna kuning alami dan tekstur “al dente”.
Alamatnya:
Jinpai Luoji Changwang Noodles 金牌罗记肠旺面(蔡家街店)
18 Caijia Street, Next to the Construction Bank at the intersection of Caijia Street and Zhongshan East Road, Yunyan District, Guiyang City

Kuahnya adalah jiwa dari hidangan ini. Kaldu tulang babi yang kaya direbus berjam-jam hingga susu dan gurih. Bumbu utamanya adalah lada merah Guizhou (糊辣椒), yang tidak hanya memberikan kepedasan tetapi juga aroma sangrai yang kompleks dan mendalam, berbeda dengan rasa pedas cabe biasa.

Hidangan ini disajikan dengan taburan doufu goreng (豆腐果) yang menyerap kuah, potongan daun bawang, dan kadang kacang kedelai. Setiap suapan adalah harmoni dari kenyalnya mi, lembutnya darah, uniknya usus, pedasnya kuah, dan gurihnya kaldu. Menikmati Changwangmian adalah sebuah ritual, sebuah pernyataan bahwa kami telah menyentuh inti dari rasa Guiyang.
Setelah perut kenyang dengan mie yang gurih, kami melanjutkan langkah menyusuri jalan tidak jauh dari kedai mie. Di tepi trotoar, seorang pedagang menarik perhatian kami. Gerobaknya dipenuhi dengan buah berwarna kuning keemasan dan sedikit kehijauan, berbentuk bulat lonjong dengan tekstur kulit yang unik dipenuhi tonjolan-tonjolan kecil seperti duri lembut. Buah ini sama sekali asing di mata kami—belum pernah kami lihat sebelumnya.

Penasaran, kami mendekat. Pedagang yang ramai itu, dengan tangkas menggunakan sarung tangan, mengupas beberapa buah dan memasukkannya ke dalam blender. Itulah Prickly Pear/Cì lí (刺梨), buah liar khas dataran tinggi Guizhou yang dikenal sebagai “Raja Vitamin C” di daerah ini.

Kami pun memesan secangkir jus Prickly Pear yang segar. Saat pertama kali mencicipinya, wajah kami langsung menyeringai! Rasanya sangat asam, tajam, dan segar, seperti perpaduan antara kiwi, markisa, dan lemon, namun dengan aroma khasnya sendiri. Rasa asam itu langsung membangkitkan indra dan membersihkan palet setelah rasa gurih kaldu mie. Meski asam, ada nuansa manis halus di akhir rasa yang membuatnya begitu menyegarkan dan ingin terus dicicipi. Ini menjadi penutup kuliner yang sempurna untuk rangkaian makan pagi kami—sebuah kejutan rasa baru yang mengajarkan kami bahwa di Guiyang, bahkan buah liar pun punya karakter yang kuat dan tak terlupakan.
Dengan kesegaran asam buah Cì lí masih terasa di lidah, kami pun melanjutkan perjalanan menyusuri kota dengan semangat baru, siap untuk petualangan berikutnya di Katedral St. Joseph.
Katedral St. Joseph: Permata Gotik di Guiyang
Setelah makan, kami mengunjungi Katedral St. Joseph, sebuah permata arsitektur Gotik unik bercampur ornamen China yang langka di kawasan ini.

Katedral ini bukan sekadar monumen indah, melainkan tempat ibadah aktif yang menjadi pusat komunitas Katolik lokal .

Kedamaian di dalamnya memberikan kontras yang menyegarkan dari keramaian kota.

Dari Spiritualitas ke Kopi: Menemukan Ritme Kota
Setelah merasakan kedamaian di Katedral St. Joseph, langkah kaki kami berlanjut. Namun, bukannya langsung mengejar destinasi berikutnya, kami memilih untuk menyerap suasana kota dengan cara yang berbeda. Tidak jauh dari katedral, kami menemukan sebuah oasis yang cozy: 慕昔提咖啡 (千禧苑店) / Muxiti Coffee (Qianxi Yuan Branch).

Coffee shop dengan desain modern, ruang yang luas, dan atmosfer hangat ini menjadi tempat persinggahan yang sempurna. Berbeda dengan sensasi pedas dari makanan jalanan atau kesunyian sakral katedral, di sini kami disambut oleh aromanya biji kopi sangrai dan alunan musik yang lembut.

Momen ini adalah napas dalam perjalanan—saat untuk bersantai, mengatur ulang energi, dan merencanakan langkah selanjutnya sambil menikmati secangkir kopi specialti atau teh hangat.

Dengan energi yang telah pulih, godaan kuliner berikutnya sudah menunggu. Kebetulan yang menyenangkan, tepat di seberang jalan dari Muxiti Coffee, terpampang restoran hotpot yang mengundang selera.

Kami memutuskan untuk menyantap makan siang di sana. Kami memilih berbagai irisan daging sapi dan sayuran segar untuk dicelupkan di kuah hotpot yang ternyata dengan rasa asam pedas yang belum pernah kami rasakan sebelumnya.

Pengalaman makan bersama di sekitar panci perapian yang mendidih ini bukan sekadar mengisi perut, melainkan ritual sosial yang hangat dan menyenangkan, mempererat kebersamaan di awal petualangan.
Kota Kuno Qingyan: Dari Benteng Militer Menuju Pusat Budaya
Perjalanan dengan Didi selama hampir 40 menit, membawa kami ke Qingyan Ancient Town. Lebih dari sekadar kota tua yang indah, tempat ini memiliki sejarah militer yang kuat. Didirikan pada tahun 1378 , kota ini awalnya dibangun sebagai benteng militer oleh Kaisar pertama Ming untuk mengendalikan wilayah tersebut.

Desainnya dengan tembok tinggi dan empat gerbang utama dibuat “mudah dipertahankan dan sulit diserang” .

Namun, kota ini berkembang menjadi pusat budaya. Kami menyusuri Bei Street (Back Street), jalur batu yang tenang dan fotogenik . Keunikan Qingyan adalah kerukunan beragamanya, ditunjukkan dengan adanya kuil Buddha, Tao, gereja Kristen, dan Katolik dalam satu area, suatu fenomena yang dikenal sebagai “Empat Agama dalam Satu” . Makanan khas di sini adalah Qingyan Braised Pork Trotters (Kikie Babi Rebus Qingyan) yang legendaris yang bisa kita lihat di tiap rumah makan besar dan kecil di sepanjang jalan kota tua ini.

Setelah puas menjelajahi lorong-lorong batu dan menikmati budaya lokal, tibalah waktunya kembali. Namun, saat mencoba memesan Didi XL, ternyata tidak tersedia atau terlalu lama menunggu—sebuah situasi umum di lokasi yang sedikit terpencil.
Petualangan Naik Bus Kota: Menyusuri Guiyang dengan Perlahan
Dengan petunjuk dari warga setempat atau papan penunjuk, kami menemukan halte bus yang membawa kami kembali ke pusat kota.

Masuk ke dalam bus yang tidak terlalu penuh, kami membayar dengan uang cash RMB3/orang. Meski membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih, perjalanan ini justru menjadi hadiah tersembunyi. Kami menyaksikan pemandangan berubah: dari lanskap pinggiran kota dengan pegunungan sebagai latar, perlahan-lahan berubah menjadi bangunan tinggi dan keramaian khas kota. Ini adalah momen untuk beristirahat, mengamati kehidupan sehari-hari penduduk lokal yang pulang kerja atau berbelanja, dan merasakan ritme Guiyang yang sesungguhnya.
Saat makan malam tiba, kami membuka aplikasi ulasan makanan dan mencari hidangan “Luoguo” — sebuah spesialitas Guiyang yang telah kami dengar. Pencarian kami berhasil menemukan sebuah tempat dengan rating tinggi, hanya berjarak beberapa menit jalan kaki dari hotel. Keputusan untuk mencobanya ternyata adalah sebuah keberuntungan.

Restoran itu adalah sebuah “hidden gem” sejati, tersembunyi di lantai dua sebuah ruko. Saat kami menaiki tangga, aroma rempah yang kompleks dan menggugah selera sudah menyambut. Suasana di dalamnya ramai, penuh dengan meja bundar yang di tengahnya terpasang kompor portable. Ini adalah suasana klasik untuk menikmati Luoguo.

Luoguo (烙锅), sering disebut sebagai “wajan besi Guizhou”, adalah pengalaman kuliner yang unik dan interaktif. Berbeda dengan hotpot biasa yang berkuah banyak, Luoguo menggunakan panci besi bulat cekung yang dangkal. Kami memilih salah satu paket yang cukup untuk kami ber-5, dengan berbagai bahan — mulai dari irisan daging babi dan sapi, jeroan, tahu, hingga sayuran khas. Semuanya dibumbui dengan campuran rempah khas Guizhou sebelum disajikan.
Cara makannya pun spesial: bahan-bahan ditumis dan dipanggang di atas panci besi panas yang telah dilapisi minyak. Aroma sedap langsung tercium. Setelah matang, kami mencelupkannya ke dalam saus kering (干碟, gandie) yang merupakan jiwa dari Luoguo — campuran cabe bubuk, biji jintan, daun ketumbar, dan bumbu rahasia lainnya. Perpaduan antara gurihnya bahan yang dipanggang, rempah-rempah yang kaya, dan sensasi pedas yang membangunkan indra dari saus kering benar-benar menghangatkan tubuh dan jiwa kami yang lelah. Ini adalah perpaduan tekstur dan rasa yang jenius.
Kehangatan yang Melampaui Kata-Kata
Interaksi dengan staf restoran menjadi cerita tersendiri. Dengan kemampuan bahasa Mandarin kami yang terbatas dan bahasa Inggris mereka yang minimal, kami sering kali “lost in translation”. Namun, keramahan dan kesabaran mereka sungguh luar biasa. Seorang pelayan dengan sabar menggunakan bahasa isyarat, ekspresi wajah, dan sedikit bantuan dari aplikasi translator untuk menunjukkan cara terbaik memanggang setiap bahan dan meracik saus. Mereka terus memastikan panci kami panasnya pas dan kami tidak kekurangan apa pun. Usaha tulus mereka untuk melayani, melebihi sekadar transaksi, memberikan kehangatan manusiawi yang dalam. Senyuman dan perhatian itu menjadi bumbu terpenting dari malam itu.
Makan malam ini menjadi penutup sempurna untuk hari yang panjang. Kami tidak hanya menemukan “hidden gem” kuliner dengan cita rasa autentik, tetapi juga merasakan langsung keramahan hati orang Guizhou. Setelah sehari disemangati oleh keagungan alam Huangguoshu, malam ini kami dihangatkan oleh kebaikan manusia dan kelezatan bumi Guizhou.
Hari 2: Menaklukkan Raksasa Air Huangguoshu
Keberangkatan Pagi dengan Kenyamanan Premium
Tepat pukul 8:30, mobil Denza yang telah kami pesan sehari sebelumnya—sebuah model elektrik mewah yang nyaman dan senyap—sudah setia menunggu di depan Nototel Guiyang Downtown. Sopir yang ramah membantu kami menata barang-barang. Keputusan menyewa mobil private ternyata sangat tepat untuk perjalanan panjang seperti ini.

Sarapan: Mie Daging Sapi Autentik
Sebelum menempuh perjalanan jauh, sopir kami yang berpengalaman menganjurkan untuk mengisi tenaga dulu. Beliau mengantar kami ke sebuah rumah makan beef noodle lokal yang mungkin tidak akan kami temukan sendiri.

Semangkuk Mie Daging Sapi Guiyang (贵阳牛肉粉) yang hangat dan gurih pun menjadi pembangkit semangat kami. Kuah kaldu tulang sapi yang bening, irisan daging lembut, dan mie beras yang kenyal adalah kombinasi sempurna untuk memulai hari.

Perjalanan Menuju Suara Gemuruh
Perjalanan darat selama sekitar 2 jam menuju Kabupaten Zhenning pun dimulai. Pemandangan di luar jendela berubah secara perlahan dari pemandangan kota menjadi perbukitan hijau yang memesona. Suasana di dalam mobil dipenuhi dengan obrolan santai dan antisipasi.

Sesampainya di kompleks wisata, proses masuknya bertahap. Kami membeli tiket masuk utama di gerbang luar (bisa berlaku untuk 3 hari), yang sudah mencakup naik bus wisata untuk melintasi kawasan konservasi yang luas ini. Setelah turun dari bus, kami masih harus membeli tiket eskalator terpisah. Eskalator raksasa yang menuruni tebing ini sangat mengesankan dan menghemat tenaga, membawa kami langsung ke lembah di mana gemuruh air mulai menggema.

Berdiri di Hadapan Sang Raksasa
Dan akhirnya, kami berdiri di hadapannya: Air Terjun Huangguoshu. Gemuruhnya terasa menggetarkan tanah, dan percikan kabut air yang melimpah segera membasahi pakaian dan kulit kami.

Saat kami mulai berjalan menyusuri jalur yang mengitari pinggiran air terjun, sebuah keajaiban alam pun terjadi berulang kali. Pelangi yang sangat jelas dan cerah terbentuk di tengah-tengah kabut air yang berkilauan, tepat di sisi-siri air terjun.
Setiap kali posisi matahari, sudut pandang kami, dan tiupan angin yang membawa kabut air bertemu pada kondisi yang tepat, sabuk warna-warni itu muncul. Kami melihatnya beberapa kali selama perjalanan berkeliling—kadang melengkung sempurna di atas kolam hijau toska, kadang seperti tirai pendek di sisi tebing yang basah. Kami berusaha mengabadikan setiap kemunculannya yang singkat dan ajaib itu.

Piknik Sederhana di Bawah Bayangan Keagungan
Di sela-sela menjelajah, kami menemukan spot yang nyaman di bebatuan. Kami mengeluarkan snack dan minuman yang kami bawa dari kota dan menikmati makanan kecil sambil terus memandangi keagungan alam di depan kami. Piknik spontan ini terasa sangat istimewa dan hemat.

Perjalanan Pulang yang Ujian Kesabaran
Setelah puas dan sedikit basah, kami kembali naik bus transit ke pintu keluar, bertemu kembali dengan sopir dan mobil Denza kami. Karena hari sudah sore, kami mampir ke sebuah rumah makan lokal tidak jauh dari kawasan wisata untuk makan siang yang sekaligus menjadi makan malam. Menyantap hidangan panas setelah seharian beraktivitas terasa sangat nikmat.

Namun, perjalanan kembali ke Guiyang dihadapkan pada realita: kemacetan sore hari. Rute yang lancar pagi tadi kini dipadati kendaraan. Perjalanan pulang yang semestinya 2 jam, membengkak menjadi sekitar 3 jam. Kembali ke hotel sekitar waktu makan malam, kami disambut dengan rasa lelah yang penuh kepuasan.
Dengan tubuh yang letih setelah perjalanan panjang dari Huangguoshu dan kemacetan sore, kami akhirnya tiba kembali di Nototel Guiyang Downtown. Rasa lelah dan lapar berbaur menjadi satu. Saat berpamitan, sopir Denza kami yang ramah memberi sebuah rekomendasi berharga: “Kalau mau cari makanan malam yang lengkap dan ramai, coba saja ke Mingsheng Road (民生路). Dekat dari sini, jalan kaki saja bisa.”

Mengikuti sarannya, kami berjalan kaki ke arah Mingsheng Road. Dari kejauhan, suasana ramainya sudah terasa. Begitu tiba, kami disambut oleh pemandangan yang sangat hidup: sepanjang jalan dipadati gerai-gerai makanan, kedai-kedai kecil, dan restoran terbuka yang penuh dengan orang lokal. Lampu-lampu terang, asap mengepul dari wajan, dan aroma berbagai macam masakan berbaur di udara—pedas, gurih, asam, dan harum.

Ini adalah food street yang otentik, bukan tempat yang dibuat-buat untuk turis. Suasananya bersahabat dan penuh energi. Kami menjelajah dari satu gerai ke gerai lain, mencoba berbagai makanan khas lokal yang menggugah selera. Salah satu penemuan yang paling mengesankan adalah sebuah gerai yang menjual Guoba Ciba (锅巴糍粑)—sebuah jajanan unik yang memadukan dua tekstur dalam satu gigitan.

Yang membuat momen ini semakin berkesan adalah keramahan luar biasa dari penjualnya. Melihat ketakjuban dan kamera kami yang sibuk mengabadikan proses uniknya, beliau tersenyum lebar. Setelah menyelesaikan pesanan kami, dengan gesture ramah, beliau mengulangi proses sekali lagi, dan memberikan kami satu pancake renyah tambahan secara gratis! “Coba, enak!” kira-kira begitu maksud senyuman dan gesture tangannya. Meskipun bahasa menjadi penghalang, kebaikan dan keramahannya berbicara lebih lantang. Ini bukan sekadar jual-beli, tetapi sebuah sambutan hangat dan berbagi kebanggaan akan makanan lokal. Percakapan singkat dan rasa pancake yang renyah manis itu meninggalkan kesan mendalam tentang keramahan orang Guiyang.

Menghabiskan Malam dengan Cara Lokal
Kami tidak terburu-buru. Kami menghabiskan waktu berjam-jam di sana, mencoba sedikit-sedikit dari banyak gerai, duduk di bangku-bangku sederhana, dan menikmati keramaian sekitar. Interaksi sederhana dengan penjual, meski kadang terbatas bahasa, selalu diakhiri dengan senyuman dan isyarat yang ramah. Suasana komunal dan riang di Mingsheng Road ini adalah penawar sempurna untuk kelelahan fisik kami. Ini adalah momen di mana kami merasa benar-benar “tenggelam” dalam kehidupan sehari-hari warga Guiyang.

Kami pulang ke hotel dengan perut kenyang dan hati yang puas. Rekomendasi sopir itu ternyata sebuah “hidden gem”. Daripada mencari di aplikasi, saran dari warga lokal justru membawa kami ke jantung denyut kuliner Guiyang yang sesungguhnya. Hari yang diawali dengan keagungan alam di Huangguoshu, ditutup dengan kehangatan dan keramaian jalanan makanan lokal—sebuah kontras yang sempurna.
Hari 3: Menyusuri Jiwa Kota dari Menara Kuno ke Mie Legendaris
Hari ketiga kami di Guiyang dimulai dengan ritme yang sedikit berbeda. Karena salah seorang teman harus melakukan check-out lebih awal, kami memutuskan untuk memulai petualangan kota lebih pagi, tepat pada pukul 8:30. Dengan demikian, kami masih bisa menikmati beberapa saat bersama sebelum berpisah. Setelah menitipkan koper teman kami di resepsionis, kami memesan Didi untuk menuju jantung simbolik kota: Jiaxiu Tower.

Jiaxiu Tower di Ketenangan Pagi: Menara Harapan Akademik
Berbeda dengan keramaian yang mungkin ada di siang hari, Jiaxiu Tower pada pagi hari menyambut kami dengan suasana tenang dan anggun. Menara kayu tiga lantai setinggi 20 meter ini berdiri megah di atas batu raksasa di tengah aliran Sungai Nanming, dihubungkan oleh Jembatan Fuyu yang ikonik. Dibangun pertama kali pada tahun 1598 pada masa Dinasti Ming, menara ini bukan sekadar pajangan. Namanya, Jiaxiu, berarti “Meraih Keunggulan”, yang mencerminkan fungsinya sebagai penghormatan terhadap prestasi akademik dan penyemangat bagi para pelajar untuk sukses dalam ujian kekaisaran. Berjalan di atas jembatan batu sambil melihat menara yang memantulkan bayangannya di air yang tenang, kami merasakan getaran sejarah dan budaya yang masih hidup.

Kami tak hanya melihat dari jauh. Kami menyusuri tepian sungai di sekitarnya, melihat warga lokal berolahraga atau sekadar duduk menikmati sinar matahari pagi.

Pemandangan kota modern yang mengelilingi oasis klasik ini menciptakan kontras yang memukau. Dari sini, langkah kami secara alami tertarik untuk menjelajahi kehidupan di balik landmark tersebut—kami lapar, dan kami ingin sarapan yang autentik.
Pencarian Kuliner Pagi: Antrian yang Menjanjikan di Jalan Huguo
Kami berjalan menyusuri jalan di sekitar area Jiaxiu Tower, meneruskan eksplorasi. Prinsip kami sederhana: cari yang ramai antri. Dan prinsip itu sekali lagi membawa kami kepada sebuah hidden gem. Di salah satu jalan, kami melihat sebuah rumah makan mie yang sederhana namun dipadati orang lokal yang mengantri: 李兰英湖南面馆 (Li Lanying Hunan Noodle Restaurant).

“湖南” (Hunan) pada namanya mungkin sedikit mengejutkan, namun di sinilah keunikan Guiyang: sebuah kota yang menyaring dan mengadaptasi kekayaan kuliner dari seluruh Tiongkok. Antrian yang panjang di depan gerainya adalah tanda jaminan kualitas yang tak terbantahkan. Kami pun bergabung, dan penantian itu sama sekali tidak mengecewakan.

Momen Sempurna dalam Semangkuk Mie Hunan-Guiyang
Setelah mendapatkan tempat duduk, kami memesan beberapa mangkuk signature mereka. Yang disajikan adalah sebuah mahakarya rasa yang sederhana namun mendalam. Mie telur segar yang kenyal menjadi fondasinya, direndam dalam kuah kaldu tulang babi (atau sapi) yang bening, sangat gurih, dan menghangatkan. Keunikannya terletak pada topping-nya: irisan daging rebus yang tebal, empuk, dan meresap bumbu, ditambah dengan sayuran tahu yang sudah di marinasi dan telur rebus. Rasa dagingnya yang gurih dan kuahnya yang kaya menciptakan harmoni sempurna.

Meski berlabel “Hunan”, bumbunya tidak didominasi oleh kepedasan ekstrem, melainkan lebih menonjolkan keumamilan (umami) dan kedalaman rasa dari kaldu serta daging. Ini adalah semangkuk “comfort food” kelas tinggi yang memenuhi semua harapan kami. Di pagi yang agak sejuk itu, semangkuk mie panas ini benar-benar menyempurnakan pagi kami, mengisi energi untuk petualangan berikutnya dan menjadi kenangan kuliner lain yang tak terlupakan.

Dengan perut yang kenyang dan hati yang puas setelah sarapan mie di 李兰英湖南面馆, kami tidak langsung menuju destinasi wisata berikutnya. Sebaliknya, kami memutuskan untuk berjalan kaki santai menyusuri jalanan kota Guiyang kembali ke Nototel Guiyang Downtown. Jalan kaki pagi ini menjadi kesempatan emas untuk mengamati kehidupan urban yang baru saja benar-benar terbangun. Berjalan tanpa target sambil mencerna sarapan yang lezat memberikan nuansa berbeda dari eksplorasi kami sebelumnya.
Setelah melepas satu anggota rombongan di hotel. Kini kami berempat memutuskan untuk melanjutkan petualangan menuju Qianling Park (黔灵山公园), “paru-paru hijau” Guiyang yang legendaris. Perjalanan dengan Didi membawa kami ke gerbang taman, dan kami langsung disambut oleh keramaian yang tak terduga. Tampaknya, hari yang cerah ini mengundang banyak warga lokal dan turis untuk berekreasi.
Antrian Menuju Langit dan Kerumunan Monyet Liar
Tujuan utama kami adalah naik cable car (缆车) ke puncak bukit. Antrian yang panjang mengular, sebuah bukti popularitas atraksi ini. Kesabaran kami teruji namun akhirnya terbayar saat kereta gantung bergerak melayang di atas kanopi hutan yang hijau lebat.

Pemandangan Kota Guiyang perlahan-lahan terungkap di kejauhan, dengan gedung-gedung pencakar langitnya yang menjulang di antara lekukan perbukitan—pemandangan kontras yang memukau antara alam dan urbanisasi.

Sesampainya di puncak, suasana berubah total. Kami bukan hanya datang untuk pemandangan, melainkan untuk bertamu pada penghuni istimewa taman ini: koloni monyet ekor panjang (Macaca mulatta) yang benar-benar liar dan bebas berkeliaran. Kami menyaksikan mereka dengan takjub—ada yang bergelantungan di dahan, ada yang duduk di pinggir jalan dengan santai, dan ada pula yang dengan lancar “meminta” (atau mengambil) makanan dari pengunjung yang lengah. Pengalaman ini sekaligus mengingatkan kami untuk berhati-hati dan tidak membawa makanan secara terbuka. Interaksi sederhana dengan satwa liar ini menjadi momen paling hidup dan menghibur di siang itu.
Kuliner Kaki Gunung dan Pencarian Rasa di Qingyun Road
Setelah puas berjalan-jalan di area puncak dan mengamati monyet, kami memutuskan untuk turun. Di sekitar pintu masuk taman, terdapat banyak penjaja makanan lokal. Kami mencoba beberapa jajanan kaki lima menggugah selera, sebagai pengganjal perut sebelum makan siang yang sesungguhnya.

Kemudian, kami kembali memanggil Didi untuk menuju Qingyun Pedestrian Street (青云路步行街). Kawasan ini adalah denyut nadi kehidupan modern Guiyang. Suasana petang hari sudah sangat vibrant; jalanan dipadati orang, deretan restoran dan kafe dengan neon-neon terang, serta aroma berbagai masakan yang berbaur di udara. Di sini, kami akhirnya menikmati makan siang yang sesungguhnya, mencoba hidangan lokal.

Setelah makan, kami berjalan-jalan melihat toko-toko yang menjual berbagai oleh-oleh khas. Kami juga tak lupa mampir ke gerai makanan dessert sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel karena kaki mulai terasa pegal.

Akhir Hari yang Cozy di Hidden Gem Kafe Lokal
Sesampainya di Nototel, kami beristirahat sejenak. Untuk makan malam, kami menginginkan sesuatu yang berbeda dari keramaian—suasana yang tenang dan makanan yang enak. Hasil pencarian kami membawa kami ke sebuah kafe lokal yang cozy bernama Shrub Coffee (灌木咖啡). Berlokasi tidak jauh dari hotel, kafe ini memberi kesan hangat dan intim. Interiornya didesain dengan apik, dipenuhi tanaman dan penerangan yang hangat.

Menu mereka menawarkan kejutan: selain kopi spesialtas yang aromatik, mereka juga menyajikan steak dengan harga yang sangat terjangkau. Kami memesan beberapa steak dan secangkir kopi. Saat steak itu disajikan, kami terkejut—kualitasnya jauh melampaui ekspektasi untuk harga segitu. Dagingnya dimasak dengan baik, lembut, dan beraroma. Duduk di kafe yang nyaman ini, menikmati hidangan yang lezat sambil berbagi cerita dan tawa tentang petualangan hari ini, menjadi penutup yang sempurna untuk hari ketiga.

Di tengah kelelahan, kami menemukan kembali energi dan kehangatan dalam suasana yang santai, membuktikan bahwa kejutan terbaik sering kali datang dari tempat-tempat tak terduga.
Hari ketiga adalah perpaduan sempurna antara petualangan alam yang seru, keramaian budaya urban, eksplorasi kuliner yang tak henti-hentinya, dan akhir yang intim dan menyenangkan. Guiyang sekali lagi menunjukkan wajahnya yang beragam.
Hari 4: Keberangkatan
Keesokan paginya, kami bangun agak siang dan lebih santai menikmati hotel sambil bersiap untuk check-out dan berangkat menuju Chengdu, membawa serta kenangan akan perpaduan Guiyang yang unik antara sejarah, alam, dan cita rasa.
