Hari ke 4, adalah hari terakhir kami di Guiyang dimulai dengan sedikit kesibukan. Setelah menikmati sarapan pagi dalam kamar untuk terakhir kalinya, kami berkemas dan memanggil Didi menuju Guiyang North Railway Station (Guiyang Bei Zhan). Stasiun yang modern dan luas ini adalah gerbang menuju petualangan baru. Perjalanan dengan kereta cepat (高铁, Gaotie) benar-benar mengubah persepsi tentang jarak. Hanya dalam sekitar 3 jam melintasi pegunungan dan ngarai, kami tiba di Chengdu East Station (Chengdu Dong Zhan), sebuah kota dengan energi yang terasa berbeda—lebih datar, lebih luas, dan penuh dengan janji kelezatan.

Chengdu, Pangkalan Baru di Pusat Sejarah
Keluar dari stasiun, kami kembali mengandalkan Didi XL untuk membawa kami dan koper-koper menuju penginapan baru: Mercure Chengdu Wuhou Temple.

Pilihan ini strategis sekali, karena lokasinya yang terletak di kawasan bersejarah. Setelah proses check-in yang lancar dan istirahat sebentar di kamar untuk melepas lelah perjalanan, semangat kami langsung berkobar untuk menjelajah.

Tujuan pertama kami adalah Jinli Ancient Street (锦里古街), yang letaknya tidak jauh dari hotel, berdekatan dengan Wuhou Temple (武侯祠).

Suasana di Jinli begitu berbeda dengan Qingyan di Guiyang. Jalannya lebih ramai, penuh dengan lentera merah, dekorasi khas Sichuan, dan aroma yang sangat menggoda. Ini adalah surga bagi pencicip kuliner.

Kami langsung menyelam ke dalam kerumunan. Di antara berbagai gerai yang menjual mainan, kerajinan tangan, dan minuman manis, hidung kami dipandu oleh aroma yang kuat dan khas.

Sasaran utama kami adalah Mao Tofu (毛豆腐), atau “tahu bulu”. Tahu ini terlihat unik karena permukaannya ditumbuhi lapisan jamur halus berwarna putih seperti bulu, hasil fermentasi alami.

Kami melihat penjual menggorengnya di atas wajan hingga bagian luarnya garing keemasan, sementara bagian dalamnya tetap lembut seperti puding. Saat digigit, rasanya sungguh kompleks: gurih, sedikit asam fermentasi yang unik, dan sangat aromatik, biasanya disajikan dengan saus pedas Sichuan. Ini adalah pengalaman rasa yang berani dan tak terlupakan.

Selain itu, kami juga mencicipi berbagai jenis makanan khas, sambil terus menjelajahi setiap sudut jalan yang penuh warna.

Malam Penutup dengan Api Hotpot Sichuan
Setelah puas dan capai berjalan-jalan, kami kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak. Namun, petualangan kuliner hari itu belum berakhir. Saat malam tiba, kami memutuskan untuk menyelami jiwa Chengdu yang sesungguhnya: Hotpot Sichuan (四川火锅). Berdasarkan prinsip “dekat dan ramai”, kami memilih restoran hotpot yang tepat berada di seberang jalan dari hotel kami dan tampak penuh dengan pengunjung lokal.

Begitu masuk, aroma khas minyak cabe (辣椒油, lajiaoyou) dan lada Sichuan (花椒, huajiao) yang pedas dan membuat lidah kebas langsung memenuhi udara. Kami memesan sistem panci hotpot dengan dua bagian kuah. Sebagai pengantar yang aman, kami memilih kuah bening (清汤) di bagian luar, dari kaldu tulang atau jamur. Namun, di tengah-tengahnya, kami berani mencoba kuah “mala” (麻辣) yang berwarna merah menyala, penuh dengan cabai kering dan butiran lada Sichuan.

Kami mencoba berbagai irisan tipis daging sapi dan babi, bakso, tahu sutra (豆花), dan sayuran. Sensasi makannya luar biasa: rasa mati rasa dan kebas (麻, ma) dari lada Sichuan bercampur dengan kepedasan (辣, la) yang membakar, menciptakan pengalaman sensorik yang adiktif.

Minyak wijen sebagai saus celup membantu meredakan kepedasan. Duduk bersama di sekitar panci yang mendidih, wajah memerah karena pedas namun penuh tawa, ditambah minuman bir lokal yang di minum dari mangkok menjadi ritual penyambutan yang sempurna di Chengdu.

Hari itu adalah transisi yang mulus. Kami meninggalkan kesejukan dan kelembaban Guiyang untuk memasuki kehangatan dan kepedasan Chengdu. Dari Guoba Ciba yang renyah manis ke Mao Tofu yang fermentasi unik, hingga ledakan rasa Hotpot Mala—setiap gigitan adalah babak baru dalam petualangan rasa kami di Tiongkok Barat Daya.
Malam itu di Chengdu terasa begitu singkat. Setelah menikmati petualangan rasa hotpot yang mendebarkan, kami menyadari bahwa kota ini hanya menjadi persinggahan singkat dalam perjalanan panjang kami. Kami hanya menginap semalam di Mercure Chengdu Wuhou Temple, karena agenda esok hari telah menanti: petualangan alam yang lebih besar.
Hari ke 5
Strategi Packing untuk Pendakian: Menitipkan Kota, Membawa Gunung
Keesokan paginya, kami segera melakukan check-out dari hotel. Namun, berbeda dengan perjalanan biasa, kami punya strategi khusus. Dengan rencana untuk menginap semalam di atas Gunung Emei (峨眉山), kami memutuskan untuk melakukan perjalanan dengan ringkas. Kami memisahkan barang bawaan: koper-koper besar yang penuh dengan pakaian dan perlengkapan lainnya kami titipkan di hotel.
Dengan demikian, kami hanya membawa backpack yang berisi kebutuhan pokok untuk satu malam di gunung: jaket tebal, pakaian ganti, perlengkapan mandi, obat-obatan pribadi, dan tentu saja, kamera. Ransel yang ringan di punggung memberi rasa kebebasan dan semangat petualang yang berbeda.
Meluncur ke Kaki Gunung Suci dengan Kereta Cepat
Dari hotel, kami kembali memanggil Didi menuju stasiun kereta cepat. Tujuan kami adalah Gunung Emei, salah satu dari empat gunung suci Buddha di Tiongkok. Untuk mencapainya, kami menaiki kereta cepat (高铁) yang meluncur dari stasiun di Chengdu menuju kota Emeishan.

Perjalanan kereta yang nyaman dan cepat ini, hanya memakan waktu sekitar 1 jam lebih, adalah kontras yang sempurna sebelum kami mulai menyusuri anak tangga atau menaiki bus wisata selama 2 jam lagi menuju puncak gunung yang legendaris itu.

Hari keberangkatan ini adalah sebuah transisi yang mulus. Kami meninggalkan keramaian urban dan kepedasan kuliner Chengdu yang baru saja kami cicipi semalam, untuk beralih menuju ketenangan spiritual dan keagungan alam pegunungan Sichuan. Dari panasnya panci hotpot Mala, kami bersiap untuk merasakan sejuknya kabut di ketinggian. Setiap fase perjalanan ini memiliki karakternya sendiri, dan kami bersemangat untuk menjalaninya.
Perjalanan kereta cepat yang singkat membawa kami dari dataran Chengdu menuju kaki Gunung Emei (峨眉山). Dari stasiun, sebuah perjalanan berliku dengan bus wisata dan kemudian kereta gantung membawa kami semakin tinggi, meninggalkan dunia biasa di bawah.

Namun, petualangan sesungguhnya dimulai tepat sebelum kami naik kereta gantung. Saat kami berjalan menyusuri jalur yang telah ditentukan menuju stasiun cable car, kami memasuki habitat terkenal dari para penghuni liar Gunung Emei: kera Tibet (Macaca thibetana). Area ini dikenal sebagai “Monkey Zone” dan peringatan untuk berhati-hati terpampang jelas.

Sore hari, sekitar pukul lima, kami akhirnya tiba di puncak. Namun, Emeishan menyambut kami dengan wajah yang terselubung rapat. Kabut tebal yang pekat menyelimuti segalanya, membatasi pandangan hanya beberapa meter. Udara terasa lembap dan menusuk tulang. Lebih mengejutkan lagi, hujan yang membeku telah membentuk lapisan es yang licin di pagar, tangga, dan dedaunan. Dunia berubah menjadi monokrom dalam nuansa putih dan abu-abu, sunyi dan hampir mistis.

Kami segera check-in di Hotel Jinding, tempat perlindungan yang hangat di tengah cuaca ekstrem ini. Saat melihat ramalan cuaca yang memprediksi kabut akan bertahan hingga esok pagi, hati kami sedikit ciut. Harapan untuk menyaksikan sunrise dari puncak awan dan lautan awan (云海, yunhai) pun mulai memudar.

Setelah makan malam di Hotel Jinding, kelelahan dari perjalanan panjang seharusnya langsung menarik kami ke kamar. Namun, ada sesuatu yang memanggil dari luar—sebuah keinginan untuk menyaksikan puncak gunung suci ini dalam samaran malam. Dengan sisa energi terakhir, kami mengenakan kembali jaket tebal dan berjalan keluar menuju Golden Summit (金顶).
Perbedaan yang kami temukan begitu kontras dan menyentuh. Jika sore tadi ramai dengan aktivitas, malam ini hampir tidak ada seorang pengunjung pun di sekitar kuil dan patung. Hanya kami berempat, suara langkah kami yang teredam, dan deru angin yang menyanyikan nada-nada rendah di antara pilar-pilar kuil. Kabut tebal yang masih menyelimuti segalanya diterangi oleh lampu-lampu kuning dari bangunan kuil, menciptakan sebuah aura cahaya yang mengambang dan mistis. Siluet-siluet arsitektur klasik Tiongkok muncul dan menghilang dalam gulungan kabut, seperti potongan-potongan mimpi.

Hari 6: Keindahan yang Lain di Golden Summit
Keesokan paginya, kami bangun sebelum fajar dengan harapan yang tertahan. Setelah sarapan di hotel, kami berjalan pelan menuju Golden Summit (金顶).

Ramalan cuaca ternyata akurat. Kabut masih tebal menggantung, menyembunyikan panorama legendaris itu, berbeda saat kami pertama kali ke tempat ini pada waktu yg hampir sama di tahun 2009 lalu.

Namun, suasana di puncak tidaklah sepi. Sudah ramai oleh para peziarah dan pendaki tangguh yang telah mendaki sejak dini hari dari bawah, semangat mereka tak pupus oleh cuaca.

Kejutan pun menunggu. Patung Buddha Samantabhadra yang megah, yang biasanya berdiri menjulang ke langit biru, pagi itu justru tampil dalam rupa yang langka: terselimut lapisan salju dan es yang tipis, seperti dihiasi kristal. Siluetnya yang samar-samar dalam kabut menciptakan aura yang sangat sakral dan hening.

Ini adalah pemandangan yang jarang dan sangat fotogenik, sebuah kompensasi alam yang tak terduga walau “lautan awan” yang kami dambakan tetap menjadi misteri di balik tabir putih.

Turun Gunung: Tantangan di Jalur Licin
Setelah menghabiskan waktu dalam keheningan puncak yang ramai, kami memutuskan untuk turun. Perjalanan turun ternyata menjadi petualangan kecil sendiri. Kabut tetap tebal, dan kini disertai hujan rintik-rintik yang membekukan.

Anak tangga dan jalan setapak berubah menjadi lapisan es yang sangat licin. Syukurlah, kami datang dengan persiapan. Spike untuk sepatu yang kami bawa menjadi penyelamat.

Dengan perlengkapan itu, kami dapat berjalan dengan aman dan percaya diri melewati medan licin, sambil melihat beberapa pengunjung lain yang kesulitan dan harus berjalan sangat hati-hati.

Sesampai di stasiun kereta, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Chengdu. Ada satu hal yang harus diselesaikan: bucket list untuk melihat Panda Merah (小熊猫, Xiao Xiongmao)! Kami menuju Chengdu Panda Base meski waktu sudah menjelang sore.

Dengan sedikit ketergesaan, kami berhasil tiba di area Panda Merah tepat sebelum penutupan. Dan, keberuntungan akhirnya berpihak!

Kami sempat menyaksikan makhluk menggemaskan dengan bulu kemerahan dan ekor lebat itu sedang beraktivasi, sebuah momen yang langsung menghangatkan hari.

Saat memanggil Didi untuk kembali ke hotel, Chengdu menunjukkan sisi lain: hujan deras dan kemacetan parah. Sopir kami yang cekatan, melihat kondisi lalu lintas yang macet total menuju Mercure Wuhou Temple, menawarkan solusi brilian: “Daripada terjebak macet dengan perut kosong, bagaimana kalau mampir makan hotpot dulu di daerah Taikoo (太古里)? Setelah hujan reda, jalanan juga pasti lebih lancar.”

Rekomendasi itu sempurna. Ia mengantarkan kami ke sebuah restoran hotpot di pusat kota yang ramai.

Kali ini, setelah pengalaman kemarin, kami lebih berani: kuah mala yang mendominasi, dengan secuil kuah bening hanya sebagai pelipur lara. Setelah makan malam yang memuaskan, hujan pun reda dan perjalanan kembali ke hotel belum benar-benar lancar. Malam itu, kami menginap kembali di Mercure, mengemas kenangan akan kabut yang misterius, es yang indah, panda yang menggemaskan, dan kepedasan yang selalu setia menemani, dan memberikan waktu untuk menggunakan fasilitas laundry room di dalam hotel untuk mencuci baju-baju kami.
Perjalanan ini mengajarkan kami tentang fleksibilitas. Dari Guiyang ke puncak Emei, hingga jalanan macet Chengdu, rencana bisa berubah, cuaca bisa tak bersahabat, tetapi dengan persiapan dan sikap terbuka, setiap lika-liku bisa berubah menjadi cerita dan kejutan tersendiri yang justru paling berkesan.