Hari 7: Menuju Metropolis Gunung & Lautan Manusia Menjelang Tahun Baru
Hari ketujuh menandai peralihan babak baru. Kami check-out dari Mercure Chengdu Wuhou Temple dengan lancar. Perjalanan darat kali ini akan singkat; kami menuju stasiun kereta untuk menaiki kereta cepat (高铁) yang akan meluncur membawa kami ke kota terakhir petualangan ini: Chongqing.

Siang: Meluncur Menuju Metropolis 3D
Perjalanan kereta cepat pada siang hari hanya memakan waktu sekitar 1.5 jam, namun yang terhampar di luar jendela adalah perubahan lanskap yang bertahap menuju topografi yang lebih dramatis. Kami meninggalkan dataran Chengdu dan memasuki wilayah bergelombang yang menjadi pertanda awal karakter unik Chongqing sebagai “kota gunung” yang hari itu sedang berkabut tebal.
Sore: Diterjang Gelombang Keramaian Tahun Baru di Stasiun
Sesampainya di Stasiun kereta Shapingba, kami langsung disambut oleh sebuah fenomena yang lain dari biasa: hujan dan lautan manusia.

Suasana menjelang malam Tahun Baru terasa sangat kental dan elektrik. Stasiun yang sudah besar itu dipadati oleh ribuan orang—warga lokal yang pulang kampung, turis seperti kami, dan para pekerja yang sedang mudik—semuanya berdesakan dalam energi kolektif menuju pergantian tahun.

Euforia itu diikuti oleh ujian kesabaran kecil: mendapatkan taksi. Antrian untuk taksi konvensional mengular tak terkira, dan panggilan Didi kami terus mengantri dalam antrian virtual dengan menunggu hampir satu jam di tengah keriuhan stasiun sebelum akhirnya mobil kami tiba.

Sopir Didi itu, dengan kemampuan mengemudi khas Chongqing, membawa kami menerobos lalu lintas yang padat menuju apartemen penginapan kami setelah 30 menit kemudian.
Menjelang Malam: Pangkasan Strategis di Tepi Sungai
Apartemen yang kami pesan terletak di sebuah gedung tinggi di pinggir Sungai Jialing, dengan pemandangan langsung ke arah CBD kota dan pertemuan dua sungai. Lokasinya strategis: dalam jarak jalan kaki ke Jiefangbei Pedestrian Street dan tidak jauh dari Hongya Cave.

Proses check-in berjalan lancar. Kami langsung menyimpan koper di kamar masing-masing dan sejenak terpana melihat pemandangan kota dari balkon—inilah “dasar sungai” tempat kami akan menyaksikan drone show nanti.

Dengan energi yang masih tersisa, kami memulai eksplorasi perdana. Kami berjalan kaki singkat ke Jiefangbei, kawasan komersial legendaris dengan deretan gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan yang bersinar.

Setelah sekian hari di Guizhou dan Sichuan disuguhi rasa pedas, asam, dan mala, lidah dan perut kami rindu akan sesuatu yang berbeda. Saat berjalan di sekitar Jiefangbei Pedestrian Street, kami melewati sebuah mal besar. Melihat deretan restoran, hati kami tertuju pada sebuah restoran steak yang baru buka dan sedang ada promo pembukaan. Ini adalah jawaban yang sempurna! Kami masuk dan menikmati hidangan daging yang lezat dengan saus klasik, kentang, dan sayuran segar. Momen makan malam itu terasa seperti “reboot” bagi indra perasa kami—segar, sederhana, dan sangat memuaskan setelah petualangan kuliner yang intens.

Dengan perut kenyang, kami berjalan kaki menuju Hongyadong (洪崖洞). Alih-alih langsung masuk dari bawah yang ramai, kami justru tiba di area atasnya terlebih dahulu. Dari sini, kami disuguhi pemandangan spektakuler jembatan lengkung besar yang diterangi lampu merah terang membentang di atas Sungai Jialing. Kami berfoto dengan latar belakang ikon ini, menikmati angin malam dan kerlip lampu kapal.

Sebelum memulai penjelajahan vertikal, kami berhenti di salah satu ikon fotogenik di pelataran atas: sebuah patung atau instalasi artistik berbentuk miniatur rumah-rumah tradisional yang bertumpuk dan bersusun, persis mencerminkan karakter arsitektur Hongyadong dan seluruh kota Chongqing yang bertingkat-tingkat di atas tebing. Berfoto di samping patung ini terasa seperti mengabadikan esensi kota dalam satu bingkai.

Kemudian, petualangan utama dimulai: menjelajahi gedung 11 lantai ini dari atas ke bawah! Turun melalui tangga dan lorong-lorongnya yang seperti labirin, kami menyusuri setiap lantai yang menawarkan pengalaman berbeda.

Setelah puas, kami akhirnya keluar di lantai dasar (street level)—persis di tepi sungai dan di tengah keramaian yang sangat padat.

Melihat kerumunan yang semakin menjadi, kami memutuskan untuk tidak berlama-lama.

Siluet gedung Hongyadong yang bertingkat-tingkat seperti istana dalam dongeng. Namun, keramaian di sekelilingnya hampir tak tertahankan; jalanan dipadatkan oleh lautan pengunjung yang ingin merasakan suasana tahun baru.

Kami berjalan kaki kembali ke apartemen kami yang nyaman, siap menyambut puncak perayaan dari balkon pribadi.

Tengah Malam: Drone show malam tahun baru 2026
Kembali ke apartemen, rasa lelah mulai datang. Namun, ada sebuah antisipasi manis yang menggantung. Kami membersihkan diri dan bersiap-siap. Malam ini adalah malam tahun baru, dan kami punya keistimewaan: sebuah balkon privat dengan pemandangan langsung ke langit kota Chongqing.

Dari sini, tanpa perlu berdesak-desakan di tengah kerumunan di bawah, kami akan menyaksikan pertunjukan drone spektakuler yang dijanjikan akan menyala tepat pada tengah malam.

Udara malam yang sejuk di balkon, cahaya gemerlap kota di bawah, dan desas-densu perayaan dari kejauhan membangun ekspektasi untuk sebuah akhir tahun yang tak biasa dan sangat memukau.

Hari ini adalah hari transisi yang sempurna: dari ketenangan relatif Chengdu menuju denyut nadi metropolitan Chongqing yang hiper-aktif. Kami telah melewati ujian keramaian pertama dan sekarang telah aman berada di “markas” kami, siap menyambut puncak perayaan dan keajaiban teknologi di langit kota gunung ini. Happy New Year 2026 from Chongqing! 🎉🎉

Hari 8: Menyelesaikan Mosaik Chongqing dari Sisi Lain Sungai
Hari terakhir di Chongqing dimulai dengan misi kuliner yang ditunggu-tunggu, kami memanggil Didi untuk menuju sebuah legenda lokal: Laoma Meat Dumpling Chongqing. Begitu tiba, suasana ramai yang menyambut adalah pertanda baik.

Kedai ini dipadati oleh warga lokal dan turis yang antre untuk sarapan pagi. Kami memesan pangsit (jiaozi) yang disajikan dengan saus pedas khas Sichuan dan semangkuk Mi Xian Mian.

Mi-nya kenyal, kuahnya gurih, dan rasa bumbunya meresap sempurna—sebuah awal hari yang tepat untuk mengisi energi.
“Makan Kereta” di spot seberang sungai Stasiun Liziba: Ikon Futuristik Chongqing
Setelah kenyang, kami melanjutkan petualangan ke atraksi yang hanya ada di Chongqing: “makan kereta”. Kami menuju ke seberang sungai, tepatnya di area dengan view Stasiun Liziba di seberangnya.

Di sini, kami mencari spot terbaik dan sepi untuk menyaksikan dan memotret seolah-olah “melahap” kereta yang sedang lewat.
Hongenshi Park: Oase Hijau dengan Pemandangan Spektakuler
Untuk menyeimbangkan keramaian kota, kami mengunjungi Hongenshi Park. Taman ini adalah sebuah oase hijau yang tenang di tengah hiruk-pikuk Chongqing. Kami menyusuri jalan setapaknya yang teduh hingga mencapai sebuah kuil atau paviliun tradisional di dalamnya.

Dari titik ini, terbentang pemandangan luas kota Chongqing dengan gedung-gedung pencakar langitnya dan Sungai Yangtze di kejauhan. Ini adalah perspektif yang berbeda dan lebih tenang dibandingkan keramaian di Hongyadong.

Santai Siang di Chongqing Xindiandi
Sebagai penutup petualangan kuliner, kami menuju kawasan Chongqing Xindian. Kawasan ini dikenal dengan suasana yang lebih muda dan modern. Kami menemukan sebuah coffee shop yang cozy untuk makan siang.

Di sini, kami menikmati hidangan Barat atau fusion yang ringan, secangkir kopi spesialtas, dan beristirahat sambil merefleksikan perjalanan panjang selama 8 hari.

Suasana santai di kafe ini menjadi transisi yang sempurna sebelum kami harus berkemas dan meninggalkan Chongqing.
Setelah menikmati santai siang di coffee shop kawasan Xindian, petualangan kami di Chongqing belum berakhir. Masih ada satu misi ikonik yang harus diselesaikan dari sudut pandang yang berbeda.
Dekat dengan Raksasa Besi: Foto dari Pelataran Stasiun Liziba
Kami kembali menuju Stasiun Liziba, kali ini bukan untuk melihat dari jauh, melainkan untuk menyaksikan dari dekat. Kami turun di pelataran atau jalan di seberang stasiun, mencari angle terbaik untuk berfoto.

Dari sini, kereta monorel yang melintas terlihat sangat besar dan perkasa. Suara gemuruhnya terasa lebih keras, dan kami bisa melihat dengan jelas bagaimana gerbong kereta itu perlahan menghilang ke dalam “terowongan” yang sebenarnya adalah lobi gedung apartemen setinggi 19 lantai.

Berfoto di sini memberikan perspektif yang sama sekali berbeda dan lebih intim dibandingkan pemandangan lebar dari Taman Binjiang walau dalam suasanya yang sangat ramai turis.
Naik Kereta Melintasi Gedung: Pengalaman Wajib Chongqing
Lalu, kami memutuskan untuk merasakan pengalaman yang sebenarnya: naik kereta monorel tersebut.

Kami naik ke atas stasiun, membeli tiket, dan menunggu di peron. Saat kereta tiba dan pintu terbuka, kami segera masuk dan memilih posisi di jendela.
Sensasinya sungguh unik. Kereta mulai meluncur, meninggalkan stasiun terbuka, lalu tiba-tiba memasuki terowongan yang gelap. Namun, hanya dalam hitungan detik, kami menyadari bahwa ini bukan terowongan biasa. Di sisi kiri dan kanan jendela, terbentang pemandangan interior gedung apartemen! Kami bisa melihat lorong, pintu-pintu unit hunian, dan bahkan tanaman hias di koridor. Selama beberapa detik yang singkat namun tak terlupakan, kami benar-benar merasa seperti “melintas di dalam kehidupan sehari-hari” warga Chongqing. Ini adalah personifikasi sempurna dari kota 3D yang memadukan segala sesuatu secara vertikal.
Turun di Jantung Kota: Malam di Jiefangbei
Kereta terus melaju, dan kami memutuskan untuk turun di stasiun yang dekat dengan Jiefangbei Pedestrian Street. Keluar dari stasiun, kami langsung diserap oleh energi malam hari di jantung Chongqing. Lampu neon dari gedung-gedung pencakar langit, keramaian orang, dan suasana metropolitan yang hidup menjadi penutup sempurna untuk eksplorasi terakhir kami.

Hari ini, kami telah menyaksikan ikon kota ini dari dua sisi yang berbeda: pertama dari kejauhan di Taman Binjiang, lalu dari dekat di pelataran stasiun, dan akhirnya merasakannya langsung dari dalam. Ini adalah cara yang paling lengkap untuk memahami keunikan Chongqing yang tak tertandingi.

Perjalanan 8 hari ini berakhir tepat di kota yang melambangkan masa depan: Chongqing. Di sini, segalanya terasa dramatis—gedung-gedung menjulang dari tebing, kereta melintas di antara apartemen, dan ribuan drone menyala membentuk harapan di langit malam tahun baru.

Chongqing menjadi penutup yang sempurna. Ia mengambil semua elemen perjalanan sebelumnya—keautentikan Guiyang, kedalaman Chengdu, dan kedamaian Emei—lalu menyatukannya dalam sebuah simfoni urban yang energik, vertikal, dan penuh kejutan visual. Dari puncak gunung yang berselimut kabut, kami turun di keajaiban urban masa depan di mana transportasi, arsitektur, dan teknologi menyatu dalam sebuah simfoni visual yang dramatis.

Perjalanan ini bukan hanya tentang mengunjungi tempat-tempat, tetapi tentang merasakan denyut nadi dan jiwa setiap kota, dan yang terpenting, tentang kebersamaan dalam menciptakan cerita yang hanya akan menjadi milik kami.

Perjalanan ini tamat, namun petualangan berikutnya sudah menunggu di sudut peta yang lain.