Menginap di Hutan Borneo: Pengalaman Magis di Ulu Temburong

Perjalanan kami ke Hutan Hujan Borneo dimulai dari Bandar Seri Begawan, ibu kota Brunei Darussalam. Setelah menaiki perahu cepat dari pusat kota, kami menyusuri Sungai Temburong, dikelilingi oleh hutan bakau lebat. Perjalanan sekitar 40 menit itu sudah membawa kami jauh dari keramaian kota, masuk ke dunia alam liar yang masih perawan sampai ke Bangar Jetty Temburong.

Sampai di Ulu Temburong: Gerbang Menuju Rimba

Sesaat setelah tiba di area kedatangan kami sudah ditunggu oleh guide dari Ulu Ulu Resort yang akan mengantarkan kami dengan Mini Bus sampai ke Batang Duri Jetty.

Tiba di Kampung Batang Duri, kami bertemu dengan pemandu lokal yang akan membawa kami lebih dalam ke Taman Nasional Ulu Temburong. Untuk mencapai tempat penginapan di tengah hutan, kami harus naik temuai (perahu tradisional) berukuran panjang sekitar 4 meter, yang bisa ditumpangi oleh 5-6 orang dewasa, melawan arus deras sungai yang dikelilingi batu-batu besar. Rasanya seperti petualangan sungai sejati!

Setelah sekitar hampir satu jam, sampailah kami di jungle lodge sederhana, Ulu Ulu Resort yang terbuat dari kayu, tepat di tepi hutan. Lengkap dengan listrik yang cukup dan….sinyal telepon hilang sama sekali—kami benar-benar terputus dari dunia luar saat itu.

Sesampai kami di Ulu Ulu Resort kami disambut oleh Thomas, guide yang akan menemani aktivitas kami selama 2D/1N disini dan membantu proses check in.

Dan karena tepat hari Jumat, umat Muslim di Brunei wajib beribadah, sehingga semua kegiatan dihentikan pada jam 12 sampai 2 siang.

Menginap di Ulu Ulu Resort adalah perpaduan sempurna antara petualangan alam liar dan kenyamanan modern di tengah hutan Borneo yang masih perawan.

Kamar yang Nyaman & Tempat Bersantai

  • Kamar: Resort menyediakan kabin kayu tradisional yang nyaman dengan tempat tidur berkelambu, kamar mandi bersih (air mengalir), dan balkon kecil menghadap hutan. Meski sederhana, suasana alamnya membuat tidur terasa sangat tenang.
  • Area Bersantai: Ada beranda luas dengan hammock dan kursi santai di tepi sungai, tempat yang sempurna untuk membaca buku atau sekadar menikmati suara alam sambil menyeruput teh lokal.

Makan di Tengah Hutan

  • Sarapan Pagi: Telur dadar, Roti, buah segar, dan kopi panas disajikan setelah aktivitas canopy walk.
  • Makan Siang: Buffet dengan hidangan lokal, dengan cemilan nasi bakar di bungkus daun (lemper).
  • Makan Malam:  juga buffet dengan hidangan lokal dan international lengkap dengan daging, sayuran dan buah ditemani suara jangkrik dan gemericik air.

Aktivitas Seru di Resort

1. Floating di Sungai (Tubing)

  • Mengapung dengan ban pelampung menyusuri Sungai Temburong yang jernih, melewati tebing batu dan hutan lebat. Airnya sejuk dan kadang ada ikan kecil yang berenang di samping kita!

2. Kayaking di Sungai

Menjelajahi sungai dengan kayak, menyusuri bagian yang tenang sambil mengamati burung-burung seperti kingfisher atau raptor yang bertengger di dahan pohon.

Pemandu lokal kami yang telah tahunan mengenal sungai ini, membantu kami memilih kayak yang sesuai. “Air hari ini tenang, tapi tetap waspada di belokan,” katanya sambil menunjuk ke arah hilir. Kami diberi dayung, dan briefing singkat tentang teknik mendayung dasar—termasuk cara menghindari batu-batu besar dan arus kecil yang bisa membelokkan kayak secara tiba-tiba.

3. Night Jungle Walk

Trekking dengan pemandu setelah gelap menggunakan lampu kepala.

Hanya berjarak kurang dari dua meter dari kami, seekor ular hijau ramping dengan kepala segitiga khas sedang melingkar di dahan rendah. Tubuhnya yang sempit dan panjang (sekitar 1,5 meter) menyatu sempurna dengan dedaunan.“Ini Bornean Keeled Pit Viper (Trimeresurus borneensis),” bisik guide kami. “Bisa nya sangat berbahaya, tapi dia tidak akan menyerang kecuali terancam.”

4. Sunrise dari Canopy Walkway

Bangun sebelum subuh, naik ke menara canopy setinggi 50 meter.

Jam 4:30 pagi, alarm berbunyi di kabin kayu kami di Ulu Ulu Resort. Udara masih gelap pekat, hanya diterangi suara jangkrik malam dan desiran sungai di kejauhan. Dengan mata yang masih berat, kami bersiap untuk petualangan paling magis di Borneo: trekking subuh menuju canopy walkway untuk menyaksikan matahari terbit dari puncak hutan hujan tertua di dunia.

Jam 5:15 pagi kami memulai Trekking. Trail menuju Canopy Walk tidak terlalu sulit namun butuh kehati-hatian dan membawa senter.

Sun Rise bisa dilihat pada jam 6:30 – 7:00 (waktu Brunei). Tepat jam 6 kami sudah tiba di bagian bawah Canopy Walk dan siap untuk memanjat ke bagian paling atas Canopy Walkway. Semangat !!

Setelah 40 menit trekking, kami tiba di dasar menara canopy walkway—sebuah struktur besi setinggi 50 meter (setara gedung 15 lantai) yang menjulang di antara pohon-pohon raksasa. Di kegelapan, tangga vertikalnya terlihat seperti jalan ke langit.

Dari atas, matahari terbit perlahan menerobos kabut hutan, menyinari puncak-puncak pohon. Pemandangan epik! Kadang ada kawanan hornbill yang terbang melintas.

“Di Borneo, matahari terbit bukan hanya soal cahaya—tapi tentang melihat bumi bangun dari tidurnya”.

5. Exploring hutan borneo

Setelah sarapan, pemandu kami, mengajak kami pada ekspedisi singkat. Ada tempat spesial hanya 5 menit dari sini. Kita bisa lihat kolam alami dengan ikan-ikan ajaib.

Kami menaiki sampan tradisional berbahan kayu. Sungai di pagi hari tenang seperti kaca, mencerminkan langit biru dan dahan-dahan pohon terapung di tepian.

Tiba-tiba, pemandangan terbuka. Sebuah mata air jernih kebiruan muncul di tengah hutan, dikelilingi batu-batu besar berlapis lumut. Yang membuatnya ajaib:

Puluhan ikan kecil berenang melingkar, tubuh mereka transparan sehingga tulang belulang terlihat!
“Ini Glass Catfish spesies endemik,” jelas guide kami. “Mereka hanya hidup di air sejernih ini.”

Kami duduk di batu datar dan memasukkan kaki ke air dan Ikan-ikan kecil langsung mendekat, menggit-gigit kulit kaki dengan lembut (fish spa alami!)

Dan hari itu, kami telah menjadi tamu istimewa di salah satu ruang rahasia terindah Borneo.

Setelah mengemas barang-barang dan mengucapkan selamat tinggal pada Thomas, guide kami dan staf resort yang ramah, kami pun menaiki perahu yang akan membawa kami kembali ke Bandar Seri Begawan. Perjalanan menyusuri Sungai Temburong kali ini terasa berbeda—pandangan kami sudah lebih peka terhadap detail alam setelah dua hari hidup di tengah hutan.

Sambil menyantap nasi katok (makanan cepat saji khas Brunei), kami menggambarkan betapa gelapnya hutan saat night walk, dan bagaimana rasanya mendengar suara burung enggang dari jarak dekat.

Setelah petualangan di hutan, kota terasa… lain. Suara klakson mobil dan bau knalpot terasa asing setelah terbiasa dengan gemericik sungai dan kicauan burung. Saat melewati Masjid Omar Ali Saifuddien, kami malah teringat pada “katedral alam” dari pepohonan raksasa di Ulu Temburong.

Dan saat malam tiba, sambil berbaring di kamar hotel yang nyaman, kami masih bisa mendengar gemuruh sungai dan suara jangkik hutan dalam ingatan—seakan alam Borneo tidak mau sepenuhnya melepas kami kembali ke dunia modern.

“Kota ini tempat kami pulang, tapi hutan telah menjadi rumah.” 

Tinggalkan komentar