Perjalanan Kami ke Kawah Ijen dan Bromo
Hari itu, kami tiba di Bandara Surabaya dengan semangat petualangan menggebu. Setelah mengambil bagasi, sopir yang sudah menunggu dengan ramah menyambut kami.

Perjalanan darat menuju hotel dimulai, melewati pemandangan khas Jawa Timur yang hijau dan berkelok-kelok.
Udara mulai sepi ketika mobil yang membawa kami dari Surabaya akhirnya sampai di Kampoeng Joglo Ijen. Suhu langsung terasa lebih dingin, mengingatkan bahwa kami sudah berada di ketinggian, tak jauh dari gunung yang akan kami datangi nanti. Sampai di penginapan saat matahari sudah mulai sore, kami langsung beristirahat, menyiapkan tenaga untuk pendakian tengah malam nanti.
Kampoeng Joglo Ijen adalah sebuah homestay berbentuk joglo-joglo tradisional dengan sentuhan rustic. Kayu-kayu tua dan anyaman bambu mendominasi, memberi kesan autentik.
Menuju Kawah Ijen di Kegelapan Malam
Tengah malam, sopir kami sudah menunggu lagi. Kami diantar ke Pos Pendakian Ijen, di sana seorang guide lokal yang ramah siap memandu kami.

Udara dingin menusuk, tapi semangat kami tak surut. Dengan lampu kepala menyala, kami mulai mendaki jalur berbatu, melewati tanjakan yang cukup menantang.
Sesampainya di puncak, kami turun menuju Blue Fire, sihir biru dari api belerang yang hanya ada di dua tempat di dunia. Dengan hati-hati, kami turun ke dasar kawah melewati tebing terjal dengan tali tambang sebagai pegangan. Batu-batu licin dan asap belerang yang sesekali mengepul membuat langkah harus ekstra pelan.
Lalu… terlihatlah ia.
Blue Fire—nyala api biru elektrik yang hanya muncul dalam kegelapan. Seperti lautan api biru yang menari-nari di antara retakan batu. Sulfur cair mengalir seperti lava kuning, mengkristal jadi belerang saat terkena udara.

Di kegelapan, asap belerang terkadang menerpa, membuat napas sesak, tapi pemandangan biru yang menari-nari di dasar kawah membuat semua usaha terbayar. Kami bertemu dengan para penambang belerang, pria-pria tangguh yang mengangkut belerang dengan keranjang di punggungnya. Mereka bekerja dalam kondisi berat, membuat kami kagum sekaligus prihatin.

Saat fajar mendekat, angin kencang mulai bertiup, membawa kabut dan asap belerang ke arah kami. Kami bergegas naik kembali ke puncak.

Sunrise dan Kabut yang Menari
Saat fajar mulai merekah, kami kembali ke puncak untuk menikmati sunrise.

Dari atas, pemandangan spektakuler terhampar:
- Danau asam terbesar di dunia berwarna hijau toska, dikelilingi dinding kawah kuning belerang.
- Kabut bergulung-gulung seperti kapas, sesekali menutupi seluruh pemandangan.
- Sinar jingga matahari pagi menyapu langit, kontras dengan sisa blue fire yang masih samar.

Kabut tipis kadang menutupi pemandangan, tapi justru menambah kesan mistis. Dari atas, danau asam kawah Ijen terlihat memesona dengan warna turquoise-nya, kontras dengan lereng gunung yang gersang.

Setelah puas di atas, dalam perjalanan turun, kami mampir di sebuah warung kopi. Satu cup Popmie kuah hangat terasa begitu nikmat setelah berjam-jam berjuang di gunung. Ah, makanan sederhana selalu terasa istimewa saat dimakan di alam!
Kaki sudah gemetar, tapi semangat masih membara.

Jalur turun lebih terang, memperlihatkan hamparan savana dan hutan edelweis yang tadi tak terlihat.
Inilah Ijen.
Tempat di mana keindahan dan kekerasan alam berdampingan.
Di mana keringat kami bercampur dengan asap belerang, dan kenangan tercipta di antara kabut yang tak pernah sama dari hari ke hari.

Perjalanan Berlanjut ke Bromo
Sopir setia kami sudah menunggu. Begitu turun dari Ijen, kembali ke hotel untuk check out, dan kami melanjutkan perjalanan menuju Bromo.

Rasa lelah terbayar dengan bayangan petualangan baru yang menanti: hamparan lautan pasir, kawah yang menggelegak, dan sunrise legendaris di Penanjakan.
(Dan besok… Bromo menanti!)