Bromo: Menari di Bibir Neraka, Beristirahat di Pelukan Savana

Menginap di Bromo

27-28 September 2017

Sampai di Bromo:
Setelah perjalanan panjang dari Ijen, mobil kami akhirnya tiba di kawasan Bromo menjelang pukul 7 malam. Udara di sini lebih lembap, tapi dinginnya tetap menusuk. Hotel Lava Lodge Bromo, penginapan bergaya ala lodge kayu dengan nuansa hangat, langsung menyambut kami dengan teh jahe panas. Kamar kami sederhana—kasur tebal, selimut wol, dan jendela kayu yang menggigil diterpa angin malam.

Subuh di Penanjakan: Menari dengan Kabut dan Cahaya
Pukul 3 pagi, alarm berbunyi. Kami dibangunkan oleh deru jeep tua yang sudah menunggu di luar.

Perjalanan menuju Penanjakan dimulai. Jalanan gelap, berliku, dan cukup ramai antrian jeep di jalan menuju tempat yang sama. Sesampainya di titik sunrise, kami harus berjalan kaki menaiki anak tangga menuju sunrise point. Udaranya cukup dingin saat itu.

Tapi… semua terbayar.

Sunrise Bromo perlahan membuka tabirnya:

  • Gunung Batok dan Semeru muncul seperti siluet raksasa di kejauhan.
  • Lembaran kabut emas tersapu sinar jingga matahari pagi.
  • Kawah Bromo mengeluarkan asap putih, seolah hidup dan bernapas.

Menunggang Kuda ke Bibir Kawah: Adrenalin dan Degup Jantung
Usai sunrise, kami turun ke Lautan Pasir. Di sini, puluhan kuda tunggangan siap mengantar pengunjung ke kawah. Penunggang kuda lokal, seorang bapak dengan topi belangkon, menawarkan:
“Naik kuda saja, jalannya jauh dan berdebu!”

Kami setuju. Kuda betina berwarna cokelat itu membawa kami melintasi hamparan pasir vulkanik yang seperti permukaan bulan. Debu halus menerbangkan jaket, masuk ke kerah baju.

Sampai di tangga menuju kawah (253 anak tangga), kami turun dari kuda dan melanjutkan dengan berjalan. Tapi… bagian terseram justru di bibir kawah.

Di Atas Neraka Bromo
Tidak ada pagar pengaman. Hanya tebing sempit selebar 1 meter yang memisahkan kami dari jurang dalam. Suara gemuruh kawah menggetarkan tanah, kadang disertai letupan asap belerang yang membuat mata perih.

Dari celah bebatuan, kami melihat kawah aktif berwarna kuning belerang, mendidih seperti sup setan. Bau sulfur menusuk, tapi rasa takjub mengalahkan segalanya.

Turun dari Kawah Bromo ke Savana Teletubbies: Jejak Debu dan Kelembutan Bukit

Kami mulai meninggalkan bibir kawah Bromo. Kaki masih gemetar, bau belerang masih menempel di jaket, tapi langkah kami terasa lebih ringan.

Melintasi Lautan Pasir Kembali
Kami kembali menunggang kuda melewati Lautan Pasir (Segara Wedi). Kali ini, matahari sudah tinggi, menyinari debu vulkanik yang keemasan. Setiap langkah kuda menendang awan pasir halus, membentuk kabut cokelat yang menari di udara.

Di kejauhan, Gunung Batok berdiri gagah dengan lerengnya yang gundul, seperti penjaga bisu bagi Bromo yang masih aktif.

Naik Jeep: Dari Kegelapan ke Cahaya
Setiba di ujung Lautan Pasir, jeep tua kami sudah siap. Rute menuju Savana Teletubbies harus melewati jalur berliku di lereng bukit. Jeep melaju kencang, menerobos semak belukar dan jalan tanah berbatu. Di sisi kiri, jurang dalam terlihat menganga, benar saja, badan kami terlempar ke atas bangku setiap jeep melintasi lubang atau batu besar. Tapi justru di situ letak serunya—petualangan sejati ala Bromo.

Pergantian Alam yang Dramatis
Tiba-tiba, pemandangan berubah drastis. Hamparan pasir hitam berganti dengan bukit hijau bergelombang yang lembut bagai permadani sutra.

Memasuki Surga Hijau
Sekilas, kami seperti masuk ke dunia lain:

  • Rumput hijau keperakan tertiup angin, berkilauan diterpa matahari pagi.
  • Bukit-bukit rendah yang landai, mirip latar film fantasi.
  • Bunga-bunga liar berwarna ungu dan kuning tumbuh di antara ilalang.

Duduk di Puncak Bukit: Ketika Waktu Berhenti

Kami memilih bukit paling sepi, duduk di atas rumput yang masih basah oleh embun. Dari sini, pemandangan 360 derajat membius mata:

  • Gunung Bromo di belakang, masih mengeluarkan asap tipis.
  • Padang savana yang bergelombang sampai ke ujung cakrawala.
  • Langit biru yang bersih, hanya dihiasi beberapa helai awan cirrus.

Savana Teletubbies bukan sekadar lokasi foto.
Ia adalah penawar setelah ketegangan di bibir kawah.

Kami berfoto sampai puas, tertawa lepas, sambil menikmati kelapa muda yang dijual warga. Rasanya seperti pesta kecil setelah petualangan ekstrem tadi pagi.

Kami turun dari bukit dengan berat hati. Jeep kembali mengguncang, kali ini menuju kaki Bromo. Tapi itu cerita lain—kali ini, Savana Teletubbies sudah merajut kenangannya sendiri.

Kembali ke Lava Lodge: Mandi Debu dan Kenangan yang Melekat
Pukul 12 siang, kami tiba kembali di hotel. Pasir vulkanik menyelip di sepatu, rambut, bahkan saku jaket. Air mandi hangat di Lava Lodge terasa seperti anugerah.

Sebelum check out, kami sempatkan duduk di teras belakang hotel sambil menyeruput kopi Jawa panas. Pandangan mengarah ke Gunung Bromo yang masih mengeluarkan asap.

“Nggak nyangka ya, tadi pagi kita ada di atas sana,” gumamku, melihat foto bibir kawah yang nyaris tanpa batas.

Bromo telah memberi kami segalanya:

  • Degup jantung di tepi jurang.
  • Tawa riang di hamparan savana.
  • Keheningan yang menyadarkan betapa kecilnya manusia di hadapan alam.

Dan siangnya, perjalanan kami berlanjut…ke kota Malang.

— Bromo bukan cuma sunrise. Ia adalah cerita tentang berani menghadapi gemuruh, lalu menemukan kedamaian di balik bukit-bukit yang bergulung.

Satu respons untuk “Bromo: Menari di Bibir Neraka, Beristirahat di Pelukan Savana

Tinggalkan komentar