Catatan dari Chiang Mai: Kuil, Kari, dan Kopi dalam 3 Hari

Hari Pertama: Aroma Khao Soi, Kemilau Emas Kuil, & Api Naga di Cangkir Kopi

Pesawat menyentuh landasan Bandara Internasional Chiang Mai tepat pukul sepuluh pagi. Udara hangat nan lembap menyambut begitu kami melangkah keluar, kontras sekali dengan AC dingin kabin. Tanpa berlama-lama, kami langsung menuju Grab Pick Up Point dekat Exit 1. Hanya beberapa sentuh di aplikasi, dan dalam sekejap, mobil Grab sudah meluncur membawa kami menuju Hotel Novotel di jantung kota. Pemandangan luar jendela mulai berganti dari bandara modern menuju jalanan yang semakin ramai dengan nuansa Thailand Utara.

Check-in berjalan mulus. Tas belum sempat dibongkar, perut sudah mulai menggerutu protes. Target jelas: Khao Soi Maesai, legenda kuliner Chiang Mai! Tak perlu waktu lama, kami sudah duduk di bangku kayu sederhana warung yang terkenal itu. Semangkuk Khao Soi sapi nan harum segera menghadang. Kuah kari santan kental yang gurih, ditaburi mie goreng renyah, potongan sapi lembut, dan sedikit acar – kombinasi sempurna yang meledak di lidah. Rasanya seperti penyambutan resmi dari Chiang Mai: hangat, kaya rasa, dan benar-benar memuaskan lapar perjalanan.

Usai menghabiskan mangkuk hingga bersih, mata tertuju ke toko buah kecil persis di seberang jalan. Tampak durian Monthong segar menggiurkan. “Kenapa tidak?” pikir kami. Kami membeli beberapa bungkus, duduk di kursi plastik sederhana, dan mulai mencicipi sang ‘Raja Buah’. Dagingnya tebal, kuning mentega, teksturnya lembut seperti krim, manis legit dengan sentuhan pahit khas yang seimbang. Sensasi makan durian segar di pinggir jalan sambil melihat pemandangan warung makan Khao Soi yang makin ramai antriannya di seberang.

Dengan energi baru (dan sedikit rasa mengantuk dari durian!), perjalanan budaya dimulai. Tujuan pertama: Wat Phra Singh. Begitu melangkah masuk kompleks kuil, suasana berubah. Suara klakson dan keramaian kota mereda, digantikan oleh dentang lonceng kecil dan gemerisik daun.

Vihara utama, dengan atap berlapis dan ukiran rumit khas Lanna, berdiri megah. Patung Buddha Phra Singh yang tenang di dalamnya memancarkan aura kedamaian. Kami berjalan pelan, mengagumi detail emas dan mural indah di dinding, hati terasa lebih hening.

Dari Wat Phra Singh, kaki kami melangkah menyusuri jalan-jalan kuno Old City menuju Wat Chedi Luang. Jalan kaki di sini sendiri adalah petualangan. Kami melewati lorong-lorong sempit, berpapasan dengan biksu berjubah safron, dan sesekali mampir ke kuil-kuil kecil (wat) yang tersembunyi di sudut-sudut jalan. Masing-masing punya karakter unik, lebih sepi, namun tak kalah memesona dengan ornamen dan patung-patungnya. Toko-toko suvenir berjejeran juga menggoda: kain sutra warna-warni, patung kayu ukir, perhiasan perak, dan segudang oleh-oleh khas. Sesekali kami berhenti, mengamati, dan membeli beberapa buah gantungan kunci kecil dan minuman Thai Milk Tea di pinggir jalan.

Sampailah kami di Wat Chedi Luang. Candi utama yang rusak sebagian itu tetap gagah perkasa. Tingginya yang menjulang dan batu-batu tua yang penuh sejarah membuat kami tertegun. Kami duduk sebentar di bawah pohon rindang di pelataran kuil, menyerap ketenangan dan membayangkan kemegahannya di masa lalu. Sore mulai menjelang, bayangan candi memanjang, menciptakan siluet yang dramatis.

Perut kembali memberi sinyal. Jam sudah menunjukkan pukul empat. Tujuan berikutnya: Neng Clay Oven Roasted Pork. Warungnya sederhana, tapi aromanya… wah, menggoda sekali!

Pesanan utama: Babi panggang oven tanah liat. Sajiannya datang dengan daging yang luar biasa lembut, kulit yang renyah sempurna seperti kerupuk, dan sedikit lemak yang meleleh di mulut. Disantap dengan nasi hangat dan sambal khas, rasanya gurih, manis, asin, berpadu dalam harmoni. Kenyang yang sangat memuaskan setelah berjalan jauh.

Tapi perjalanan belum berakhir. Untuk mengusir sisa-sisa lelah (dan mungkin sedikit rasa mengantuk lagi), kami menuju Roast8ry Lab di kawasan yang lebih modern. Suasana kafe-nya chic dan berenergi. Mata langsung tertuju pada menu latte art mereka yang spektakuler. Tanpa pikir panjang, kami memesan si Fire Dragon dan Mocha Shake dengan kemasan kaleng yang unik! Tak lama, secangkir kopi datang. Di atas buih susu yang halus, tergambar naga berapi dengan detail menakjubkan seolah hidup di cangkir. Rasanya? Kopinya kuat dan berkualitas, tapi seni di atasnya benar-benar membuat kami terpana dan lupa mengangkat ponsel untuk berfoto sejenak.

Dengan semangat yang sedikit terisi ulang oleh kafein dan keindahan naga api, kami berjalan kaki melewati kawasan One Nimman, menuju Maya Shopping Center. Tujuan utama: berburu obat-obatan herbal Thailand yang terkenal itu!.

Langkah kaki mulai terasa berat ketika akhirnya kami berjalan kembali menuju hotel. Senja telah berubah menjadi malam di Chiang Mai. Badan pegal, tapi hati penuh dengan kesan mendalam: dari kenikmatan Khao Soi dan durian, keheningan Wat Phra Singh, kemegahan Wat Chedi Luang, kelezatan babi panggang, keajaiban latte art naga api, hingga belanja herbal di Maya. Hari pertama yang padat, lelah, tapi sungguh-sungguh sempurna menyelami awal petualangan di Negeri Seribu Kuil ini. Tidur malam itu terasa nyenyak, sambil membayangkan apa lagi yang menanti esok hari.

Hari Kedua: Road Trip ke Chiang Rai

Hari ini kami menyewa mobil (lebih fleksibel!) untuk perjalanan ke Chiang Rai (sekitar 3 jam perjalanan-one way).

Pukul 08.00 pagi, sopir kami, Mr. Noi sudah sampai di depan Novotel. Kami langsung meluncur untuk sarapan di Kiat O Cha.

Nasi Hainan dengan ayam rebus, ayam dan daging babi crispy wajib di pesan dan memang rasanya mantap! Tidak lupa pesan juga sate babi yang empuk dengan saus kacang dan acar bawang cabainya, benar-benar membuat pagi kami sempurna!

Perjalanan ke utara dihiasi pemandangan bukit hijau dan hutan taman nasional, dan kami sempat berhenti di rest area hot spring di tengah perjalanan,

White Temple (Wat Rong Khun): Sungguh surreal! Seluruh bangunan berwarna putih berkilau dengan ornamen unik yang seperti dari dunia dongeng. Berbeda dengan kuil Thailand kebanyakan, White Temple adalah karya seni kontemporer dari seorang seniman Thailand, Chalermchai Kositpipat, yang sengaja dibuat provokatif.

Seluruh struktur dilapisi gips putih dan kaca mosaik yang memantulkan cahaya, melambangkan kemurnian Buddha. Warna putih juga simbol kebebasan dari nafsu duniawi.

Jembatan “Samsara”: Sebelum masuk kuil, pengunjung melewati jembatan yang dikelilingi ratusan tangan yang menjulur dari “neraka” (simbol nafsu dan penderitaan). Ini menggambarkan perjalanan manusia menuju pencerahan.

“White Temple bukan sekadar destinasi—ia adalah manifestasi imajinasi, iman, dan perlawanan seorang seniman.”

Blue Temple (Wat Rong Suea Ten): Terletak sekitar 15 menit dari White Temple.

Kuil ini dibangun di atas bekas kuil tua yang terbengkalai selama lebih dari 100 tahun. Pada 2005, sekelompok penduduk setempat memutuskan untuk merestorasi situs ini dan mengundang seniman lokal bernama Putha Kabkaew—seorang murid dari Chalermchai Kositpipat (pencipta White Temple)—untuk mendesainnya. Warna Biru Elektrik: Biru cerah yang mendominasi kuil melambangkan kebijaksanaan, ketenangan, dan kemurnian spiritual dalam ajaran Buddha.

Warna ini juga terinspirasi dari Buddha biru (Medicine Buddha) yang melambangkan penyembuhan. Patung Buddha Putih Raksasa: Di dalam aula utama, terdapat patung Buddha duduk setinggi 9 meter dengan latar belakang biru dan emas yang memancarkan aura damai. Ukiran Naga & Motif Emas: Detail naga di tangga dan ornamen emas di atap melambangkan kekuatan dan perlindungan ilahi. Blue Temple bukan sekadar tempat wisata, melainkan juga pusat meditasi dan pembelajaran Buddha. Warna birunya yang menenangkan dirancang untuk menciptakan suasana kontemplatif bagi pengunjung.

“Blue Temple adalah perpaduan sempurna antara seni modern dan spiritualitas—seperti langit biru yang menyentuh bumi.”

Setelah puas terkagum-kagum di Blue Temple, kami hanya perlu 10 menit berkendara untuk tiba di Chivit Thamma Da Coffee House, Bistro&Bar, sebuah kompleks resto, cafe dan bar estetik di tepi Sungai Kok yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon tropis. Bangunan utama bergaya kolonial Prancis dicat putih, dikelilingi taman bunga dan gazebo kayu.

Meja kami persis di bibir sungai, di bawah payung raksasa. 

Suasananya “separuh Eropa, separuh Thailand”, romantis tapi santai!  

Baan Daam (Black House): Baan Daam (บ้านดำ) atau “Black House” adalah kompleks seni kontroversial yang dibangun oleh Thawan Duchanee (1939–2014), seniman Thailand ternama yang dijuluki “Pelukis Neraka”.

Berbeda dengan White Temple yang memancarkan kemurnian, Baan Daam justru mengeksplorasi sisi gelap, misterius, dan paradoks kehidupan. Tempat ini bisa di bilang sebagai galeri seni kontemporer dengan nuansa gelap dan misterius. Koleksi seni dari tulang & kulit hewan bikin merinding tapi menarik!

Meskipun kontroversial, Baan Daam diakui sebagai salah satu mahakarya seni kontemporer Thailand. Thawan ingin pengunjung merenung:
“Di balik keindahan, ada kegelapan; di balik kematian, ada kelahiran kembali.”

Perjalanan pulang ke Chiang Mai lancar, meski sempat hujan rintik-rintik di perjalanan. Malamnya, sesampai di Chiang Mai, kami makan malam di Chang Phuak Night Market.

Dan sebelum pulang ke hotel, kami mencoba Thai massage—sempurna untuk melepas lelah!

Hari Ketiga: Sarapan Legendaris & Eksplorasi Terakhir

Pukul 08.30, kami meluncur dari Novotel menuju Lim Lao Ngow di Jalan Intrawarorot—warung legendaris pemegang Bib Gourmand Michelin sejak 2018 . Suasana pagi di kawasan Old City sudah ramai pedagang pasar, tapi aroma kaldu ikan dari dapur terbuka restoran langsung menyergap hidung. “Ini bukan sekadar sarapan, tapi ritual para penikmat mie!

Wat Umong: Kuil unik dengan terowongan kuno dan suasana hutan yang damai.

Pukul 10 pagi, kami tiba di Wat Umong, setelah sarapan Michelin. Suasana langsung berubah drastis: dari keramaian kota, masuk ke hutan sejuk yang sunyi, hanya terdengar kicau burung dan gemerisik daun.

Petualangan di Terowongan Kuno (Abad ke-14!) Terdapat labirin terowongan bawah tanah, suasana yang gelap dan lembap, dengan langit-langit rendah.  

Di persimpangan lorong, ada ceruk altar berisi patung Buddha duduk—suasananya mistis!  

Sebelum kembali dan check out hotel, kami mampir ke Fern Forest Cafe, oasis hijau tersembunyi di tengah kota! Rumah kolonial tua dikelilingi pohon yang bikin suasana teduh sambil menikmati double espresso mixed passion fruit.

Setelah late check out dari hotel di jam 3 sore, dan seharian menjelajah kuil, belanja oleh-oleh, kami putuskan untuk jalan-jalan sebentar di Mall Maya dekat hotel, dan naik ke Nimman Hill—rooftop tersembunyi dalam mall ini.

Pemandangan 360° Dari sini, seluruh distrik Nimman terhampar—deretan kafe aesthetic, bukit-bukit di kejauhan, dan padatnya lalu lintas Chiang Mai dapat terlihat dari sini.

Jam 5 sore, kami menuju bandara dengan hati senang tapi sedikit berat karena harus meninggalkan Chiang Mai yang begitu mempesona.

Selama perjalanan di Chiang Mai, Grab menjadi pilihan transportasi yang sangat memuaskan. Aplikasi ini benar-benar memudahkan mobilitas kami dengan waktu tunggu yang singkat—rata-rata hanya 3-5 menit. Kami juga menghemat waktu karena tidak perlu tawar-menawar. Fitur cashless payment dengan kartu kredit semakin mempermudah transaksi. Secara keseluruhan, pengalaman menggunakan Grab di Chiang Mai sangatlah positif—efisien, nyaman, dan bebas stres. 9/10, highly recommended!

“Grab di Chiang Mai itu lifesaver! Gak perlu riba tawar-menawar, gak khawatir kesasar, dan selalu ada saat dibutuhkan. Rating: ⭐⭐⭐⭐⭐!”

Chiang Mai Airport:

Setelah melewati imigrasi di Bandara Chiang Mai, hampir tidak ada pilihan makanan. Area transit/departure sangat terbatas, hanya menyediakan Burger King dan 2 Coffee shop dengan harga “airport”. Tidak ada restoran lokal atau makanan Thailand yang terjangkau—hanya snack kemasan di minimarket kecil dengan pilihan minim.

Tips :

  • Hotel : Novotel Chiangmai Nimman Journeyhub, 7, 77 หมู่ที่ 2 Huay Kaew Rd, Chang Phueak, Mueang Chiang Mai District, Chiang Mai 50300, Thailand
  • Sopir Chiang Mai ke Chiang Rai (day trip) – Mr. Suchart (+66 62 559 7997)

Tinggalkan komentar